
17
Gero terus mengenggam tangan Kena dan gak melepaskannya meskipun mereka sudah berjalan cukup lama. Dia sendiri gak yakin akan membawa Kena kemana, jadi mereka hanya berjalan tanpa arah tujuan. Kena juga hanya mengikuti Gero, baginya kemanapun itu gak masalah asal dia bisa menjauh dari Rio. Sementara waktu ini lebih baik dia gak pulang ke rumah. Tunggu keadaan sedikit lebih tenang, dia akan membicarakannya lagi dengan kakaknya yang merepotkan itu. Berharap saja masalah ini selesai sebelum orang tua mereka kembali.
“Kak Gero,” panggil Kena seraya menghentikan langkahnya, membuat Gero juga ikut berhenti. “Aku baik-baik saja,” kata Kena.
Gero menyerngit, “Lo yakin?” tanyanya khawatir.
Kena mengangguk pelan, “Makasih buat yang tadi, aku bakal traktir kakak lain kali.”
“Gue masih merasa pengen balik lagi dan nonjok dia sekarang,” kesal Gero. “Lo beneran gak apa-apa?” ulangnya memastikan.
Mana mungkin perasaan Kena gak berubah setelah pernyataan itu. Saat ini pun dia sedang meyakinkan dirinya kalau Rio mungkin gak serius dengan ucapannya. Namun, mencoba lari dari realita bukan hal baik. Dia sudah mengenal satu orang yang melakukan hal itu. Dan orang itu baru saja pulang dari perawatannya. Mereka berencana untuk bertemu pagi ini. Itulah kenapa Kena sudah bersiap sejak pagi. Berkat Rio, dia terpaksa menundanya. Tapi berangkat sekarang juga gak terlambat.
“Aku gak apa,” jawab Kena meyakinkan Gero. “Tapi kenapa kak Gero bisa ada disana?”
“Tadinya gue mau ajak lo jalan, dan nanyain jawaban lo ke gue. Kayaknya waktunya gak tepat,” terang Gero.
Miris juga buat mengakui kalau dia harus menunda perasaannya terhadap Kena karena insiden ini. Dia pasti bakal membuat perhitungan yang jelas ke Rio. Sekalipun Gero gak mungkin membenci sohibnya itu.
Gero tahu kalau hubungan antara Rio dan Kena secara hukum adalah saudara tiri, mereka gak terikat hubungan darah. Selain masalah moralitas, gak ada larangan bagi mereka buat menjalin hubungan percintaan. Lagipula siapa yang bisa memprediksi perihal cinta? Gero jelas gak bisa menyalahkan Rio sepenuhnya.
“Sekarang lo mau kemana? Gue temenin lo,” kata Gero menawarkan diri buat nemenin Kena.
Kena menggeleng, “Lebih baik kak Gero balik ke kak Rio. Kalian berteman udah lama, kuharap kalian gak berantem karena ini. Gimanapun dia tetap kakakku,”
Gero menghela napas, “Si brengsek itu kenapa bisa punya adik sebaik lo,” eluhnya menyayangkan sikap dingin Rio yang selalu gak menganggap Kena sebagai adik, “Gue balik ke Rio, setelah anterin lo,”
“Gak usah kak, aku bakal telpon temenku. Terus nginep di tempatnya sementara waktu. Kak Gero bantu aku ngomong ke kak Rio ya, “ pinta Kena.
“Segera telpon gue kalo lo butuh sesuatu,” kata Gero akhirnya.
Dia ingin mengusulkan untuk menemani Kena sampai temennya itu datang menjemput. Tapi Kena kelihatannya ingin sendirian, jadi Gero gak mau memaksakan niatannya. Setelah memeluk Kena sejenak, Gero pamit pergi. Dengan berat hati dia melepaskan genggaman tangannya dari Kena. Sekali dia menoleh ke belakang buat memastikan Kena masih disana. Tindakannya sudah kayak seorang ayah yang melepas kepergian anak perempuannya. Sekarang sang ayah ini harus kembali ke tempat sang anak laki-laki yang bermasalah.
__ADS_1
“Hahh, gue bakal cepet tua kalo kayak gini,” eluhnya dengan helaan berat.
Biarpun begitu dia tetap melangkahkan kakinya ke rumah Rio. Dan perihal Valeia yang juga ada disana, lebih baik dia gak mengatakannya lebih dulu ke Kena atau Rio. Tunggu keadaan tenang, baru nanti dia akan memikirkan cara untuk membahasnya ke mereka. Dia juga harus ngobrol dengan Valeia lebih dulu. Gero mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“Gue beneran bakal jadi tua,” rutuknya ke diri sendiri.
# # # #
18
Bagaimana dengan Valeia?
Setelah mendengar pernyataan cinta Rio ke Kena, perasaannya campur aduk. Segala hal tentang memperbaiki hubungannya dengan sang calon adik ipar hilang sudah. Memperbaiki apanya? Bisa jadi sang calon adik ipar itu malah berubah menjadi saingan cintanya. Dia dan Rio memang ditunangkan atas nama keluarga, tapi mereka belum melakukan acara pertunangan secara resmi. Gak ada larangan bagi Rio untuk jatuh cinta dengan cewek lain.
“Tapi kenapa harus Kena?”
Rio jatuh cinta pada Kena, lalu apa Kena juga jatuh cinta padanya?
Mengingat pembicaraan mereka yang terakhir, sepertinya enggak. Ini adalah cinta sepihak.
Valeia memejamkan matanya, terlalu banyak informasi dan kenyataan yang harus dia cerna di otaknya. Dia gak pernah menduga hal seperti ini bisa terjadi. Lain cerita kalau yang Rio cintai adalah orang lain. Valeia cukup yakin bisa mengusir orang-orang itu dengan kemampuannya seperti selama ini. Tapi sekarang apapun yang dia lakukan nanti akan mempengaruhi hubungan di antara mereka bertiga.
“Hahh, bisakah aku membencimu?” guman Valeia seraya membayangkan Rio. Dia lalu membuka matanya, “Atau aku harus membenci Kena?” lirihnya.
Dia menghela berat, “Rasanya aku sudah bertambah tua sekarang,”
# #
__ADS_1
Sepeninggalnya Gero, ponsel Kena langsung berdering. Lekas dia mengangkatnya, Kena sudah gak sabar untuk protes ke orang yang menelponnya itu. Orang itu baru saja pulang dan sudah berani membuatnya berada dalam masalah. Dia gak menyalahkannya terkait pernyataan cinta Rio, melainkan tentang informasi yang Rio dapat tempo hari. Darimana informasi itu berasal sudah bisa dipastikan.
“Kau dimana? Ini sudah lewat dari waktu janjian kita. Kau gak ingin menyambutku pulang?” tanya suara dari sini lain panggilan. Suara seorang cowok.
“Dia menembakku,” kata Kena langsung.
“Kak Gero?” tebak cowok itu, “Darimana aku tahu?” katanya lagi seakan tahu apa yang dipikirkan Kena. “Dia memintaku mencari informasi soal cowok yang menembakmu tempo hari. Dan belum lama ini juga soal informasi pribadimu,”
“Kau mengatakannya?” tanya Kena gak percaya akan tindakan yang telah dilakukan cowok itu dibelakangnya, tanpa se-izinnya.
“Hanya soal hobby, makanan dan minuman kesukaanmu. Bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan sayang,” terang cowok itu.
Kena memijat pelipisnya sendiri, “Maksudku bukan dia. Kak Gero memang menembakku dan aku menolaknya,” kata Kena, “Kak Rio barusan menembakku!” lanjutnya menerangkan.
“.............” Tak ada respon.
Kena bisa membayangkan kalau cowok itu baru saja menjatuhkan ponselnya, karena panggilan mendadak terputus setelah bunyi buk! Beberapa saat kemudian cowok itu kembali menelepon.
“Haruskah aku merasa cemas kau akan meninggalkanku sekarang?” tanya cowok itu waspada. “Kau sudah berjanji akan selalu bersamaku!” dia mengingatkan.
“Bisakah kau menjemputku?” tanya Kena mengalihkan topik. Dia gak bisa membahas perihal janji itu saat mereka sedang terpisah. Dia gak ingin cowok itu melakukan hal bodoh seperti mengamuk di tempat umum. Dan cowok itu baru saja selesai dari perawatannya!
“Dan aku akan menginap di tempatmu sementara ini. Kita bisa membahasnya nanti,” bujuk Kena. Setidaknya dia harus mengamankan tempat untuk tinggal selama beberapa hari ke depan sampai masalahnya dengan Rio selesai.
“Oke.”
Setelah jawaban singkat itu Kena segera mengaktifkan fitur lokasi di ponselnya. Sekarang dia hanya perlu menunggu jemputan seraya memikirkan rencana ke depannya untuk menghadapi Rio. Terlalu banyak yang harus dia atasi sendiri, membuatnya sakit kepala.
“Hahh, kakak yang merepotkan.” Eluhnya berat.
# # # #
.
__ADS_1