ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 14 "PTSD"


__ADS_3

21




Kena memandang deretan obat di atas meja, lalu menoleh cemas ke pemilik obat tersebut. Disimpannya kembali berkas laporan perawatan yang baru selesai di bacanya ulang ke laci. Dia menghela pada sosok cowok yang tengah tertidur disisinya. Setelah memberikan kecupan singkat, Kena berjalan ke dapur dan membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri.



Diresapnya teh itu lambat-lambat. Pandangannya tertuju ke jendela, namun pikirannya bergerak jauh ke beberapa tahun silam. Pada kejadian naas yang dialami dirinya, Nael, dan ibu kandungnya yang telah tiada. Pada hari-hari berat saat dia harus menjaga Nael di rumah sakit. Dan tahun-tahun setelah siumannya, serta janjinya pada cowok itu.



Jika kejadian buruk itu gak pernah ada, akankah kita bisa mendapat akhir yang lebih baik sekarang?



“Ma, aku kangen mama.” Guman Kena mengenang ibu kandungnya.



Pada tahun itu Kena dan Nael masih berusia 5 tahun. Setelah menghadiri pesta salah satu kenalan orang tua mereka, ibu kandung Kena membawa kedua anak itu pulang lebih awal. Gak ada yang menyangka kalau mereka akan mengalami kecelakaan.



Kena ingat saat itu tiba-tiba ada sebuah mobil yang kehilangan kendali dan menabrak mobil mereka hingga terbalik. Mama Kena terjepit oleh badan mobil dan gak terselamatkan. Nael berteriak histeris saat melihat begitu banyak darah dikakinya. Lalu dia menoleh ke arah Kena yang juga berdarah akibat benturan keras dikepala. Nael yang gak bisa mengendalikan rasa kaget dan shock pada saat itu langsung pingsan.



Saat petugas menyelamatkan mereka, Kena masih dalam kondisi sadarkan diri. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan menjalani operasi kecil. Kaki Nael yang robek terkena bagian mobil perlu dijahit. Kena juga mendapat jahitan di kepalanya. Tapi nyawa mereka berdua masih selamat.



Selama tiga bulan penuh Nael gak sadarkan diri, dan selama itu pula Kena bolak-balik menjenguknya di rumah sakit. Meskipun Kena bisa keluar rumah sakit lebih awal, dan sembuh lebih cepat, tetap ada satu hal yang hilang darinya. Kena jadi gak bisa menangis. Bahkan saat pemakaman ibunya dilaksanakan, dia gak meneteskan sedikitpun air mata. Seakan dia gak tahu apa itu kesedihan.



Berbeda dengan Kena, setelah tiga bulan penuh terbaring di rumah sakit, Nael baru siuman. Namun dia menjadi histeris karena trauma akan kecelakaan itu. Dia gak bisa bicara dengan jelas dan hanya berteriak-teriak, kehilangan nafsu makan, sering mengamuk, dan menangis tiba-tiba. Sering kali Nael mendadak bangun karena terkejut dan langsung berkeringat dingin.


Atau menggumankan sesuatu dalam tidurnya saat bermimpi buruk.



Kedua orang tua Nael sudah gak ada, tinggal kakeknya yang merawatnya selama ini. Sang kakek hanya bisa mengerahkan kemampuan dengan menyewa dokter-dokter terbaik untuk merawat Nael. Itupun masih membutuhkan waktu yang lama bagi Nael untuk bisa dibilang sembuh dan diizinkan bersekolah.



Kena dan Nael sudah dijodohkan sejak lahir. Mereka juga tumbuh bersama selama ini. Melihat kondisi Nael yang gak membaik kakeknya pernah mengajukan pembatalan perjodohan. Namun ayah Kena menolaknya karena merasa bertanggung jawab atas kondisi Nael saat itu. Dia juga sudah menganggap Nael sebagai anaknya sendiri.



Sejak mereka selalu tinggal bersama, Kena sudah memutuskan untuk hidup dengan Nael selamanya. Gak ada alasan baginya buat menolak pertunangan itu. Karena itu dia berani membuat janji dengan Nael. Bahwa mereka gak akan terpisahkan.



Tapi sekarang bagaimana perasaannya terhadap Nael?

__ADS_1


Cemas? Simpati? Sayang?


Adakah cinta lain disana?



Bagaimana perasaannya terhadap Rio?


Sebagai seorang adik?


Sebagai seorang perempuan?


Sebagai seseorang yang dicintai olehnya?



Kena menghentikan ingatannya pada masa lalu, dia mengesap sedikit tehnya yang mulai dingin. Malam ini perasaannya kacau, pikirannya terlalu lelah. Dia menoleh ke sosok Nael yang masih tertidur pulas di kasur.



“Bagaimana caraku menjaga janji denganmu?” risaunya.





# # # #




Kembali pada ingatan masa lalunya.



Sehari setelah Kena mendapatkan anggota keluarga baru. Seorang ibu tiri dan saudara tiri yang gak menerimanya sebagai adik. Kena mengunjungi rumah kediaman keluarga Nael seorang diri. Secara gak sengaja dia menemukan catatan laporan pemeriksaan kesehatan milik Nael. Itu kali pertama Kena mengetahui alasan dibalik kecemasan Kakek Nael dan Ayahnya sendiri.



Dalam catatan itu tertulis kalau Naelion Sandhika mengidap PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder. Sebuah penyakit mental dimana penderitanya mengalami trauma mendalam terhadap kejadian buruk tertentu yang pernah dialami. Disana juga ditulis sebuah gangguan Bipolar yang mengakibatkan kondisi perasaan Nael dapat berubah sewaktu-waktu.



Kena mencoba mencerna catatan itu di otaknya. Dia pernah melihat Nael mengamuk beberapa kali terlebih ketika cowok itu bermimpi buruk. Nael bisa menjadi histeris tiba-tiba hanya karena melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Atau perubahan mood lain yang terjadi secara mendadak.



Dia memang sempat curiga terhadap kondisi kejiwaan cowok itu. Pernah sekali dia menanyakannya kepada sang ayah, namun jawaban yang diterimanya hanyalah kalau Nael baik-baik saja. Atau sedang mencari perhatian saja. Sekarang dia menemukan jawaban yang dicarinya. Apa yang harus dia lakukan?



Seorang anak perempuan normal pasti akan merasa jijik atau takut setelah mengetahui hal itu. Namun Kena berbeda, dia semakin gencar mencari tahu tentang penyakit yang diderita Nael. Seperti apa ciri-cirinya, dan bagaimana cara menangani penderitanya. Dia bahkan mengajukan acara pertunangan resmi ke kakek Nael agar mereka gak dipisahkan. Kakek Nael memenuhi permintaan itu setelah berdiskusi dengan Ayah Kena dan beberapa dokter yang menangani masalah Nael.


__ADS_1


Dokter mengatakan kalau pertunangan itu dapat membantu menstabilkan kondisi kejiwaan Nael. Karena Nael sangat menyukai Kena dan selalu berada dalam kondisi yang baik saat bersamanya. Pertunangan resmi dilaksanakan secara sederhana. Hanya dihadiri oleh Kakek Nael, Ayah Kena, para dokter yang merawat Nael, dan pelayan kediaman Nael. Sedikit orang yang tahu tentang acara pertunangan itu, bahkan ibu dan saudara tiri Kena gak mengetahuinya. Keberadaan Nael dan pertunangan mereka seolah sengaja disembunyikan.



Apa mereka berpikir itu akan menjadi aib keluarga bila orang luar tahu tentang kondisi Nael?



Setelah acara itu kondisi Nael berangsur-angsur membaik. Namun dia tetap harus melakukan medical check up dan terapi setiap sebulan sekali. Segera saat Nael diizinkan masuk sekolah, dia mengambil kelas akselerasi lebih cepat dari Kena. Nael memang sudah terkenal jenius sejak kecil, hanya mentalnya saja yang sedang bermasalah.



“Lalu kenapa sekarang obatnya bertambah?” guman Kena lagi.



Kembali pada realita saat ini. Dimana dia mempertanyakan keakuratan kondisi mental Nael. Dari luar cowok itu terlihat baik-baik saja, tapi Kena tetap meragukannya.



Dia sudah mengecek beberapa kali catatan laporan pemerikasaan Nael selama dua bulan perawatannya di Inggris untuk memastikan. Tidak ada yang salah atau memburuk dilihat dari laporan tersebut. Lalu deretan obat tambahan itu untuk apa?



Kena memainkan cincin pertunangan yang dijadikannya liontin kalung. Dia menghela untuk kesekian kali di hari itu. Pikirannya mencurigai bahwa laporan itu telah dipalsukan. Nael bisa saja melakukan hal tersebut. Dia harus memastikannya sekali lagi ke dokter yang merawat cowok itu.



“Aku harus menghubungi dokter Erik,” tegasnya.



Di tenggaknya habis tehnya, lalu berjalan kembali ke kasur dan berbaring di sebelah Nael. Kena tertidur dengan begitu banyak pikiran malam itu. Tapi suara napas Nael membuatnya merasa tenang.



“Selamat malam sayang,” ucapnya Kena sebelum jatuh tertidur.




# # # #


.



ig @indahrashie




##


.

__ADS_1


__ADS_2