ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 20 "Heartbreak"


__ADS_3

33


Nael berlari menjauh dari tempat yang baru dimasukinya. Tindakan bodoh karena dia mengikuti orang yang dianggapnya berharga itu kemari. Sekarang dia harus menghadapi kenyataan kalau dia baru saja dikhianati. Didepannya, dengan mata kepalanya sendiri, Nael melihat Kena berciuman dengan Rio!


“AAARRRRGGGHHHHHHH!!!”


Jeritan yang pilu itu adalah pertahanan hatinya yang runtuh.


Nael terus berlari, menabrak apapun yang menghalangi jalannya. Menerobos apapun yang ada dihadapannya. Gerombolan orang yang sedang berjalan, petugas yang sedang membagikan balon gratis, pedagang yang sedang melintas dengan gerobak dorong, pot bunga, dan ornamen-ornamen yang terpasang di jalur larinya.


Dia gak peduli, dia ingin menjauh sejauh mungkin dari sana. Sejauh mungkin dari rasa pahit itu. Sejauh mungkin dari rasa sakit itu. Beberapa orang yang tertabrak meneriakinya, namun Nael terus berlari. Keluar dari taman bermain menuju jalan raya, melewati jembatan penyeberangan, melewati lorong-lorong jalanan, dan berhenti di sebuah sudut pertokoan yang sepi.


Kedua lengannya menyandar pada tembok. Dia sudah menangis, merasa terkhianati, cemburu dan tertinggal. Bukankah dia sendiri juga akan meninggalkan Kena suatu hari nanti, lalu kenapa dia marah sekarang?


Jika Kena bersama dengan Rio, dia gak perlu khawatir kalau gadis itu akan kesepian. Tapi...tapi....


“Aku gak mengerti,” rintih Nael. “Hanya memikirkannya, kau dengan orang lain, membuatku sakit. Katakan padaku kenapa rasanya bisa sesakit ini? Ahhhh...hiks...hiks....”


Nael memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan. Letak dimana hati berada. Letak dimana luka bersarang. Nyilu yang baru pertama kali dia rasakan. Begitu perih tak tertahankan dan menyelimutinya. Perlahan tubuh Nael merosot ke bawah, terduduk lemas. Napasnya mulai gak beraturan, sesak, rasa sakit itu membakar seluruh tubuhnya.


“Hiks....”


Nael lantas merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana. Dia memandangi kotak itu lekat-lekat, isakannya kembali terdengar. Kotak itu diberikan padanya sebagai tempat penyimpanan saat dia pulang dari Inggris. Nael membuka kotak itu dengan setengah kesadarannya. Kepalanya semakin pusing, disertai sakit perut yang menjalar di lambungnya.


Fluoxetine, Sertraline, Venlafaxine, Alprazolam, Clonazepam. Nama-nama yang membuatnya muak setiap kali mendengarnya. Aroma obat memasuki penciumannya. Aroma kuat yang membuatnya mengingat ruang isolasi tempatnya selalu berada, untuk waktu yang lama. Nael memasukkan beberapa butir obat langsung ke dalam mulut dalam sekali telan. Melebihi dosis yang seharusnya dia minum.


“Uhuk uhuk uhuk!’


Air liurnya menetes, membaur dengan air matanya. Bibirnya terasa kering, kerongkongannya terasa haus, detak jantungnya menderu hebat. Napas yang tersenggal-senggal dan ketakutan yang semakin merasuk, membuatnya mengalami halusinasi. Nael meringkuk di lantai beton yang dingin. Tertawa miris, yang terlihat di matanya sekarang adalah Kena yang tengah membelainya lembut. Membisikkan kata-kata manis dari bibir merah mudanya. Mendekap Nael dalam kehangatan.


Smarthband yang melingkar di lengan Nael masih berbunyi nyaring sejak tadi. Menandakan kalau obat yang dia minum belum berefek padanya. Seharusnya dia menghubungi dokternya, namun....


Nael hanya ingin sendirian sekarang.


“Kena. Anandia Kena Altair.”

__ADS_1


Nael mengepalkan tangannya di dada, menahan sakit yang membakar itu. Lalu dia mendekap balik bayangan Kena, membenamkan wajahnya dalam dekapan itu. Dekapan yang terasa hangat namun menyesakkan.


“Apa yang harus kulakukan?” bisiknya lirih. “Hiks hiks hiks. Apa yang harus kulakukan....”


Pandangan Nael memburam oleh air mata. Seperti itu, dia tergeletak tak sadarkan diri. Bayangan Kena yang didekap erat oleh Nael menampilkan mimik gelisah, tak tahu harus bereaksi seperti apa menanggapi situasi sekarang ini. Dengan enggan dia memeluk balik Nael dan mengusap-usap kepalanya, dalam pikirannya berkecamuk perasaan kontradiktif yang menyebalkan.


“Ah, terserahlah....” gusarnya pasrah.


# #


34


Gero masih belum berani menatap wajah Valeia, jantungnya terasa hampir copot karena saking takutnya dia mendengar jawaban gadis itu. Dia juga takut kalau Valeia mendengar suara detak jantungnya yang keras. Mereka berdua berada dalam posisi tersebut untuk waktu yang cukup lama, hingga membuat Gero menyayangkan keputusannya buat menembak Valeia.


Shit! Jantung gue! Shit! Shit! Rutuk Gero dalam hati. Dia merasa telah dipermainkan oleh tubuhnya sendiri.


Tapi keadaan Valeia gak berbeda dengan kondisi Gero sekarang. Jantungnya juga berdetak sangat cepat sampai Valeia merasa takut kalau Gero juga mendengarnya. Pikirannya kalut antara haruskah dia menerima pernyataan cinta Gero atau mempertahankan perasaannya kepada Rio.


Aku harus bagaimana? Pikir Valeia bingung dengan perasaannya sendiri.


“Valeia,” lirihnya.


# # #


Rio melepas pelukannya dan meminta Kena menghentikan aksinya. Mereka berhenti berciuman, dengan bibir yang kelihatan bengkak Rio tersenyum canggung. Saat dia menatap Kena dia tahu bahwa mereka berdua sudah menyadari perasaan mereka masing-masing.


“Aku merasa ingin lari sekarang,” kata Kena gusar.


“Ya, aku juga. Ke tempat dia.” Setuju Rio.


Mereka berdiam sejenak, “Setelah kita keluar dari sini, hubungan kita-”


“Hanya sebagai kakak dan adik.” Sambung Kena yakin, Rio mengangguk.


Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari rumah miring tersebut. Pelukan perpisahan untuk perasaan bodoh mereka selama ini. Setelah ini mereka akan resmi mengakui satu sama lain sebagai kakak dan adik. Rio merendahkan tubuhnya agar sepantaran dengan tinggi Kena, lalu mengusap lembut kepala gadis itu.

__ADS_1


“Ah, aku gak akan setuju kamu jadian sama Gero.” Rio mengingatkan, “Sebagai kakak, aku gak mau perasaanmu tersia-siakan buat cowok kayak dia.”


Kena tertawa kecil, “Perasaanku bukan buat kak Gero kok, jadi kak Rio tenang aja.”


“Baguslah,”


“Hmm, kak Rio tahu kalo kak Gero suka sama...,” sebelum Kena selesai bicara, Rio langsung tersadar.


“Shit! Aku lupa mereka lagi berduaan sekarang!” rutuk Rio, “Aku cari mereka dulu. Aku gak mau terlambat jujur ke dia. Yah, meski memang udah terlambat.”


Rio bergegas pergi, sebelum mencapai pintu keluar dia berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Kena melambaikan tangannya.


“Good luck brother!”


# # #


Setelah berlari keluar dari rumah miring tempatnya dan Kena mencari jawaban akan perasaan masing-masing. Rio mencoba menghubungi Valeia untuk tahu dimana posisi gadis itu sekarang. Beberapa kali namun panggilannya selalu dialihkan ke mode pesan. Gero juga gak bisa dihubungi. Kalang kabut Rio mengitari taman dan tempat-tempat yang kemungkinan akan didatangi kedua orang itu. Dari pesan tersirat sebelum mereka berpisah, Gero sudah mengumumkan kalau dia bakal menembak Valeia. Kalo bisa Rio mau mengagalkan rencana itu.


“Shit! Kemana mereka berdua?” rutuk Rio kesal.


Pada akhirnya Rio kembali ke tempat pertama kali mereka berpisah, lalu mengira-ngira dari arah larinya Gero dan Valeia. Dia bergegas hanya dengan mengandalkan instingnya. Berlarian melewati taman sembari matanya gencar melihat kesana kemari karena takut melewatkan sosok Valeia atau Gero. Lalu dia menemukan mereka, tengah saling berdiam, di sisi taman. Gero membelakangi Valeia, sementara tangan mereka saling berpegangan. Saat itu Rio tahu kalau Gero sedang menunggu jawaban Valeia. Dia terlambat!


“Valeia,” lirih Rio seakan memanggil nama gadis itu dengan hatinya.


Dia ingin menginterupsi adegan di depannya, namun langkahnya terasa berat untuk mendekat. Dia gak bisa. Rio tertahan disana dengan perasaan luka yang sulit diterimanya. Barangkali seperti inilah perasaan Valeia saat melihatnya bersama gadis lain, atau perasaan Gero saat Valeia bersamanya. Sebuah perasaan bernama cemburu yang merasuk di hati, membakar dirinya.


Saat ini dia sangat ingin membawa Valeia pergi, menariknya dari sana, melepaskan genggaman mereka. Dia ingin memukul Gero sekuat tenaga, mengatainya, dan mempertegas kalo Valeia adalah miliknya. Namun Rio gak bisa melakukan semua itu. Karena dia adalah orang brengsek pertama disini. Dia gak punya hak untuk memprotes tindakan Gero, atau merasa cemburu terhadap Valeia. Dia gak pantas.


Jadi dia hanya menatap disana, tak mampu pergi, tak mampu beranjak. Sampai mata Valeia melihat keberadaannya. Lalu Gero juga melihatnya, dan suasana canggung mereka menyelimuti udara. Satu hal yang entah kenapa Rio lakukan secara refleks. Yang membuat kecanggungan itu semakin ironis.


Baik Vaelia maupun Gero merasa hati mereka tertusuk. Di kejauhan sana, Rio tengah tersenyum ke arah mereka dengan pandangan yang menyedihkan.


Perasaan bersalah itu membungkam mereka bertiga.


# # #

__ADS_1


.


__ADS_2