
42
“RIO!”
Mendengar namanya dipanggil dengan suara keras seakan seluruh hidup sang pemanggil dipertaruhkan disana, Rio tertegun.
“Kena? Ada apa?” tanya Rio.
“Rio.”
Sekali lagi namanya dipanggil, namun dengan sangat lirih. Ada yang gak beres dengan Kena. Pikiran buruk menyerang benak Rio. Padahal pagi tadi gadis itu masih baik-baik saja, lalu sekarang....
Rio menyerngit khawatir, “Dimana kau?”
Panggilan terputus. Tak lama berselang id line Rio mendapat pesan. Sebuah alamat apartement beserta nama penghuni dan passwordnya. Rio meraih kunci motornya, berlari ke garasi. Ia menyalakan mesin motor lalu menempelkan ponselnya yang menampilkan google maps pada kaca spion motor. Bergegas melaju ke jalanan.
Jalan raya yang ramai karena weekend memaksa Rio membelokkan arah motornya menuju jalan tikus. Gang-gang kecil yang susah payah dilewatinya, jalanan sempit yang berliku, jembatan kayu yang seakan bisa rubuh kapan saja, serta ibu-ibu random yang menatap kegantengannya dengan liar.
“Shit!” umpat Rio menyadari kalo dia lupa pake helm.
Melewati semua ujian yang bisa menggoyahkan niatnya itu, Rio akhirnya sampai dengan anggota badan yang masih utuh ke alamat yang dikirimkan Kena.
Sebuah apartement lima lantai yang tergolong canggih. Begitu tiba disana Rio mengarahkan motornya ke bassement buat parkir. Ada lift dari bassement yang langsung mengarah ke lantai atas. Jemari Rio menekan password masuk yang tadi dikirimkan Kena. Lift terbuka, ia masuk dan menekan tombol ke lantai 3.
Ada sekitar enam kamar di lantai tiga. Mata Rio awas membaca nama-nama yang tertera di setiap pintu yang dilewatinya. Hingga ia menangkap sebuah pintu dengan nama penghuni yang dicarinya tertera disana.
Naelion Sandhika.
Kembali jemari Rio menekan angka-angka pada mesin yang terpasang di badan pintu hingga membentuk sebuah password. Ting. Pintu apartement terbuka, ia bergegas masuk, menoleh ke kanan kiri mencari sosok Kena. Sang adik yang sudah secara resmi dianggapnya sebagai adik itu tengah duduk dengan memeluk kedua lutut di samping tempat tidur. Membenamkan wajahnya diantara kedua lengannya yang terlipat.
Melihat Kena yang baik-baik saja tanpa luka membuat Rio merasa sedikit lega. Namun, juga merasa risau. Ia berjalan perlahan mendekati Kena, lalu berlutut di hadapannya.
“Kena,” lirih Rio memanggil.
Kena mendongak menatap Rio. Matanya sebam oleh air yang masih menetes ke pipi satu persatu. Perasaan menyakitkan yang Rio tahu pernah dialaminya sendiri beberapa saat lalu. Mengoyak nuraninya untuk sekali lagi mematahkan prinsip dilarang menyentuh Kena. Rio merenggangkan tangannya untuk memeluk sang adik, pelukan terhangat yang bisa ia berikan. Saat ini bukan kata-kata semangat yang sedang gadis ini butuhkan, melainkan kepedulian.
Kesedihan Kena membuat Rio ikut bersedih. Kenapa aku harus menjadi kakakmu. Andaikan saja aku bukanlah seorang kakak. Aku pasti akan melakukan lebih dari sekedar memelukmu, menghiburmu dengan lebih baik. Tapi aku gak bisa.
Batin Rio bergejolak. Ia gak mau hanya sekedar menenangkan Kena seperti ini. Hasratnya merasakan ketidakpuasan yang mendalam saat menghadapi Kena yang sedang bersedih. Rio merasakan sakit. Sakit yang mampu membuat pikirannya merangkai delusi demi delusi memabukkan.
Aku mau memelukmu. Merengkuhmu sampai tangismu berhenti. Mencium-!
Deg!
Apa yang barusan kupikirkan?!
Rio sudah pernah memastikan kalau cintanya hanya untuk Valeia. Ia sedang berusaha memperbaiki hubungan mereka. Disaat krusial ini bisa-bisanya ia berpikir untuk menjadikan Kena sebagai pelampiasan. Brengsek!
Aku hanya mau membuatnya berhenti menangis.
Benar. Walaupun aku harus menjadi brengsek. Apapun akan kulakukan asal tangismu berhenti, asal kau gak bersedih lagi.
Karena aku menyayangimu!
“...................”
Rio menggigit bibir bawahnya sendiri. Kekalutannya menjadi semakin rumit. Hubungan macam apa yang sebenarnya ia inginkan dengan Kena. Kenapa ia selalu merasa tidak puas bila bersangkutan dengan gadis ini.
Sayang yang sejauh mana?
Namun bukan hanya Rio yang sepemikiran. Hingga saat delusi mulai menguasai kehendak terpendamnya, Rio dengan senang hati menerima semua khayalan indah itu. Kesadarannya tumpul disaat kedua bibir mereka saling bersentuhan.
Perasaan dua hati yang sedang terluka sangatlah menakutkan.
Sebuah kecupan yang mendarat di bibirnya membuat Rio tahu bahwa bukan hanya dirinya yang ingin bersikap masa bodoh dengan semua ini. Persetan dengan prinsip! Rasa haus akan rasa sayang membuatnya menolak berpikir jernih.
Pelukan hangat dan kecupan singkat yang memabukkan ini. Bersikukuh membuang semua logikanya, Rio membalas apa yang tengah dilakukan Kena.
Biarkan aku sekali lagi egois. Biarkan dosa yang manis ini memudarkan rasa sakit hati yang kita alami meski hanya sesaat.
“Kena....”
Rio gak sanggup menahan air matanya. Saat ia melihat Kena dari jeda kedua bibir itu, cewek itu juga masih menangis. Rio kembali memeluk Kena. Ia bisa melihat sebuah buket bunga dan sebuah surat yang telah dibaca tergeletak di atas kasur.
“Gak apa-apa, gak apa-apa.” Kata Rio lalu mengecup kening gadis itu.
“Rio?”
# # #
43
“Kena....”
__ADS_1
Suara panggilan yang familiar di telinga itu terdengar. Kena mendongak dengan kegetiran yang terpancar diwajahnya. Tanpa bicara sepatah katapun, sang kakak yang merepotkan dan baru saja menganggapnya sebagai adik itu memeluknya. Mengusap lembut punggungnya.
“............”
Kena masih terdiam. Masih menata hatinya menghadapi kepahitan yang diterimanya beberapa saat lalu. Tangis tanpa suara yang belum berhenti. Dingin yang menyerang tubuhnya sejak tadi. Saat ini,
Dia memelukku. Batin Kena.
Pelukan yang diberikan Rio terasa sangat hangat baginya, terasa nyaman hingga tanpa sadar Kena sudah memejamkan matanya dan tertidur. Dalam pelukan sang kakak yang merepotkan, Kena bermimpi.
Kalo aja aku bukan adikmu. Apa kamu akan terus memelukku sehangat ini?
Pikiran egois itu terbersit di benak Kena. Padahal mereka sudah memastikan perasaan masing-masing belum lama ini dan bertekat mengejar cinta sejati mereka. Saling mendukung satu sama lain. Tapi,
Perasaan terpuruk ini sangatlah lucu.
Kena balas memeluk Rio. Untuk saat ini saja ia ingin memiliki Rio untuk dirinya sendiri. Sebagai dua orang yang tengah patah hati dan terluka. Melupakan sejenak rasa pahit di lidahnya.
Sekali lagi saja biarkan dosa ini terjadi. Merobek prinsip yang ia ciptakan sendiri. Kena menatap tajam mata Rio. Wajah mereka semakin mendekat, lalu Kena mengecupnya. Bibir merah Rio yang pernah dicobanya beberapa kali. Mengabaikan kekagetan sang kakak yang gak ingin dianggapnya kakak saat ini.
Kena mencium Rio.
Sebuah ciuman berbalas yang membasahi bibir keduanya oleh air mata. Mereka saling tatap saat jeda napas yang berat itu. Rio kembali memeluk Kena, mengusap punggungnya.
“Gak apa-apa, gak apa-apa.”
Kata-kata yang seperti kepasrahan. Ditujukan hanya untuk Kena seorang. Namun, mimpi adalah sesuatu yang memiliki akhir. Mau tak mau waktu akan terus bergulir meninggalkan jejak kenangan yang ingin dipertahankan.
Kena pun membuka mata dan terbangun dari mimpi itu. Bertepatan dengan saat Rio yang tengah mengecup keningnya. Alis Kena menyerngit, apakah dirinya masih bermimpi?
“Rio?” panggil Kena dengan kebingungan.
Rio langsung tersadar akan apa yang sedang dilakukannya. Mata Kena yang penuh tanda tanya seolah mengatakan pada Rio, bahwa semua ciuman tadi hanyalah khayalannya semata. Wajah Rio sontak memerah. Hal menjijikan apa yang baru saja dia bayangkan. Bisa-bisanya dia membayakan hal semacam itu dengan adiknya sendiri!
“Bukan apa-apa.” Jawab Rio cepat, “Yah, aku hanya ingin menenangkanmu. Ehem, mama selalu mengecup keningku saat masih kecil. Jadi...”
Kena mengalihkan matanya, “Oke. Aku mengerti.” Jawabnya seakan benar ia mengerti.
Rasa kecewa merasuki dirinya. Sesaat Kena berharap kalau semua yang terjadi bukanlah mimpi. Berharap Rio memang mengecupnya. Berharap prinsip memuakkan itu memang patah. Hati Kena tertawa getir.
Rio juga merasakan kegetiran yang sama. Dia ingin mengatakan itu kepada Kena. Dia ingin Kena tahu rasa sayangnya. Kalau Rio benar-benar mengecup kening Kena karena sayang. Sayang yang teramat besar hingga terasa menyakitkan.
Rio menelan ludah. Benaknya mulai merangkai kata yang tak bisa tersambung.
Air mata menetes dipipi Rio. Ahh, semua memang hanya delusi kecuali tangisnya yang adalah nyata. Rio benar-benar sedang menangis! Rio melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh membelakangi Kena. Jangan sampai Kena menganggapnya cengeng!
Disaat ini Rio harus menjadi sosok kakak yang baik. Kakak baik mana yang membayangkan hal buruk dengan adiknya, ahhhh, Rio berharap bisa istirahat sejenak dari kegundahan ini. Lantas Rio mengusap air matanya.
“Maaf, aku belum bisa jadi tempat bersandarmu.” Ucap Rio.
Giliran Kena yang merasa terluka oleh permintaan maaf Rio. Keberadaan Rio disini bersamanya saja sudah membuatnya merasa berterima kasih. Setidaknya Rio bukan orang yang akan meninggalkannya begitu saja tanpa pamit. Tidak seperti Nael!
Kena merangkul leher Rio dari belakang.
“Maaf menyulitkamu,” ucap Kena. “Aku akan baik-baik saja.”
Rio mengusap punggung tangan Kena. “Ayo pulang,”
“Hm. Ayo pulang.” Kata kena akhirnya.
Sebelum khayalan mereka berdua semakin jauh kemana-mana. Dalam diam keduanya keluar dari tempat itu. Kena sempat menatap ke kasur dimana buket bunga yang gak ingin dibawanya dan amplop yang ingin dibakarnya tergeletak. Perasaan senang saat menerima kiriman itu sudah hilang. Menyisakan kepahitan yang masih terasa di hatinya.
Rio mengikuti arah pandang Kena, lalu meraih tangan gadis itu. Mengalihkan fokus Kena ke dirinya. Mereka bicara lewat tatapan. Kena menggeleng lalu benar-benar berjalan keluar dari sana. Apartement itu terkunci otomatis saat keduanya keluar.
Saat berjalan di koridor, saat menaiki lift, saat menuju motor yang terparkir di bassemet bawah. Rio gak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kena. Bergandengan tangan selayaknya dua anak kecil.
Berboncengan kembali ke rumah.
# # #
BIODATA I
KARIO STEVANDY ALTAIR
NN : Rio
Ciri : Mata hijau. Rambut hitam.
Kelas : 2 SMA – MIPA B (Ketua OSIS)
Usia : 17 tahun
Status : Bertunangan (Valeia)
__ADS_1
ANANDIA KENA ALTAIR
NN : Kena
Ciri : Mata coklat (pake softlens hijau). Rambut hitam panjang.
Kelas : 1 SMA – A (Akselerasi)
Usia : 15 tahun
Status : Bertunangan (Nael)
FAGERO HUBERT
NN : Gero
Ciri : Blasteran. Lolicon. Pirang. Mata Merah.
Kelas : 2 SMA – MIPA A (Wakil Ketua OSIS)
Usia : 17 tahun
Status : Playboy. Gak pernah menolak setiap cewek yang menembaknya.
RADEN AYU RORO VALEIA ARDHYONINGRAT COLIN
NN : Valeia
Ciri : Blasteran. Mata biru keunguan. Rambut coklat panjang (bergelombang)
Kelas : 2 SMA – MIPA A (Ketua bidang keamanan OSIS)
Usia : 17 tahun
Status : Bertunangan (Rio)
NAELION SANDHIKA
NN : Nael
Ciri : Mata hazel. Rambut hitam. PTSD.
Kelas : 2 SMA – MIPA A (Akselerasi)
Usia : 15 tahun
Status : Bertunangan (Kena). Informan Gero.
ADIT RAENDY
NN : Adit
Ciri : Mata hitam. Rambut hitam. Berkacamata min 3.
Kelas : 2 SMA – MIPA A (Ketua Kelas)
Usia : 17 tahun
Status : Tertarik dengan Kena. Pernah muncul di cerita episode 6 ‘PRASANGKA’ part 11.
MISHALA CATRIANA PUSPA
NN : Puspa
Ciri : Mata hitam (pake softlens min 0.5 hitam u16). Rambut hitam panjang (bergelombang).
Kelas : 2 SMA – MIPS E
Usia : 17 tahun
Status : Salah satu ceweknya Gero tersayang. Pernah muncul di cerita episode 9 ‘GERO’ part 14.
# # # #
Terima kasih sudah bertahan menunggu update cerita ADIK KAKAK 😘
Ini biodata yang akhirnya muncul 🙈
Salam Sayang, Author 😆
####
**
__ADS_1