ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 15 "Langkah"


__ADS_3

23



Rio dan Gero sudah memperdebatkan perasaan mereka sepanjang malam. Dari masalah Kena menyebar ke masalah cinta pertama mereka. Selalu saja kedua cowok itu memperebutkan gadis yang sama. Mungkin dikehidupan yang lalu mereka merupakan sepasang kekasih yang dikutuk hingga berakhir seperti ini. Terbersit sedikit rasa menggelitik di kepala Gero untuk mengusulkan kalo lebih baik mereka jadian saja. Merasakan feeling gak enak, Rio langsung menatap tajam ke sahabatnya yang sedang senyum-senyum sendiri itu.



“Kamu mikir apa barusan?” curiga Rio.



Gero cengengesan, “Gak ada, hahaha, gak…,” jawabnya seraya menahan tawa. Kalo Rio tahu yang dia pikirkan sekarang, sohibnya itu akan langsung membunuhnya. “Jadi, kita udah berdebat semalaman dan lo masih gak jelas sama perasaan lo sendiri. Gimana gue harus nasehatin lo?”



Rio menyembunyikan wajahnya dibalik bantal, tubuhnya meringkuk semakin dalam di sofa. “Aku brengsek, tapi sebagai kakak atau sebagai cowok, bisa apa lagi? Awalnya aku juga gak mau ngomong ke Kena, tapi—”



“Tapi mendadak lo cemburu karena gue udah duluan nembak Kena dan lo diabaikan ma dia,” potong Gero tepat. “ Hahh, terus lo mau apa sama Valeia? Mutusin dia? Inget kalo kalian itu udah di jodohin. Lo dulu gak nolak dia, jangan sampai lo nyakitin dia sekarang.”



“………………….”



“Dan gue masih belum nonjok lo tadi, utang lo ma gue belum lunas,” tambah Gero mengingatkan.



“Perhitungan,” cemooh Rio. “Meski aku gak pacaran sama Kena, aku juga gak bakal biarin kamu dapetin dia. Biar ku perjelas, cewekmu sudah kebanyakan.” Tegas Rio mengingatkan.



Gero tersenyum canggung, “Lo kenapa jadi kakak killer banget, pantes aja Kena gak ada rasa ke lo,”



Rio langsung memberikan tatapan tajam, Gero mengalihkan pandangannya dan berlagak polos. Walaupun Kena ada rasa buat Rio pasti juga antara adik ke kakaknya, bukan sebagai cewek ke cowok. Berdasarkan informasi yang dia dapat dari sang informan kemarin, sebenarnya Kena juga sudah bertunangan dengan seseorang yang gak diketahui identitasnya. Dilihat dari gelagatnya, Rio jelas belum mengetahui informasi ini. Siapa yang bertunangan dengan Kena belum jelas jadi Gero gak akan membahas topik ini sekarang. Tapi dia antara yakin dan enggak terkait informasi itu. Sang informannya yang mencurigakan darimana bisa mendapatkan informasi rahasia semacam itu. Meskipun selama ini informannya itu gak pernah memberikan informasi yang salah.



Gue harus ketemu Nael lain kali, kalo dia muncul di sekolah.



“Hahh, gak bakal kelar kalo kita terus ngebahas ini. Lo mantepin hati lo dulu buat siapa. Lo pikirin Valeia juga, nanti gue bantu lo ngomong ke dia.”

__ADS_1



Rio selalu merasa sohibnya ini bisa diandalkan. Sudah seperti pakar percintaan saja. Gak sia-sia tu cowok pacarnya banyak. Dan Rio jelas masih harus menanggung dua tonjokkan dari Gero karena kebodohannya sendiri. Harusnya dia bisa lebih menahan perasaannya terhadap Kena. Tapi hati gak bisa disangkal lebih lama. Sekali lepas, apa daya Rio? sudah terlanjur dinyatakan, sudah terlajur bertengkar. Sekarang dia hanya bisa berharap Kena menanggapinya secara dewasa. Meskipun cara Rio sendiri bisa dibilang kekanakan.



“Gero,” panggil Rio, “Makasih udah jadi sahabatku,” ucapnya tulus.



Gero sempat tertegun, lalu mendadak merinding. “Lo gak malah naksir ma gue kan?” godanya yang langsung dijawab dengan lemparan bantal tepat di muka.



“Sialan,” umpat Rio gak terima.



Mereka mengakhiri percakapan itu disana untuk dilanjutkan besok. Bagaimanapun keputusan akhirnya nanti, pasti bakal ada yang terluka. Entah itu Rio, Kena, Valeia, atau Gero. Gak seorang pun bisa lepas dari perasaan canggung itu..



Rio menghela, “Hahh, dasar bocah,” rutuknya ke diri sendiri.




# #





Di rumah kediaman Raden Ayu Roro Valeia Ardhyoningrat Colin tengah terjadi ketegangan yang belum pernah ada sebelumnya. Valeia setelah merasa sakit hati mendengar pernyataan cinta Rio ke Kena, dengan berat hati memutuskan untuk membatalkan perjodohannya dengan Rio. Kini dia sedang berhadapan dengan sang ayah, yang merupakan kepala keluarga setelah sang kakek wafat.



Ayahnya, Mr. Colin menatap lekat sang putri tunggal seakan menahan amarah dan kerisauan di hatinya. Bagaimana gak, putrinya ini datang untuk menghancurkan perjanjian dua keluarga dan penghormatan terakhir bagi ayah dari tunangannya yang merupakan sahabat terbaik Mr.Colin. Ayah Rio, Mr. Stevandy. Alasan macam apa yang bisa membuat putrinya berubah pikiran tentang perjodohan ini?



“Valeia tahu ayah pasti marah, tapi ini keputusan akhir Valeia. Valeia minta ayah membatalkan perjodohan dengan Rio.” ulang Valeia demi meyakinkan ayahnya yang keras kepala.



“Kenapa kamu tiba-tiba mau membatalkan perjodohan ini? Ayah tahu kamu suka sama nak Rio,”

__ADS_1



“Tapi Valeia gak tahu Rio suka sama aku atau gak!” bantah Valeia keras, “Valeia gak mau jadi penghalang cintanya Rio. Bukan karena gak menghormati keputusan ayah dan mendiang paman Stevandy. Kalau nanti memang kita berjodoh, Valeia pasti akan tetap menikah dengan Rio. Tapi sekarang Valeia minta ayah batalkan dulu pertunangan ini, Valeia gak mau menikah tanpa cinta.”



“Ayah mau kamu pikirkan lagi baik-baik masalah pertunangan ini, jangan sampai kamu menyesal nantinya,” kata sang ayah lagi.



Valeia menggelang, ‘Valeia akan lebih menyesal kalau gak membatalkan pertunangan ini secepatnya. Valeia harap ayah mau mempertimbangkan keputusan Valeia. Sebagai putri ayah satu-satunya,”



Setelah mengatakan hal itu dengan tegas, Valeia pamit kembali ke kamarnya. Sekarang dia hanya bisa berharap ayahnya mau membatalkan pertunangan itu. Dengan begitu dia bisa menghadapi Kena secara adil untuk memperebutkan Rio. Valeia gak mau menang hanya karena dia sudah ditunangkan lebih dulu dengan Rio. Dia sadar kalau Kena dan Rio masih bisa berhubungan layaknya kekasih jika mereka mengabaikan moralitas masing-masing. Mereka hanyalah saudara tiri. Dan Valeia cukup yakin dengan kemampuannya untuk mendapatkan Rio.



Tapi bagaimana dengan satu orang yang tersisa? Yang juga bisa saja mengambil kesempatan dari keadaan ini. Sang pakar cinta yang sedang menunggu untuk mendapatkan cinta pertamanya kembali.



Valeia masih belum menyadari adanya faktor lain yang dapat mengganggu rencananya. Faktor yang bisa mengubah perasaannya terhadap Rio. Dia masih terlalu polos untuk bersaing secara adil.



“Aku yakin ini keputusan yang ku mau,” ulang Valeia untuk kesekian kalinya kepada dirinya sendiri.



Dan seseorang diluar sana, tengah mendoakan hal yang sama dengannya. Gak seorangpun bisa menebak apa yang mungkin dapat terjadi. Gak seorang pun menyadari bahwa orang yang terbaik bagi mereka sudah ada disisi masing-masing. Mereka hanya menyiakan kesempatan disaat mereka berpikir bahwa mereka sedang menciptakan kesempatan lainnya.



“Hahh, memang bocah” eluh seseorang yang sedang terjebak dalam intrik ini.





# # # #



.


__ADS_1



__ADS_2