ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 17 "Apa Ini?"


__ADS_3

27




“Gimana kalo kita double date aja?”



BRAK!


Valeia terlonjak dari duduknya dan reflek menggebrak meja. Saran yang baru saja dilontarkan Gero mengejutkannya. Double date? Siapa dengan siapa? Mempertemukan Kena, Rio, Gero dan dirinya sendiri? Kencan ganda memang satu dari sekian banyak hal yang ingin Valeia lakukan dengan Rio, namun jika dikaitkan dengan masalah yang sedang mereka hadapi akan terkesan memaksa. Tapi tetap saja ini double date!



Tatapan Valeia pada Gero semakin tajam. Ingin rasanya dia menghajar cowok blasteran yang playboy itu. Ide fantastisnya penuh perangkap, antara setuju dan gak setuju. Hati gadis yang tengah kasmaran itu merutuk kesal.



“Gimana?” tanya Gero meminta persetujuan Rio. “Anggap permintaan maaf gue, nanti gue yang ngabari Kena.”



Rio memasang tampang jijik ke Gero. Playboy satu ini memang gak pernah tanggung-tanggung kalo ngasih ide. Inspirasi dari mana lagi hingga dia bisa melontarkan usulan kencan ganda dengan otak jeniusnya.



“Haha, tatapan lo bikin gue sakit hati,” pedih Gero. “Iyain ajalah, nanti gue yang atur semuanya, lo tinggal terima jadi.”



“Kamu yakin udah minum obat tadi pagi?” sindir Rio.



“WOI!” geram Gero. “Lo curigaan banget ma gue. Sebagai calon kakak ipar baik-baik dikitlah ke gue. Kasih gue kesempatan buat kencan juga ma Kena!”



Rio mencengkeram kerah seragam Gero, pendengarannya barusan menemukan motif tersembunyi yang diselimuti dengan niat ngebantu permasalahannya dengan Kena. Inilah maksud sebenarnya dari usulan kencan ganda. Hati Rio menolak dengan tegas usulan tersebut. Dia gak akan pernah merestui hubungan Gero dengan Kena, meskipun cowok blasteran itu sohib terbaiknya.



“Apa kau bilang?” geram Rio.



“Kencan ma Kena...,” lirih Gero cengengesan sembari menahan cengkraman Rio.



“Kencan apa?” tanya Kena.



Ketiga orang yang berada dalam ruang OSIS reflek menoleh ke pintu masuk. Cewek yang sedari tadi mereka ributkan sudah berdiri disana dengan tatapan tanya. Rio dan Gero saling melirik, bagaimana cara menjelaskannya?


__ADS_1


“Ahahaha, Kena sayang, bukankah lo izin sakit?” tanya Gero mengalihkan topik.



Kena menerengkan kepalanya ke kanan, dia gak pernah absen sakit. Dia absen untuk merawat sodara yang sakit, tentu saja bukan sodara yang sebenarnya. Melainkan Nael yang gak mau berangkat ke sekolah dan meminta ditemani Kena. Jadi absennya hanyalah alasan saja. Pagi ini dia berangkat untuk mengantarkan surat izin ke bagian akademik sekaligus menginformasikan kalau Naelion Sandhika akan mulai masuk sekolah minggu depan. Siapa sangka saat melewati ruang OSIS dia mendengar pembicaraan yang menarik secara gak sengaja.



“Ayo lakukan,” kata Kena. “Kencan gandanya,”





# # # #


*



28




Apa ini?




Rio beralih mengamati dirinya sendiri. Kembali dia menyerngit, kebegoannya yang lain mengakibatkan dirinya bersusah payah berdandan keren dan modis. Bagaimana bisa dia menantikan dan bersemangat dengan kencan ini?



Rasanya ingin mengutuk hidupku sendiri. Apa yang sebenarnya sedang kulakukan disini? Eluhnya menyalahkan diri sendiri.



Ya, mereka sedang melakukan double date sekarang. Tapi gak jelas siapa berpasangan dengan siapa. Sedari tadi mereka hanya berputar-putar saja mengikuti keinginan para cewek. Sebenarnya bisa saja Rio berpasangan dengan Valeia seperti yang seharusnya. Tapi dia gak akan rela membiarkan Kena berpasangan dengan Gero.



“Jadi apa rencana lo sekarang?” tanya Gero yang masih sibuk dengan ponselnya.



Rio terdiam, memang apa rencananya? Dia masih belum menemukan jawaban atas perasaannya sendiri. Dia jatuh cinta pada Kena, tapi juga gak bisa melepaskan Valeia.



Sial, rasanya aku brengsek banget! Rutuknya ke diri sendiri. Tunggu, harusnya sohibnya itu yang membuat rencana sesuai kesepakatan mereka berdua. Gimanapun ini adalah ide begonya.



“Ngikutin rencana yang kamu buat,” jawab Rio pasrah. “Jadi apa rencananya?”

__ADS_1



Gero menoleh ke Rio, menghela napas. Segera dimasukkannya ponselnya ke saku celana, lalu ikut bersandar pada pagar.



“Gue gak bisa selamanya nahan diri,” kata Gero santai. Cowok blasteran itu memejamkan mata, “Kalo nanti gue yang jadi brengsek, lo boleh nonjok gue. Tentu aja gue bakal nonjok lo duluan dua kali,” lanjutnya dengan cengiran.



Rio menyipitkan alisnya, “Jangan bilang lo mau nembak Kena lagi,”



“Pfft, entahlah.” Gero mengangkap bahunya santai, “ Rencananya gue bakal nembak cewek yang gue suka. Gue bakal bikin kesempatan buat lo berduaan sama Kena. Valeia mungkin gak bisa ditipu, tapi dengan ketampanan gue, gak ada cewek yang bisa terus-terusan menghindar. Setelah itu terserah lo mau gimana ngadepin Kena.”



“Cewek yang kamu suka ya,” kata Rio memastikan, seakan mengerti maksud dari kata-kata ambigu itu. Dia tersenyum simpul menanggapinya.



“Yup,”



Meskipun terkesan bercanda tapi Rio tahu Gero sedang serius. Ini pertama kalinya sohibnya itu bersikap demikian. Kecurigaannya kalau Gero menyukai Valeia bukannya Kena bisa saja benar. Apa alasan masuk akal lain bagi Gero membantunya berbaikan dengan adiknya selain agar bisa mengambil kesempatan mendekati Valeia. Rio ingat dulu Gero pernah menembak Valeia, bila perasaannya belum berubah terhadap gadis itu....



Nyut. Eh?!



Rio menyentuh dadanya yang mendadak nyilu. Dia mengerjap beberapa kali, barusan itu apa? Apa aku terkena serangan jantung? Tapi sekarang sudah gak sakit lagi.



“Lo kenapa?” tanya Gero melihat sikap aneh Rio yang tiba-tiba tertunduk.



Rio segera menegakkan kepalanya, “Gak, bukan apa-apa.”



Apa benar ini bukan hal yang serius?





# # # #


*


__ADS_1


__ADS_2