
12
Gak seperti biasanya dimana mereka akan makan secara terpisah, bahkan bertatap muka pun enggan. Malam ini Rio, sang kakak, duduk dimeja makan dengan tenang. Dan didepannya Kena menatap sanksi tingkah Rio sambil menyantap makan malamnya pelan-pelan. Bagi Kena yang mengenal kakaknya itu sebagai seseorang yang gak menganggapnya adik, semua ini sangat mencurigakan.
Apa dia mau berterima kasih karena aku sudah merawatnya tempo hari? Atau mau meminta maaf karena sudah menjahiliku waktu itu? Pikir Kena curiga.
Dari tempatnya Rio sesekali melirik Kena diam-diam. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi ditahannya. Logikanya terus bertempur dengan perasaannya sejak kejadian tadi siang di sekolah.
“Kamu,” mulai Rio tiba-tiba, dia sudah gak tahan dengan rasa penasarannya terhadap Kena, “Tadi disekolah ditembak?” tanyanya langsung.
Uhuk!
Kena nyaris tersedak makanan yang sedang dikunyahnya. Matanya melotot ke Rio, seketika dia menghentikan tangannya yang hendak menyuap nasi ke mulut. Ia semakin curiga pada tingkah aneh sang kakak. Kenapa kakaknya tiba-tiba menanyakan hal itu? Sebelumnya dia gak pernah peduli padanya, lagian darimana Rio tahu kejadian siang tadi? Apa dia memata-matainya?
“Kamu terima?” tanya Rio lagi karena gak kunjung mendapat jawaban dari Kena. Sebenarnya dia agak bersyukur kalau Kena gak pernah menjawab pertanyaannya. Tapi dia juga merasa kesal karena hal itu.
“Kenapa?” tanya Kena balik setelah berhasil menguasai kekagetannya.
“Kalian pacaran?” tanya Rio lagi, matanya nyaris gak sanggup menatap Kena. Takut jika sang adik yang gak dianggap adik itu menyadari perasaannya.
“Aku pacaran ato enggak, gak ada hubungannya sama kakak.” Jawab Kena datar.
Jawaban itu menambah kelamnya suasana meja makan malam ini. Keduanya sadar bahwa hubungan mereka setelah percakapan itu mungkin akan semakin buruk. Namun, gak satupun mau mengalah atau menjelaskan dengan baik. Keduanya sama-sama keras kepala.
“Sebelumnya kakak juga gak peduli kan, jadi tetaplah kayak gitu. Hanya karena aku pernah merawat kakak, bukan berarti hubungan kita membaik,” lanjut Kena.
__ADS_1
Rio mengenggam erat sendok makannya, “Ohh, siapa yang peduli? Aku cuma gantiin posisi mama papa selama mereka gak ada dirumah. Gimanapun cewek dibawah umur pacaran itu bisa mencemari nama keluarga,” balas Rio gak kalah datar.
Kena tersenyum dingin, kesal, dan marah, “Aku bisa jaga diri sendiri, lagian aku juga tahu buat main aman. Kakak gak perlu—“
Brak!
Piring di meja sudah berserakan dilantai. Pecah. Namun Kena gak ada waktu memusingkan hal itu atau untuk terkejut karenanya. Ia lebih fokus pada tindakan yang saat ini dilakukan Rio. Menciumnya penuh gairah.
“Mmh...,”
Tubuh Rio terlalu berat dan cengkramannya terlalu kuat. Kena gak bisa melepaskan diri meski berusaha melawan. Otaknya langsung mencerna apa yang sedang terjadi. Ia memang pernah mencium Rio sebelumnya, tapi yang Rio lakukan sekarang adalah pemaksaan. Rio melakukannya karena emosi. Ia harus menghentikan Rio, sebelum kakaknya yang merepotkan itu kelewatan dan menyesali perbuatannya. Sekalipun Kena hanyalah adik yang gak dianggap adik, sekalipun mereka hanya saudara tiri. Mereka tetap memiliki batasan!
Crash.
Ciuman itu berhenti. Rio menarik diri dari Kena. Bibirnya berdarah. Barusan Kena menggigitnya. Dia menatap sang adik yang gak dianggap adik itu dengan garang. Dia marah! Kesal! Jengkel! Bersalah! Ini sungguh kacau.
Rio tertegun, dia memang brengsek. Tindakannya barusan bukanlah karena sebagai kakak tapi karena cemburu? Dia marah karena cemburu terhadap Kena? Karena Kena punya pacar? Atau karena perasaan bodohnya yang gak terkendali ini?
“Heh, cowok emang brengsek. Lalu apa? Kamu bahkan gak bisa jaga dirimu sendiri,” kata Rio dingin.
Mereka saling bertatapan dan perlawanan Kena membuat Rio semakin kesal. Lupakan tentang memulai dari awal, sekarang adiknya itu bakalan lebih membencinya. Harusnya Rio tetap bersikukuh pada prinsipnya! Rio menghantamkan pukulannya ke meja, lalu meninggalkan Kena disana sendiri.
“Ck, dasar bocah,” kesalnya.
__ADS_1
Kena terdiam, ia hanya menghela napas beberapa kali. Ia sadar kalau bersalah, setengahnya. Kenapa ia gak bisa bilang kalau udah menolak cowok yang nyatain cinta tadi siang. Kenapa ia malah membuat sang kakak semakin marah. Kenapa ia malah mengatakan kalau kakaknya brengsek. Kenapa ia gak berterus terang. Kena gak bermaksud melukai Rio.
Sekarang bagaimana dengan perasaannya?
“Hahh, kakak yang merepotkan,”
# #
Malam itu Kena gak bisa tidur. Matanya tetap terjaga meski ia sudah dua jam berbaring di kasur. Setelah kejadian saat makan malam tadi siapa yang bisa tidur dengan santai. Helaannya terdengar berulang kali, ia lelah, tapi pikirannya terus bekerja. Tiba-tiba sebuah panggilan muncul di ponsel Kena. Membaca nama yang tertera di layar membuat Kena langsung sadar siapa orang yang memberi tahu kakaknya tentang kejadian tadi siang. Ia masih bisa memahami kalau mungkin saja kakaknya gak sengaja melihat adegan itu, tapi mengenai detailnya mana mungkin sang kakak tahu.
“Kamu gak mau ngasih penjelasan ke aku?” tanya Kena langsung setelah ia menggeser tombol terima panggilan.
Seseorang di sisi lain panggilan tertawa, “Sayang, aku cuma jalanin tugas. Apa dia marah?”
“Menurutmu,” Kena menghela napas, “Lupakan, jadi kenapa kamu nelpon?”
Suara disisi lain diam. Kena sudah mengenal orang ini sangat lama, diamnya bisa berarti hal yang gak terduga. Jadi ia memutuskan untuk menunggu sampai orang ini bicara padanya. Meskipun kepalanya sudah cukup sakit karena pertengkaran barusan, tapi mendengar suara orang ini membuatnya kembali tenang.
“Kangen?” goda Kena. Dan terdengar tawa yang menostalgia baginya.
“Aku kembali,” balas suara itu singkat.
Kena tersenyum simpul. Dia sudah kembali.
__ADS_1
# # # #