
11
Setelah insiden belakangan ini harusnya mereka akan sedikit lebih dekat dan akrab layaknya adik kakak sesungguhnya. Setidaknyaitulah yang dipikirkan Rio, namun kenyataan memang selalu kejam. Padahal ia sudah berniat memulai segalanya dengan Kena dan melupakan masa lalu yang membuatnya trauma selama ini. Trauma yang membuatnya gak pernah mengakui Kena sebagai adiknya. Trauma yang membuatnya takut kehilangan lagi.
“Tapi sekarang beda, lalu kenapa?” eluh Rio ke diri sendiri.
“Kenapa apanya?”, tanya Gero yang sedari tadi hanya diam melihat kegalauan sohibnya itu. Gero meletakkan pulpen yang dimainkannya ke meja. Siap menyimak keluhan Rio.
Rio mendesah berat. Berat untuk membuang jauh-jauh perasaannya ini, berat banget!
“Hoi!” teriak Gero, “Lo kenapa sih? Mikir jorok ya,”
“Enggaklah,” sanggah Rio sambil menimpuk sohibnya itu pake buku paket, Gero nyengir. “Lagi mikir Kena,” lanjutnya kalem.
“Parah lagi tuh! Lo gak ada niatan jahat ma calon istri gue kan?”
“Kapan aku merestui hubungan kalian,” Rio kembali nimpuk Gero, kali ini pake dua buku paket. “Menurutmu mana yang harus kupilih? Misal aku baikan ma Kena sama aja aku mengkhianati prinsipku sendiri, dan aku juga gak tahu gimana reaksi Kena nantinya,”
__ADS_1
“Sebodo amat sama prinsip bego lo yang Kena adalah adik yang gak dianggap adik. Kalo lo emang mau baikan ma dia ya lakuin aja. Lagian terlalu fokus sama trauma gak jelas lo itu cuma bakal menyia-nyiakan adik yang udah lo miliki sekarang!”
Gero benar, ia gak mau menyia-nyiakan keberadaan Kena sebagai adik yang gak dianggap adik. Tapi hubungan mereka gak ada perubahan sejak kejadian sakitnya itu. Dan lagi Rio masih memiliki perasaan lain terhadap Kena. Ia ingin mengakui Kena sebagai adik, tapi gak ingin mengakuinya juga. Logikanya berdebat dengan perasaannya. Rio memijat ringan pelipisnya. Frustasi.
Gero gak habis pikir sama sohibnya ini, udah mendapatkan apa yang diinginkan tapi malah mau disia-siakan. Agak kesal juga dia dengan tingkah sok tersiksa Rio. Gero menoleh ke jendela untuk menjernihkan pikirannya sekaligus mencari angin segar. Saat itulah matanya menangkap adegan gak terduga di bawah sana.
“Oy,” Gero memberi isyarat dengan dagunya agar Rio mendekat ke jendela juga.
Dengan enggan Rio bangkit dan menoleh ke arah yang dimaksud Gero. Dibawah sana sang adik yang gak dianggak adik, Kena, terlihat sedang menerima pernyataan cinta dari seorang cowok. Kedua bersahabat itu menyerngit gak senang.
Lalu Gero mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dan mulai mengetik sesuatu. Ting. Tak lama berselang sebuah pesan balasan muncul. Cowok blasteran itu langsung membacanya sekilas sebelum menyerahkan ponselnya ke Rio. Agak enggan Rio menerimanya, tapi ia juga penasaran dengan identitas cowok yang menembak Kena. Ia membaca data itu dengan serius. Alisnya berkedut gak senang. Tiba-tiba ponsel itu bergetar menandakan ada seseorang yang menelpon. Rio mengangkatnya dan mengaktifkan mode loud speaker.
Terdengar suara cowok dari sisi lain panggilan, “Halo kak, haruskah aku membuat daftar siapa saja yang pernah menembak gadis itu dan siapa saja yang pernah pacaran dengannya?” tanya cowok itu antusias.
Rio dan Gero saling berpandangan dalam diam. Pertanyaan itu sangat mengusik ketenangan hati mereka berdua, tapi harga diri mereka sepertinya lebih tinggi.
“Kak? Atau kau ingin aku mencari tahu tiga ukurannya?” pertanyaan lain terlontar, “Aku juga bisa mencarikan foto seksinya. Oh ya, apa dia pacar barumu? Atau selingkuhanmu? Atau dia targetmu yang baru?” pertanyaan
__ADS_1
silih berganti.
Gero lekas menyambar ponselnya dari tangan Rio, “Diem ato gue bakal bunuh lo!” geram Gero sarkastis. Tentu saja dia gak serius, tapi bisa saja Rio akan membunuhnya kalau semua informasi yang dikatakan itu benar-benar ada. Dia masih sayang nyawa.
Tiiiit—
Panggilan langsung terputus. Gero melirik waspada ke Rio. Cowok bermata hijau itu masih diam ditempat, namun justru itu membuatnya lebih menyeramkan. Gero dapat merasakan aura mematikan di sekitar sohibnya itu menyebar. Rio sedang sangat marah sekarang. Dan Gero gak mau mengambil resiko untuk lebih mengusiknya lagi. Jadi dia mengalihkan pandangannya kembali ke bawah melihat Kena.
“Ah, mereka pergi,” terang Gero, “Dari ekspresinya apa Kena menerima cowok itu?” tanpa sadar pertanyaan yang seharusnya gak ditanyakan keluar.
Gero langsung menyadari kesalahannya. Dia merasakan aura membunuh disampingnya semakin kuat, sepertinya dia baru saja menginjak ranjau. Tanpa berani melirik ke Rio, secara perlahan Gero menjauhkan diri dari sohibnya yang sedang memanas itu.
Rio menatap ke arah Kena pergi dengan kesal. Ia merasa kesal karena perkataan Gero? Kesal karena adiknya gak mengatakan apapun padanya? Atau ia kesal karena alasan lain? Rio hanya merasa kesal, sangat kesal pada perasaannya sendiri yang gak jelas terhadap Kena, adik yang gak dianggapnya adik itu.
“Ck, dasar bocah,” umpatnya.
# # # #
.
__ADS_1