
40
Sebuah buket bunga biru muda dan sebuah amplop berpita biru. Romantisme yang baru saja diterimanya beberapa saat lalu, menampilkan senyuman manis yang sempat terpasang di wajahnya. Begitu cepat berubah menjadi kekecewaan.
Tangan Kena bergetar saat melepas pita yang mengunci amplop dan membukanya. Membaca setiap baris dari isi surat yang ditujukan hanya untuknya itu. Sejenak kemudian senyumannya menghilang menjadi cengiran canggung. Kebahagiannya terkikis oleh kata-kata singkat yang tertulis didalam surat.
Padahal kata sapa yang penuh cinta itu tertulis disana.
“Dear My Lope”
Baris pertama yang tertulis diikuti sebuah pernyataan.
“Aku mencintaimu.”
Ditutup sebuah nama yang lekat dibenaknya.
“Naelion Sandhika.”
Gigi Kena bergemeretak. Dia geregetan. HANYA! TIGA! BARIS!
Padahal Kena mengharapkan kata-kata panjang yang menyanjung tinggi dirinya. Sama seperti surat-surat cinta yang didapat teman-teman ceweknya disekolah.
“HAHAHAHAHAHAAAHAHA!” Kena tak kuasa menahan tawa. “Astaga, bocah sialan ini!”
Kata singkat yang menusuk seperti ini memang cocok dengan gaya Nael. Hanya satu baris inti yang sudah bisa menjelaskan segalanya. Aku mencintaimu.
“Hahh....”
Kena mendekap erat buket bunganya ke dada. Dia semakin merindukan Nael. Beberapa hari ini dia tidak melihat cowok itu, bahkan di apartement sekalipun. Dalam pikiran Kena, mungkin saat ini Nael sedang bersembunyi di suatu tempat untuk mengejutkannya. Menyiapkan makan malam romatis untuk mereka berdua, atau setidaknya membelikannya kue? Yah, walau Nael gak mungkin melakukan hal seperti itu. Kena hanya berharap. Harapan yang barangkali terlalu tinggi.
Dia meraih ponselnya, lalu menghubungi Nael. Saat dering telepon itu berhenti dan panggilan terangkat, suara dari sisi lain panggilannya adalah milik orang lain. Sekali lagi dia harus menghadapi kekecewaan atas angan-angannya sendiri. Sebab kata-kata yang mengikuti suara itu adalah sebuah kekacauan yang tak sekalipun terbayang oleh Kena.
“Kena, ini kakek.” Sapa suara yang menerima panggilannya. “Bagaimana kabarmu disana sayang?” tanyanya kemudian.
“Kakek Stevial? Kapan kakek datang ke Indonesia?” tanya Kena yang tak bisa menahan rasa bahagianya. “Apa Nael bersama Kakek?”
Stevial Lesseter adalah kakek kandung Naelion Shandika yang selama ini tinggal di Inggris. Stevial merupakan satu-satunya anggota keluarga yang paling dekat dengan Nael. Kakek Stevial lah yang membesarkan Nael dan yang menanggung seluruh akomodasinya selama ini. Kena sangat jarang bertemu atau berbicara dengannya, meskipun sang ayah sangat akrab dengan Kakek Stevial.
Jika sang Kakeklah yang menerima panggilan atas nama Nael, kemungkinan beliau sudah ada di Indonesia dan sedang bersama dengan Nael saat ini. Atau malah Nael yang sudah terbang kembali ke Inggris.
Kena segera menyampik pikiran curiganya.
“Harusnya Kakek mengabariku kalau akan datang, jadi aku bisa ikut menjemput Kakek dibandara.”
“Kakek pasti akan mengunjungimu di Indonesia lain waktu,” kata Kakek ramah.
Namun, arah pembicaraan tak sesuai dengan yang Kena inginkan.
“Maksud Kakek?”
“Kena, ada yang harus kakek sampaikan padamu.” Kakek Stevial menjawab dengan nada serius.
__ADS_1
Kena segera duduk tegak. Dia merasakan firasat buruk dari arah pembicaraan ini. “Apa ada yang terjadi?” tanya Kena was-was.
Suara menjadi hening sejenak. Rasa pahit yang muncul dibibirnya membuat Kena merasa takut. Dia tak ingin menebak-nebak apa yang telah terjadi. Meskipun dia mulai merasakan dingin merambat ke tubuhnya, tangannya tetap kuat memegang ponsel agar tak terjatuh. Waktu jeda yang terasa panjang itu, seakan-akan mengisyaratkan keheningan sebelum badai datang.
“Kena sayang, Nael sudah kembali ke Inggris. Dia tidak akan kembali lagi ke Indonesia.” Kakek Stevial memulai pembicaraan, “Petunanganmu dengan Nael juga akan berakhir disini. Kakek sudah berbicara dengan papamu, kami sepakat untuk mengakhiri pertunangan kalian. Kakek berharap kamu bisa mengerti situasinya, ini yang terbaik untuk kalian berdua.”
“Apa maksud Kakek? Bukankah pembahasan pertunangan ini sudah selesai dari dulu, Kakek dan Papa sudah setuju untuk membiarkan kami tetap bersama.” Tegas Kena mengingatkan
Kakek Stevial menggeleng meskipun Kena tak bisa melihat itu, “Kakek minta maaf sayang. Kakek tahu kamu yang paling perhatian pada Nael selama ini. Namun, Kakek tidak bisa mengambil kebahagianmu lagi. Bersama Nael hanya akan membuatmu terbebani. Kamu layak untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik sayang.”
“Aku tak pernah merasa terbebani!” Kena menggigit bibir bawahnya, “Biarkan aku bicara dengan Nael. Dia tak mungkin setuju dengan keputusan ini!”
Kena menolak apa yang baru saja didengarnya. Ini terlalu mendadak! Setidaknya biarkan dia menyiapkan diri atau merundingkannya dengan Nael lebih dulu. Cowok itu tak mungkin memutuskan sesuatu secara gegabah. Otak Kena berusaha mencerna semua point secara paksa, tapi dia tetap tak mengerti alasan semua ini bisa terjadi.
“Biarkan aku bicara dengan Nael!” pinta Kena lagi.
“Sayang, Nael sendiri yang meminta pertunangan ini diakhiri.” Jelas Kakek Stevial. “Kakek tidak tahu apa yang telah terjadi pada kalian sejak Nael kembali ke Indonesia, tapi Nael bersikeras pada keputusan ini.”
Sorot mata Kena mendingin, “Bukankah hubungan kami baik-baik saja selama ini. Bahkan dia baru saja mengirimiku bunga. Surat ini juga,”
Kena memeluk erat buket bunganya, lalu mendadak dia tersadar akan satu hal yang pernah dia baca di majalah milik Nael. Dia tak ingin menanyakannya tapi,
“Apa bunga ini artinya perpisahan?”
Lidah Kena semakin pahit saat mengatakan itu.
“Ini perpisahan.”
Kena membeku. Rasa dingin menjalar di sekujur punggungnya. Napasnya sempat tertahan sejenak sebelum berhembus lemas.
“...................”
Kena menahan suaranya dari keinginan untuk menjerit. Dia mencoba melakukan panggilan beberapa kali lagi, namun nomor ponsel Nael tak lagi bisa dihubungi. Ponsel terlepas dari genggaman Kena begitu saja. Kena menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, telentang dengan sebelah lengannya menutup kedua matanya yang memerah.
“Hahh, hahh....” suara napas yang berat.
Bunga perpisahan. Itulah arti dari bunga yang diterimanya ini. Hahh. Mata Kena terasa perih meski telah dipejamkan. Dia lantas berkedip beberapa kali dan bulir-bulir air yang menetes dari tepi matanya jatuh ke sisi.
Perasaan terkhianati yang menusuk hatinya begitu dalam. Kena tak tahu lagi haruskah dia marah, kesal, sedih, atau pasrah menerima. Tapi rasa dingin di hatinya ini nyata. Seakan udara diambil dari rongga paru-parunya, sesak.
“Hahaha...” tawanya datar.
Kena kembali memejamkan mata, gak! Dia gak bisa menerima semua ini!
Sebelum kesadarannya menggila, cepat-cepat tangannya meraih ponsel yang tadi dia jatuhkan. Kali ini dia bukan menelpon Nael, namun orang pertama yang terlintas di benaknya. Saat panggilan terhubung Kena sangat bersyukur, lalu menggunakan seluruh kekuatan yang tersisa dari kesadarannya untuk mengucapkan nama itu. Menggantungkan nasibnya disana.
Karena saat ini Kena tak ingin sendirian.
“RIO!”
# # #
__ADS_1
41
“Ini perpisahan.”
Ucapan itu terasa pahit dilidahnya. Nael melempar ponsel yang digenggamnya ke samping, mengenai dinding dan retak. Layar yang berkedip-kedip itu bagaikan hatinya, lalu padam tak menyala. Dia yang mengucapkannya dan dia yang paling terluka.
Tapi demi kebahagiaan Kena. YA! Demi Kena, hanya itu, hanya itu yang paling penting!
Bagaimana bisa dia menahannya lebih lama lagi. Nael tahu cepat atau lambat mereka akan berpisah. Ingatannya menampilkan sebuah area bermain rumah miring. Adegan Kena yang tengah berciuman dengan cowok lain di dalam sana tak bisa dia hapus.
Dia tahu! Dia sadar! Dia tak ingin mengakuinya! Dia ingin menahannya!
Nael tak ingin mendengar Kena mengucapkan kata perpisahan. Saat itu terjadi, dia tidak akan sanggup menerimanya. Maka dari itu lebih baik dirinyalah yang lebih dulu memutuskan hubungan. Dengan begitu dia tak akan merasa dicampakkan.
“ARRGGGGGHHH!!!”
# # #
Sang Kakek, Stevial Lesseter yang melihat dari samping hanya bisa diam. Kata-kata apapun yang ingin diucapkannya saat ini tidak akan terdengar oleh Nael. Dia hanya bisa menungu sampai sang cucu lebih tenang. Stevial menggelengkan kepala menyayangkan nasib cucunya, lalu menoleh ke arah seorang pria pertengahan 40 tahunan yang juga berada di ruangan itu.
Dokter Hubert. Secara seksama menyaksikan adegan bodoh dari dua orang yang jelas-jelas saling mencintai, namun tetap membohongi diri satu sama lain. Cinta masa SMA. Cinta monyet yang pasti pernah dialami setiap orang yang kini sudah beranjak tua, seperti dirinya, ataupun Kakek tua yang memperkerjakannya.
Hubert, pria itu keluar dari ruangan di-ikuti Kakek Stevial. Membiarkan sang anak muda yang tengah menangis di dalam sana sendirian.
Mereka sudah memastikan ruangan itu kosong. Sudah memastikan anak muda itu tidak membawa benda berbahaya bersamanya, termasuk menyingkirkan ponsel yang tadi dibanting ke dinding. Sudah memastikan bahwa kamera pengawas yang terpasang dalam ruangan itu merekam dengan jelas setiap gerak-gerik yang terjadi.
“Dia akan membaik dalam beberapa hari,” kata dokter Hubert menenangkan Kakek Stevial.
“Kuharap begitu,” balas Kakek Stevial pasrah.
Dokter Hubert menatap layar monitor yang menampilkan sosok Nael, “Jangan terlalu cemas. Dia menahan diri dengan cukup baik. Aku akan tetap berjaga disini, jadi anda bisa pergi istirahat.”
“Hahh, aku merasa bersalah pada kedua anak itu.” Sekali lagi Kakek Stevial menggelengkan kepalanya menyayangkan nasib sang cucu.
Dokter Hubert tersenyum ringan, “Anak muda selalu membuat keputusan yang bodoh dan ceroboh. Kita juga pernah mengalami masa itu bukan,” katanya santai. “Pada akhirnya saat mereka dewasa nanti, mereka akan menyadari bahwa semua hal ini bukanlah apa-apa. Ini hanya salah satu proses menjadi dewasa.”
Pandangan dokter Hubert beralih ke Kakek Stevial, “Saya rasa ada baiknya juga, dengan begitu cucu anda akan lebih fokus dalam pengobatannya. Selama ini dia selalu mencari-cari alasan dengan bersikap baik agar diizinkan menemui gadis itu. Sekarang kita bisa memulai apa yang kita tunda sebelumnya.”
“Kau benar. Lakukan apapun yang terbaik untuk cucuku, dokter.” Pinta Kakek Stevial yang dibalas dengan anggukan ringan dokter Hubert.
Mereka kembali menatap layar monitor.
Dalam ruangan yang kosong itu. Nael meringkuk menangis sambil menggumamkan nama orang yang baru saja diputuskannya. Gumamam yang lambat laun menjadi teriakan, lalu jeritan. Hingga kesunyian yang menyesak membuatnya jatuh tertidur. Bahkan dalam mimpinya dia masih berharap, perpisahan yang dibuatnya ini tak pernah terjadi. Penyesalan ini tak pernah ada. Rasa sakit ini menjadi uap. Dan saat dia membuka matanya lagi, keadaan kembali seperti semula. Gadis itu berada disampingnya, menyapanya, memeluknya, mengecup hangat pipinya.
Namun itu hanyalah angan-angan kosong.
“Anandia Kena Altair.”
Bisikan dalam tidur itu dengan cepat berakhir. Tanpa sedikitpun Nael akan mengingat di saat bangunnya nanti. Apa yang terjadi saat ini, hanya akan menjadi mimpi buruk yang akan terlupakan saat dia membuka mata.
“Good night my lope. I do always love you more.”
__ADS_1
# # # #
.