
47
“Cobalah mengingatnya.” Kata Adit, “Adit.”
“Apa?” bingung Kena.
“Namaku Adit!” ulang Adit.
Percakapan itu terulang di mimpi Kena. Gadis itu bangun dari tidurnya, terduduk sembari mengerjap-ngerjapkan mata. Seberkesan itukah sosok Adit sampai-sampai terbawa dalam mimpi. Kena menggelang, dia memang memikirkan perkataan cowok itu.
“Gak juga, kan ada istilah cinta pada pandangan pertama.” Terang Adit percaya diri. “Lagipula aku kan juga pernah menembakmu dan ditolak olehmu, tidakkah artinya kita sangat dekat?”
“Pernah menembak dan ditolak olehku?” Guman Kena menanyakan pada dirinya sendiri. “Kapan?” bingungnya.
Terlalu banyak cowok yang mencoba menembaknya. Ingatan Kena memang bagus, tapi dia sama sekali tidak mengingat ada pernyataan cinta dari Adit. Atau dari sosok yang mirip Adit. Penampilan Adit yang mencolok harusnya sulit dilupakan. Dirinya saja bisa ingat bahwa cowok itulah yang mengantarkan paket padanya sebagai kurir.
“Disaat seperti ini seandainya ada Nael,”
Bibir Kena langsung terkatup. Dia masih tidak bisa menghubunngi Nael sejak saat itu. Seakan Nael tertelan bumi, keberadaannya menjadi ilusi. Barangkali Nael ada bersama sang kakek di Inggris. Tapi berapa kali pun Kena meminta untuk dipertemukan, dia selalu ditolak. Ayahnya juga tidak bisa diandalkan. Semua orang menyembunyikan informasi tentang Nael darinya.
“Nael....”
Kena menjatuhkan diri ke belakang. Buk. Diliriknya jam beker di samping kasur. Pukul 06.30 pagi. Masih terlalu dini untuk bangun. Hari ujian semester pertama sudah berakhir, tinggal menunggu hasilnya keluar. Sementara Olimpiade akan diadakan besok senin. Kena harus banyak istirahat hari minggu ini.
Klek.
“Dek, udah bangun?” suara Rio yang kepalanya melongok di celah pintu kamar Kena.
Mata Kena menyipit menatapnya, “Belum.” Jawabnya singkat.
Rio masuk menghampiri Kena. Membaringkan kepalanya di atas perut Kena. Menatap ke langit-langit. Kena menarik rambut Rio pelan.
“Apaan?” tanya Kena bingung.
“Tidur.” Jawab Rio.
“Ke kamarmu sendiri sana.” Usir Kena sembari mendorong sedikit bahu Rio.
Rio senyum, “Udah nyaman disini.”
“Jangan sampai keterusan,” Kena menekan kening Rio dengan ujung telunjuknya. “Berat!”
Tidak ada balasan dari Rio. Saat Kena melihat ke Rio, cowok itu rupanya benar-benar tertidur. Kena menghela napas. Wajah tertidur seorang cowok sengak bernama Rio.
“Pfft, kalau kufoto dan kujual pasti laku.” Seloroh Kena.
Disentuhnya hidung cowok itu. Suara napas Rio yang naik turun. Begitu dekat dengannya, begitu pulas. Lambat laun ujung telunjuk Kena bergerak pelan ke pipi Rio. Lalu mengarah ke bibirnya. Kena terpaku.
“................”
Sial! Mata Kena lekas berpaling. Digunakannya ke dua lengan untuk menutup mukanya sendiri. Malu. Apa yang kupikirkan pagi-pagi begini! Dasar bodoh!
Kena kembali melirik ke Rio. Kali ini dengan kesal. “Ini gara-gara kamu kak!”
GEDEBUK!
Sekali hentakan Kena membuang tubuh Rio ke samping. Tubuh Rio jatuh dari tempat tidur. Tanpa perlindungan. Cowok itu langsung terbangun. Memegangi kepalanya yang terantuk lantai.
“Sudah bangun kak?” tanya Kena meledek.
Rio melotot ke Kena, “Wahh, kau punya cara yang sangat menarik buat membangunkan kakakmu ya.” Sinis Rio.
“Terima kasih pujiannya.” Ucap Kena bangga.
__ADS_1
Keduanya saling tatap. Hening sejenak. Rio membuat cengiran di wajahnya. Kena langsung bersiap turun dari kasur. Mengambil ancang-ancang.
“Tunggu sampai aku menangkapmu,” ancam Rio.
“Coba saja.” Tantang Kena.
Rio menerjang langsung ke arah Kena, namun gadis itu cepat tanggap. Kena melompat turun dari kasur, lalu berlari keluar kamar. Menuruni tangga dengan berpeganan pada pegangan tangga. Dibelakangnya Rio mengejar. Kedua nya tertawa lepas.
“Hei! Tunggu anak nakal!” teriak Rio dibelakang.
“Noooo!” jawab Kena tidak mau kalah.
Akhirnya Rio berhasil menangkap Kena di ruang makan. Saat gadis itu sudah duduk di kursinya, Rio mendekapnya dari belakang.
“Kena kau!” kata Rio lantas menggelitiki pinggang Kena.
“Uwa! Kakak bodoh!” Teriak Kena berusaha melepaskan diri. “Hahahah, lepaskan!”
“Hahhaha, Gak!” tolak Rio.
“Kak Rio!”
Kedua tingkah remaja itu hanya di tonton saja oleh kedua orangtuanya tanpa ada niat melerai. Keduanya merasa senang karena anak-anak mereka menjadi lebih akrab dari biasanya. Mereka tidak ingin menggangu moment kedua adik kakak itu.
Sang mama melirik ke arah sang Papa. Keduanya tersenyum. Bersyukur karena akhirnya mereka bisa menjadi keluarga yang sesungguhnya. Rio, anak laki-laki mereka sudah tidak mengurung diri dikamar atau menghindari mereka. Kena, anak perempuan mereka lebih dekat dengan sang kakak dan lebih bersikap terbuka. Sebagai orang tua tentu saja mereka berdua merasa bahagia dengan berkembangan ini.
Sang mama mengusap air matanya yang hampir menetes. Sang papa mengusap-usap pundak istrinya itu lalu meraih tangannya. Menggenggamnya penuh kasih.
# # # #
“Selamat pagi sayang,”
Sapaan yang manis disertai kecupan selamat pagi di pipi membuat cowok blasteran itu dengan enggan membuka matanya. Sebentar untuk melihat sosok wanita yang duduk di sisi ranjangnya. Lalu matanya kembali menutup.
Wanita itu menarik lengan Gero, memaksanya bangun.
“Mmm,” rancau Gero.
“Gero, ayo sayang!” tegas wanita itu penuh kehangatan.
“Mom, masih kepagian ini.”
Gero yang mau tidak mau memaksakan tubuhnya untuk bangun, terduduk lemas di atas kasur dengan mata yang masih tertutup. Dia mengusap lehernya dengan malas. Rambut pirang acak-acakan, memakai kaos oblong milik bokapnya, dengan celana boxer merah tua yang aslinya dia ambil dari lemari Rio tanpa bilang-bilang sang empunya boxer. Disertai kilatan merah dari setengah matanya yang terbuka. Pemandangan yang bahkan membuat sang Mama kagum karena berhasil melahirkan anak seganteng Gero.
“Memang ya, gen itu tidak pernah berkhianat.” Ucap sang Mama seolah akan menangis. “Yah, aslinya papamu memang sudah ganteng, ditambah kecantikan mama ini...”
Mendengar dirinya dipuji, Gero membuat bentuk V menggunakan jari telunjuk dan jempolnya, lalu menempatkannya di bawah dagunya sendiri. Ingin menegaskan kalau dia memang ganteng. Ekspresi cengiran kuda yang tersungging di wajahnya menambah kesan nakal yang menggoda.
Sang mama langsung menerjang memeluk anaknya dengan sayang, “Malaikat kecil mama!”
Gedebuk!
“Mom!” teriak Gero yang ikut jatuh ke belakang akibat gaya dorong sang mama yang menimpa tubuhnya. Belakang kepalanya otomatis membentur sisi tempat tidur.
“Ups, sorry sayang!” ucap sang mama.
Sang mama mengusap-usap kepala Gero yang terbentur. Karena benturan itu mata Gero langsung terbuka seutuhnya. Terlihat sepasang mata merah yang mirip dengan mata sang papa. Meski samar, sang mama sedikit menampilkan tatapan sedih mengingat suaminya yang sudah sebulan belum pulang dari dinas ke luar negeri.
“Are you okay mom?” tanya Gero.
Kesedihan yang samar itu tetap saja tidak lepas dari perhatian Gero. Dia sangat peka terhadap perasaan sang mama.
“Ya,” sang Mama terseyum lembut, “I miss your dad,”
__ADS_1
Gero lantas memeluk mamanya dengan erat sembari mengusap-usap pelan punggung sang mama. Baru sebulan ditinggal dan sang mama sudah melankolis begini. Tidak terbayangkan se-drama apa bila sang papa tidak jadi pulang bulan depan. Setidaknya Gero bisa kasih bahunya sebagai sandaran buat sang mama.
Sang mama melepaskan pelukan Gero. Pakk! Menepukkan kedua telapak tangannya satu kali, sebagai tanda bahwa waktu melankolis sudah selesai.
“Ayo, kamu bisa telat ke sekolah.”
Gero dengan pasrah membiarkan dirinya di tarik sang mama. Bangun dengan lunglai, berjalan ogah-ogahan keluar kamar. Dia duduk di meja makan, mengamati mamanya yang menuangkan sereal dan susu ke dalam mangkok lalu menaruhnya ke hadapan Gero. Gero mengambil sendok, melahap satu suapan penuh ke dalam mulut. Saat rasa manis terasa di lidahnya, otaknya kembali berfungsi normal. Memproses sebuah informasi yang menghasilkan sebuah kalimat tanya.
“Bukannya ini hari minggu?” tanya Gero tersadar.
Sang mama menatapnya sejenak, memproses pertanyaan itu. Lalu seakan ikut tersadar, beliau langsung tersenyum canggung.
“Ups,” ucap Mama.
“Hahh..hahaha” tawa Gero datar.
# # # #
Trrrtrrrrt!
Trrrtrrrrt!
Getaran ponsel diiringi sebuah lagu berjudul first love karya yiruma yang dimainkan menggunakan piano terdengar. Sebuah tangan meraba-raba sisi atas tempat tidur. Jemarinya menelusur setiap sudut demi mencari benda mungil persegi yang seingat si pemilik diletakkan di sana.
Setelah beberapa saat benda bernama kacamata itu akhirnya berhasil diraih. Adit lekas memakai kacamatanya, sembari tangan satunya menjangkau ponsel yang tertimbun di bawah bantal.
Melihat nama yang tertera di layar, semburat senyum tipis terlukis di wajahnya. Ditekannya tombol hijau untuk menjawab panggilan video itu.
“Selamat pagi,” sapa Adit sok cuek.
“Ini siang!” sarkas sang penelepon kesal. “Aku udah belasan kali panggil kamu,”
“Mungkin kau lebih tertarik membangunkan selingkuhanmu itu daripada membangunkanku?” sindir Adit.
“Hahh...”
Suara helaan napas dari cewek yang menampilkan ekspresi lelah pada kepekaan tak berguna si cowok yang sedang video call dengannya itu. Mereka sudah melakukan panggilan pagi ratusan kali sejak mereka saling kenal, bahkan sudah menjadi rutinitas yang mendarah daging bagi keduanya. Saat mereka sedang marahan seperti ini pun si cewek tetap menyempatkan diri membangunkan ‘cowok kelewat peka untuk hal tak berguna itu’ dengan senang hati.
“Well, harusnya aku membangunkan Gero saja kalau gitu.” Kata cewek itu. “Tidak usah repot-repot membangunkanku besok pagi, karena aku tidak akan mengangkat panggilanmu.” Tandasnya.
“Kau serius?” tantang Adit, sebelah alisnya sedikit terangkat.
Si cewek menatap mata Adit dengan datar. Saat itu juga Adit merasa telah membuat kesalahan fatal. Perasaannya mengatakan bahwa dia harus merutuki kebodohannya sendiri.
“Hei, kau bercanda kan?” tanya Adit ragu-ragu. “Puspa?”
Puspa tersenyum manis sebelum mematikan panggilan video nya secaras sepihak. Membuat adit gelagapan.
“PUSPA!” teriak Adit.
Dia mencoba menghubungi nomor cewek itu. Namun berkali-kali panggilannya ditolak. Agak frustasi dia bergegas bangkit dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Prioritasnya saat ini adalah mengembalikan rutinitas video callnya dengan cewek itu. Jangan sampai rutinitas itu ikutan kandas seperti hatinya.
“Pusspaaaa!!!”
Tentu saja panggilan yang nyaring itu diabaikan oleh si cewek. Yah, good luck Adit!
# # #
TBC.
Terima kasih untuk setia membaca novel ini 🥰
Salam sayang,
__ADS_1
IndahRashie