
9
Berapa lama aku tertidur, aku gak ingat. Aku gak bisa melihat waktu, semua gelap, terlalu gelap. Siapa aku?
“Mau sampai kapan kau akan tidur?”
Suara itu merasuk. Suara siapa? Adik? Adik siapa? Aku?
Adikku sudah lama mati. Aku sendiri yang telah membunuhnya. Aku yang membuatnya menghilang. Lalu kenapa aku tetap hidup?
“Kakak.”
Siapa yang memanggil? Hangat. Begitu hangat. Siapa disana?
Mataku terbuka perlahan, terlalu silau disini. Ah, kepalaku, apa yang kulakukan disini?
“Kau sudah bangun?”
Suara itu lagi, siapa? Seorang gadis duduk disebelahku, rambutnya hitam panjang. Wajahnya manis, sangat cantik. Dia menatapku dengan lensa hijaunya. Siapa? Adik? Adikku? Ah, ya. Adik tiri ku, sang adik yang gak ku anggap adik.
“Tidurmu lama banget sampai kukira kau sudah mati,” celetuknya.
Kasar banget adikku ini.
“Minum.”
Dia menyodorkan segelas air putih padaku, aneh rasanya minun setelah tidur sangat lama. Lidahku terasa pahit dan masam. Dia memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkan punggung tangan mungilnya di keningku. Wajahnya terlihat cantik saat dia duduk disebelah ku, tangannya memegang obat. Dengan telaten dia membantuku minum obat. Lalu membantuku berbaring lagi dan mengatur suhu ruangan agar tetap hangat. Aku memandanginya yang merapikan selimut di tubuhku.
Kenapa dia jadi sebaik ini?
__ADS_1
“Apa?” tanyanya, mungkin karena aku terlalu lama memandanginya.
“Sedang apa kau disini?” tanyaku jahil.
Dia langsung menampilkan ekspresi tidak senang, “He?”
10
“Sedang apa kau disini?” Tanyanya.
Apa pendengaranku salah? Tidak, dia barusan bertanya apa yang sedang kulakukan disini. Ok, apa yang sedang ku lakukan disini? Jelas merawatnya yang sedang sakit. Aku sampai kurang tidur untuk menemaninya, belum lagi mendengar igauannya yang mengenaskan. Aku baru saja membantunya minum obat dan akan menyiapkan sarapan untuknya karena sejak kemarin dia hanya berbaring tanpa makan apapun. Dan sekarang dengan polosnya dia bertanya apa yang sedang kulakukan disini?
Oh, cukup sudah!
Aku berniat menumpahkan isi obat yang kubawa ke kepalanya, namun tiba-tiba dia tertawa, membuat ku urung melaksanakan niat jahat ini. Melihatnya tertawa terbahak-bahak membuatku cengo. Tapi aku bersyukur karena berarti dia sudah baik-baik saja sekarang.
“Kamu....hahhahahahah......siapa lagi...hahahahha.....!!!!”
Uh, kuletakkan kembali obat yang sudah hampir kutumpahkan padanya ke meja. Dia benar-benar mengerjaiku! Kakak yang merepotkan!
.
“Sepertinya kau cukup sehat untuk ganti baju sendiri, kalau gitu aku pergi. Banyak yang harus ku urus,”
# #
“Sepertinya kau cukup sehat untuk ganti baju sendiri, kalau gitu aku pergi. Banyak yang harus ku urus,” kesalnya lalu meninggalkanku.
Hahaha. Melihatnya kesal membuatku merasa senang. Apa aku terlalu berlebihan mengerjainya? Tapi tunggu dulu, tadi dia bilang apa? Aku cukup sehat, untuk ganti baju sendiri? Eeeeng—
__ADS_1
TUNGGU DULU! Jangan-jangan—
Dengan shock Rio menatap ke baju yang dipakainya, mendadak mukanya memerah. Dia membayangkan Kena mengganti bajunya, mengelap tubuhnya, dan melihat semuanya?! Dalam hati dia bersumpah gak akan sakit lagi. Ini sangat memalukan.
“..........haahh...........”
“Lo lagi mikir mesum ya?” tanya Gero ditelinga Rio. Sahabatnya itu reflek menoleh. Gero cengengesan gak jelas, dia udah ada disana dari tadi tapi sahabatnya itu gak menyadarinya. Melihat ekspresi kaget Rio makin membuatnya gak sabar untuk berbuat jahil.
“Sejak kapan kamu disini?” curiga Rio, dia merasakan firasat buruk.
“Dari awal?” kata Gero memberikan serangan langsung.
“Dari a—ehem,” Rio segera pasang muka datar, berusaha setidaknya dapat mempertahankan harga dirinya yang tersisa. “Oh,” responnya.
“Ah, ngomong-ngomong gue yang gantiin baju lo, bukan Kena. Ngasih tahu aja biar lo gak salah paham sama calon istri gue,” terang Gero, “Atau, lo udah mikir aneh-aneh?” Godanya seraya melirik tubuh Rio dari atas ke bawah dengan pandangan mesum.
Buk!
Rio menimpukkan bantal ke Gero, namun gagal, dengan sigap Gero berhasil menangkapnya dan mengamankan muka blaterannya dari cap iler. Gero menang telak dalam lomba adu mental ini. Perasaannya berbunga-bunga karena artinya dia punya bahan untuk mengolok-olok Rio selama beberapa hari kedepan.
“Hahahahaha....,” tawa Gero riang.
Harga diri Rio seketika runtuh. Brengsek memang sohibnya yang satu ini, kalau saja mereka belum lama berteman, Rio pasti udah melempar pisau tadi bukannya bantal. Mendengar tawa bahagia Gero dia hanya bisa pasrah. Semoga saja Gero gak menyebarkan rumor aneh tentangnya di sekolah. Dan untungnya Rio cukup yakin kalau dedeknya gak lebih kecil dari punya Gero. Atau harga dirinya akan benar-benar hilang selamanya.
"Hahh, sialan...."
# # # #
TBC.
__ADS_1