ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 4 "Alasanmu"


__ADS_3

7


“Apa aku berlebihan?”


Beberapa waktu ini kalimat itu mengusik pikiran Kena. Dia gak tahu setan apa yang telah lancang merasukinya seminggu lalu. Saat itu tanpa pikir panjang dia mencium sang kakak dan malah menikmatinya hingga batas berbahaya kalo aja gak ada panggilan dari interkom diluar.


Kejadian itu membuatnya berpikir ulang tentang sang kakak, “Mungkin aku harus minta maaf?”


Sebaiknya begitu, Kena menarik nafas singkat lalu beranjak ke kamar Rio. Ini akan jadi kali pertamanya memasuki kamar kakaknya, itupun kalo dia diizinkan masuk.


TOK TOK TOK!


Tak ada jawaban. Haruskah dia masuk? Atau tunggu sampai Rio keluar? Pilihan kedua jelas bukan tipenya. Karena Rio pernah masuk kamarnya tanpa izin jadi gak masalah kalo dia masuk tanpa izin juga, ini disebut impas. Jadi Kena membuka pintu yang beruntungnya gak dikunci itu dan masuk.


Rio terbaring di kasur. Sepertinya sedang tidur. Kena datang kemari untuk minta maaf, jadi gak apa-apa kan kalo dia membangunkan cowok itu? Tapi melihatnya sedekat ini membuat Kena kepikiran ciuman tempo hari, matanya menatap bibir Rio. Tanpa sadar jemarinya bergerak menyentuh bibir yang terasa panas itu. Sensasi yang pernah dia rasakan terbayang.


Panas.


Eeng, dia tahu bibir Rio terasa panas saat ciuman, tapi sekarang mereka gak sedang melakukannya. Lalu kenapa bibir Rio panas, pipinya, keningnya, tangannya? Gak, seluruh tubuhnya panas banget kecuali telapak tangannya yang dingin bagai membeku di es. Tunggu! Jangan-jangan Rio demam?!

__ADS_1


Kena bergegas menuju kotak P3K, lalu kembali dengan termometer suhu yang segera dipasangkan ke mulut Rio. 39 derajat celcius. Yup, Rio benar-benar demam tinggi.


“Kakak yang merepotkan....”


# # # #


8


Gero mengamati kegiatan Kena yang tengah mengompres kening Rio. Hari ini Rio gak masuk sekolah karena sakit, jadi dia sengaja mampir buat ngasih tugas dari wali kelas sekalian buat kenalan sama Kena. Modus dikitlah. Namun melihat betapa perhatiannya Kena ke Rio membuatnya iri. Kok bisa ya sohibnya itu gak mau mengakui adiknya yang imut dan manis ini sebagai adik? Trauma Rio kayaknya udah berlebihan.


“Kak Gero,”


“Kalian temenan udah lama kan?” Kena menghentikan kegiatannya, “Jadi kakak tahu kenapa kakakku selalu ngigau begini?”


Di sebelah Kena samar-samar terdengar suara igauan sang kakak. “Aku yang membunuhnya. Ini salahku....” Terus terucap berulang kali.


Gero tentu saja tahu, namun dia gak tega untuk menceritakan kisah kelam sohibnya itu meski yang meminta adalah adik sohibnya yang gak dianggap adik. Tapi demi Rio juga, dia harus cerita ke Kena. Ahhhh, Rio bodoh! Bisa-bisanya dia bikin adik seimut ini khawatir. Kena, gue pasti bakal nikahin lo!


“Haahh, itu karena Rio pernah kehilangan adik dulu.” Mulai Gero, sesekali meneguk minumannya. “Waktu kecil Rio pernah mau punya adik, tapi tante keguguran saat membawa Rio yang sakit panas ke rumah sakit. Lalu Rio nyalahin dirinya sendiri karena adiknya gak pernah lahir dan hilang.”

__ADS_1


“Aku juga pernah dengar dari mama kalo dulu mama pernah keguguran, tapi aku gak tahu efeknya separah ini buat Rio,” terang Kena.


“Yeah, itu karena Rio pengen banget punya adik perempuan.”


Gero udah berteman lama dengan Rio, dari lahir. Dia tahu jelas seberapa sohibnya itu menginginkan adik yang pada akhirnya gak bisa dimiliki. Sebahagia apa Rio saat menceritakan calon adiknya dulu, sebangga apa dia. Dan sedepresi apa dia saat tahu Mama nya keguguran. Gak mengenalkan Kena sebagai adiknya selama ini juga mungkin karena Rio belum siap menerimanya.


“Tapi dia gak ada baik-baiknya ke aku,” protes Kena.


Gero cengengesan, “Mungkin dia gak mau terlalu sayang sama lo karena dia takut kehilangan lo, dia gak mau kehilangan adik lagi kayak dulu. Itu menurut gue sih.”


Kena mencerna kalimat absurd yang dikatakan Gero. Mungkin alasan kakak tirinya begitu membencinya memang sesederhana itu, lagipula banyak yang bilang cinta dan benci itu saling berdampingan. Kena gak membenci Rio, namun kesannya terhadap sang kakak sejak awal gak bisa dibilang baik. Kena tentu ingat sekeras apa Rio menolaknya sebagai adik dulu. Seburuk apa prasangka yang ia tempatkan ke Rio, seburuk itu pula penolakan yang ia terima. Mereka gak pernah mencoba untuk saling memahami, tapi malah saling menjauhi demi kenyamanan masing-masing.


Kena memandangi wajah Rio lalu menghela pelan,


“Kakak yang merepotkan.”


# # # #


TBC.

__ADS_1


__ADS_2