ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 22 "Kakak Mabuk?"


__ADS_3

37


Kena membuka pintu apartement yang masih terkunci itu dengan agak terburu-buru. Dia masuk ke dalam dengan harapan kalau seseorang yang ingin ditemuinya berada disana. Namun saat dia melihat ke dalam kamar, ruangan itu sudah kosong. Catatan kecil yang dia letakkan di meja pagi tadi sudah berpindah ke kasur. Berarti Nael sudah membaca pesannya. Mungkin sekarang cowok itu sedang kelayapan entah kemana. Sesaat Kena terdiam, mengingat kebiasaan Nael selama ini membuatnya agak ragu.


“Dia gak nyusul ke taman hiburan kan?” tanya Kena ke diri sendiri.


Kena merebahkan dirinya ke kasur, aroma Nael masih tersisa disana. Dia memejamkan mata dan memijat pelan pelipisnya. Sekarang masalahnya dengan Rio sudah selesai, mungkin sebaiknya dia pulang ke rumah. Besok mama papanya harusnya sudah balik dari honeymoon mereka. Nael juga bakal mulai masuk sekolah senin nanti. Dan Olimpiade sudah semakin dekat. Begitu banyak yang terjadi dalam sebulan ini sampai dia melupakan persiapan olimpiadenya yang tinggal beberapa minggu lagi.


“Ah, papa pasti senang ketemu Nael. Besok aku harus bawa dia kerumah,” kata Kena sesaat teringat kalau dia gak pernah mengajak Nael main ke rumah.


Alasannya selama ini karena keberadaan Rio yang gak menganggapnya adik. Nael juga harus bolak-balik pergi ke inggris buat perawatan yang membuatnya jarang ada waktu bahkan buat sekolah. Wah, gimana bisa cowok itu tetap naik kelas padahal sering sekali absen. Kelas akselerasi lagi, kadang Kena lupa kalau Nael itu seorang jenius yang bahkan bisa menipu Gero.


Hahh, rasanya setelah semua beban hatinya terangkat Kena merasa sangat mengantuk. Sayup-sayup matanya terpejam. Saat dia hampir terlelap sepenuhnya, ponselnya berdering, mengusik kenyamanannya. Kena meraih ponselnya dan melihat sekilas nama pemanggil yang tertera di layar. Alisnya menyerngit, dengan malas di gesernya icon terima panggilan. Sebuah suara yang dirasa asing baginya memanggil namanya dengan keras. Nyaris membuat Kena ingin menutup paksa panggilan itu.


“KENAA!!!”


“Uhh, berhenti teriak-teriak!” balas Kena sarkas. Bahkan dia sendiri kaget dengan betapa santainya dia ngomong saat ini. Padahal tadi mereka sudah seperti mau mati karena canggung.


“Aku bakalan bunuh diri kalo kamu gak pulang sekarang,” kata cowok itu merajuk.


Mendengar itu Kena langsung tahu, cowok yang menelponnya ini baru saja patah hati. Ternyata cowok congkak ini bisa patah hati juga, haha, batinnya tertawa.


“Tunggu disana, aku balik sekarang.” kata Kena setelah mempertimbangkan kalau dia memang sebaiknya pulang.


“Oke,” jawab cowok itu kalem.


Kena segera bangun, melihat sekeliling ruangan sekali sembari mencari notes yang lupa dimana dia menaruhnya. Notes itu ada di atas meja makan bersama pulpen, dan ternyata ada sebuah pesan dari Nael yang tertempel di meja. Isinya Nael pergi untuk urusan pribadi yang entah apa, gak ada keterangan lainnya. Kena mengambil selembar notes lalu menuliskan kalau dia pulang ke rumah, jadi Nael gak perlu mencari atau menunggunya balik ke apartement. Tapi Kena akan mengunjungi Nael lagi dalam waktu dekat.


Setelah menulis itu Kena menempelkannya di meja di sebelah notes yang ditinggalkan Nael untuknya. Dia keluar apartement, mengunci pintu dan berjalan menuju lift. Akhirnya dia akan pulang ke rumah setelah seminggu kabur karena pernyataan cinta Rio.


Hahh, Kena menghela napas. “Semoga kakak yang merepotkan itu gak memberiku masalah baru,” katanya berharap.


Mereka baru saja berpisah beberapa jam yang lalu dan sekarang kakak yang resmi menganggapnya adik itu menelponnya agar pulang ke rumah disertai sebuah ancaman kekanakan. Sebenarnya siapa disini yang menjadi kakaknya? Kena akan protes dengan urutan kartu keluarga mereka yang menjadikan Rio sebagai anak pertama.


“Uhh, perasaanku gak enak.” Eluh Kena.


# # #


“KENAA!!!”


Begitu sampai di rumah Rio langsung menelpon Kena. Adik yang resmi dianggapnya sebagai adik itu membalas panggilannya dengan agak kesal.


“Uhh, berhenti teriak-teriak!”


“Aku bakalan bunuh diri kalo kamu gak pulang sekarang,” lanjut Rio dengan suara yang memelas.

__ADS_1


Dia merasa gak ingin sendirian sekarang. Biasanya Rio akan menelpon Gero buat menemaninya curhat sesama cowok, namun karena alasan galaunya adalah Gero, gak mungkin dia menghubunginya sekarang. Lagipula kalo Gero tahu dia sedang mewek karena patah hati, sohib yang resmi jadi rival cintanya itu bakal mengolok-oloknya sepanjang semester ini. Jangan lagi menambah aib di depan Gero! Harga dirinya sudah cukup remuk saat insiden deman dulu.


Pilihannya jatuh pada Kena. Adiknya sendiri gak mungkin bakal sekejam itu buat membocorkan aibnya. Yah, Rio saja yang gak tahu kalau Kena bisa lebih kejam daripada Gero.


Setelah diam beberapa saat Kena baru menjawab, “Tunggu disana, aku balik sekarang.”


“Ok,” jawab Rio kalem.


Rio mematikan panggilan telponnya, lalu merebahkan diri di sofa. Menunggu Kena datang dengan gak tenang sembari mengingat-ngingat betapa buruk sikapnya selama ini. Dia sempat mengambil beberapa botol minuman kaleng dari kulkas beserta cemilan buat menyuap Kena nanti. Dia juga menyalakan tape recorder dan menyetelnya dengan volume yang keras.


Rio lalu menutup matanya dengan lengan kiri, mengkhayati lagu sedih yang mengalun. Sementara tangan kanannya yang menjuntai ke lantai memegang kaleng minuman yang isinya telah kosong setengah.


Saat Kena sampai dirumah dia tertegun melihat penampilan Rio. Rambut hitam acak-acakan, mata hijau yang kemerahan dan sembab, lalu wajah yang memelas. Sang ketua OSIS yang dielu-elukan di sekolah tengah menggalau di rumah. Tergeletak gak berdaya di sofa dengan sebuah minuman kaleng di tangannya.


“Kakak mabuk?” tanya Kena seraya mendekati Rio.


Diambilnya minuman kaleng yang dipegang Rio untuk membaca tulisan yang tertera. Ah, hanya soda biasa. Yah, mana mungkin juga Rio mabuk-mabukan. Kena sempat mengira kakaknya itu mengambil kaleng bir milik ayah mereka yang tersimpan di kulkas karena kalengnya terlihat sama. Cewek itu menggeleng lalu mematikan tape recorder yang masih menyerukan alunan lagu galau.


Rio melirik Kena sekilas. Adiknya itu duduk di karpet tepat disebelahnya. Bersandar pada sofa yang digunakan Rio buat rebahan. Rio iseng meraih rambut panjang Kena yang menjuntai dan memain-mainkannya. Kena membiarkan sang kakak yang iseng itu.


Ternyata lembut juga, batin Rio.


“Jadi?” tanya Kena setelah mengambil salah satu cemilan yang sudah tersedia di meja. Dia tahu kalau semua cemilan itu disiapkan untuk menyuapnya.


Untuk waktu yang lama keheningan mengitari mereka berdua. Rio masih belum mengatakan apapun, pikirannya terlalu kalut untuk memulai pembicaraan itu. Dari mana dia harus mulai menceritakannya pada Kena.


Dari awal pertemuannya dengan Valeia dan Gero, dari saat orang tuanya menjodohkannya dengan Valeia, dari saat dia tahu Gero jatuh cinta pada Valeia, dari saat perseteruannya dengan Kena, dari saat dia melihat Gero nembak Valeia, dari saat dia berantem dengan Gero, dari saat dia patah hati, atau dari saat dia sadar kalo dia beneran brengsek.


Ada hal yang menjanggal perasaan Rio untuk menceritakannya ke Kena. Perasaan yang membuatnya enggan untuk bicara. Mungkin Rio hanya merasa malu pada dirinya sendiri, pada sikapnya yang kekanakan selama ini, pada keegoisannya, pada kebodohannya melewatkan hal yang baru disadarinya sangat berharga, pada Kena, adiknya yang resmi dianggap adik.


“Aku tahu kamu brengsek kak, jadi gak udah sok galau atau mengasihani dirimu sendiri. Itu malah bikin kamu kelihatan makin menyedihkan,” kata Kena masih dengan cemilan yang perlahan dikunyahnya.


Rio menyerngit, kata-kata yang dilontarkan Kena cukup menusuk harga dirinya. Hah, adiknya itu benar-benar bisa membuat orang makin terpukul dan tertekan. Dia menaburkan garam tepat di bagian yang terluka.


“Apa aku masih kakakmu?” tanya Rio sanksi.


“Kamu baru jadi kakakku beberapa saat yang lalu,” jawab Kena mengingatkan.


“Arrrgggghhh!” Rio membenamkan dirinya di bantal, “Hah, aku ingin memukul diriku sendiri.” Eluhnya kesal.


“Apa kak Gero gak memukulmu?” tanya Kena.


“Udah, dua kali, tepat di muka.” Jawab Rio, Kena tersenyum menyindir.


“Aku bisa memukulmu kalo kau butuh pukulan lainnya,” tawar Kena, dia mengambil sebuah minuman kaleng, membukanya lalu meneguk isinya sedikit. Tangan satunya sudah meraih cemilan lain yang ada dimeja.

__ADS_1


“Jadi begini rasanya ditinggalkan, apa Valeia juga merasa kayak gini waktu sama aku dulu? Saat aku tahu betapa jahatnya aku sama dia, rasanya aku mau mengubur diriku sendiri. Maaf gak akan cukup buatku,” eluh Rio.


“Itu harus kamu tanyain sendiri ke orangnya. Kalo kamu beneran merasa bersalah, harusnya kamu perlakukan dia lebih baik mulai dari sekarang. Kamu bisa disingkarkan sama kak Gero kalo terlalu lama galau,” kata Kena mengingatkan.


“Apa gue pantes buat dia?”


“Gak pantes.” Jawab Kena cepat, membuat mental Rio turun drastis. “Tapi kamu bisa bikin diri kamu jadi pantes kan,” lanjut Kena.


“Aku bakal berusaha,”


Yah, pada akhirnya Rio gak ceritakan apapun tentang masa lalunya dengan Valeia atau Gero. Dia akan menyimpan itu untuk lain waktu. Masih ada banyak kesempatan buat cerita ke Kena, dan dia juga penasaran dengan orang yang Kena sukai saat ini.


“Jadi gimana denganmu?” tanya Rio, maksudnya tentu saja dengan kelanjutan kisah cinta Kena setelah mereka berpisah di taman hiburan.


“Aku ke apartemennya tadi, tapi dia lagi pergi. Makasih berkatmu yang tiba-tiba menelpon aku jadi gak bisa menunggunya pulang.’ Terang Kena agak menyindir Rio.


“Ahh, maaf.” Kata Rio tulus, lalu dia menyadari sesuatu. Selama Kena kabur dari rumah apakah dia tinggal di apartement itu? sama cowok yang Rio gak tahu asal-usulnya? Berdua?


Menyadari Rio yang masuk ke topik pelariannya Kena langsung memalingkan muka, menghindar.


“Kenapa kau memalingkan wajahmu?” tanya Rio curiga.


“Gak ada, perasaan kakak aja.” Jawab Kena.


“Selama kabur Gero bilang kamu tidur di rumah temanmu, apa temanmu itu orang yang kau suka?” selidik Rio.


“Aku suka dia, aku suka semua temanku,” jawab Kena ambigu.


“Jadi dia laki-laki yang kamu taksir. Seminggu ini kamu tinggal dia partement laki-laki ber-dua aja?!” tanya Rio penuh penekanan.


Kena memalingkan wajahnya lagi, membuat Rio yakin kalau dugaannya benar.


“Jelaskan siapa laki-laki itu sekarang dengan sejelas-jelasnya!” tuntut Rio segera ambil posisi duduk tegak dengan wajah serius.


“Bukankah sekarang kita masih dalam suasana galaumu, kenapa harus membahas yang lain?” sanggah Kena.


“Kena, jangan mengalihkan topik!”


“Kakak yang baru saja mengalihkan topik!”


Keduanya saling bertatapan. Suasana galau itu berubah jadi acara pembahasan calon adik ipar Rio. Siapapun itu Rio jadi punya hal lain lagi untuk dikhawatirkan.


# # #


.

__ADS_1


__ADS_2