ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 11 "Hancur"


__ADS_3

16



Beberapa hari ini Rio terus menerus menghindari Kena. Disekolah, dan dirumah, ibarat sedang bermain kucing-kucingan dengan adiknya yang gak dianggap adik itu.



Tidak jauh berbeda dengan kakaknya yang merepotkan, Kena juga mencoba menghindari Rio. Dia akan secara sengaja melakukan kesibukan ditempat yang berbeda dengan kakaknya. Memilih waktu berbeda untuk bangun agar tidak berpapasan. Atau mengambil jalur yang berbeda dari jalur yang biasa dia lalui disekolah.



Dan sekarang hari minggu.


Kena sudah bersiap untuk keluar dari rumah pagi itu. Dia turun ke bawah dengan menghindari jam-jam sang kakak biasa muncul. Tapi perkiraannya meleset. Saat dia menuruni tangga, dilihatnya sang kakak berada di ruang keluarga sedang menonton televisi. Awalnya Kena akan bersikap biasa saja dan mengabaikannya. Dia bergegas melewati ruangan itu tanpa melirik Rio.



“Mau kemana?” Rio tanpa diduga bertanya.



Mendengar pertanyaan itu Kena terkesiap. Langkahnya berhenti, dia menoleh ke Rio, namun kakaknya itu gak mengalihkan padangan dari acara televisi. Membuatnya ragu, apakah aku salah dengar?



Rio terus menatap acara yang bahkan gak disukainya itu. Yang dia perhatikan adalah bayangan Kena yang terpantul di layar televisi. Dandanan Kena lebih cantik dan modis dari biasanya. Awalnya dia gak ingin memperdulikan hal tersebut sejak dia gak sengaja mendengar Kena menerima telepon dari seseorang beberapa hari lalu. Seorang laki-laki, tapi gak terdengar seperti suara dari laki-laki yang menembaknya tempo hari. Tapi dia juga gak merasa asing dengan suara itu.



Pagi ini dia sadar kalau Kena bangun lebih awal dari biasanya. Jadi secara sengaja dia turun ke ruang keluarga, menyalakan televisi, memilih acara secara acak dan menunggu Kena turun ke bawah!



Dari bayangan Kena di layar, Rio tahu gadis itu sedang curiga padanya. Memandanginya dengan ekspresi gak senang dan waspada. Gak ingin melihat atau bicara dengannya.



“Bukan urusan kakak,” jawab Kena acuh.



“Apa kata-kataku yang terakhir kali belum jelas?” balas Rio mengingatkan kejadian tempo hari, “Mulai sekarang, kemanapun kau mau pergi, harus bilang padaku.”

__ADS_1



Kena mendekati Rio, menyambar remot ditangan kakaknya dan mematikan televisi. Mereka saling bertatapan.



“Kenapa aku harus melapor padamu?” kesal Kena. Dia bersidekap, “Kau boleh melakukan apapun, bahkan pacaran, tapi aku enggak?”



“Kena!” Rio menelan liurnya, “Kamu itu masih dibawah umur. Dandanan kamu juga apa-apaan ini,” Rio mencoba mengusap make up di wajah Kena. Sebenarnya gak ada yang salah dengan dadanan adiknya itu, hanya saja Rio merasa gak rela kalau dandanan itu diperuntukkan buat cowok asing yang gak diketahuinya.



“Kakak apa-apaan sih,” Kena menampik tangan Rio. “Dandanan pacarmu lebih seksi dari ini, kenapa kakak gak protes ke dia?”



“Aku gak pacaran dengan Valeia, dan sekalipun kami telah ditunangkan itu adalah keputusan keluarga!” terang Rio. “Aku kenal dia lebih lama dari kamu! Valeia gak ada hubungannya dengan ini.”



“Benar, itu keputusan keluarga. Aku bukan keluargamu, dari awal kau memang gak pernah mau menerimaku sebagai adik! Kamu cuma peduli sama trauma bodohmu itu!” kecam Kena. “Gak usah sok mau bersikap sebagai keluarga sekarang. Urus aja pacarmu sendiri, Valeia atau siapapun itu.” Kena mengalihkan pandangannya, melengos. “Mungkin lebih baik aku terima aja Kak Gero jadi pacarku. Dia gak lebih buruk darimu.”




“Gak ada urusannya denganmu! Kamu urus saja tunanga—,”



“AKU INI KAKAKMU!” teriak Rio lantang. Kena langsung terdiam. “Meskipun aku gak pernah menerimamu sebagai adik. Meskipun aku bukan kakak yang baik atau bisa diandalkan. Tapi aku tetap kakakmu.” Rio merasa getir mengatakannya. Kalimat itu berarti dia harus merelakan perasaannya yang lain terhadap Kena. Tapi gak bisa lebih menyangkalnya lagi. Dia gak tahan dengan keadaaan rumit ini, perasaannya, keegoisannya, traumanya. Persetan dengan semua itu!



“Meskipun begitu, aku...,” Rio berhenti sejenak, menatap langsung mata Kena, “Aku jatuh cinta sama kamu,” ungkapnya.



Kena melotot pada ungkapan perasaan itu. Bagaimana bisa sang kakak mengatakan hal yang begitu tabu. Walaupun Rio gak menganggapnya sebagai adik tapi secara hukum mereka adalah saudara!


__ADS_1


Kenapa kakak malah jatuh cinta padaku?




# #



Dua orang diluar rumah menahan napas mereka mendengar pernyataan gak terduga itu. Padahal beberapa saat lalu kedua orang didalam masih bertengkar yang membuat mereka enggan masuk. Kenapa malah menjadi semakin runyam.



Gero menepuk pundak gadis disampingnya, Valeia, mencoba menenangkannya. Bahkan Gero sendiri juga kaget apalagi dia. Tadinya mereka gak sengaja berpapasan di gerbang depan dan memutuskan untuk bersama-sama masuk. Saat ingin memencet bel interkom rumah, mereka mendengar suara ribut-ribut dari samping rumah. Pertengkaran antara Kena dan Rio telah terjadi. Keduanya memilih mengintip dari beranda. Dan situasinya semakin gak terkendali.



Valeia berdiri, tanpa bilang apa-apa lagi dia bergegas pergi dari sana. Gero melirik ke dalam rumah sekali lagi. Antara mengejar Valeia atau melerai perselisihan sang sohibnya dengan sang calon istrinya. Setelah menghela napas diputuskannya buat masuk. Dia sengaja menggeser pintu kaca di samping rumah yang membatasi ruang tamu denagn beranda samping kuat-kuat. Suara keras itu mengagetkan dua orang yang sedang saling diam di dalam.



“Maaf gangguin kalian, gue dateng buat jemput calon istri tercinta,” kata Gero dengan senyuman termanis.



Rio segera melepas cengkramannya dari lengan Kena. Gero mengambil kesempatan itu buat menarik Kena ke sisinya. Sebelum pergi dia sempat berbisik ke sohibnya itu.



“Kayaknya lo perlu es batu.” Kata Gero, “Sebaiknya lo punya penjelasan yang bagus buat gue, atau gue bakal serius nonjok lo.”



Gero membawa Kena pergi. Kali ini Rio lah yang ditinggal sendirian.




# # # #


__ADS_1


..


__ADS_2