ADIK KAKAK

ADIK KAKAK
Episode 13 "Sang Informan"


__ADS_3

19



Gero mempunyai seorang informan yang selalu bisa mencarikannya informasi apapun yang dia inginkan. Informannya ini sudah seperti tangan kanannya sendiri. Hanya saja Gero gak mengetahui informasi apapun tentangnya. Selain mereka berada di kelas yang sama, penampilannya yang pucat, dan keberadaannya di kelas yang sering sekali absen. Mereka sempat bicara beberapa kali hanya ketika informan itu hadir di kelas. Dua bulan terakhir ini dia belum melihatnya lagi, tapi mereka masih berhubungan via telepon.



Apalagi disaat-saat genting ini setelah Gero mengetahui kalau adik sohibnya yang gak dianggap adik adalah seorang gadis manis yang mempesona. Semangat Gero buat mencari informasi tentang Kena semakin membara. Semakin dia mengenal Kena, semakin dia menyukainya. Meskipun Gero mempunyai banyak pacar, tapi Kena adalah orang kedua yang dapat membuatnya bersusah payah hingga sekarang.



Gero sudah menembak Kena sekali dan ditolak. Sekarang untuk yang kedua kalinya dia masih menunggu jawaban. Hanya saja kejadian gak terduga seperti sang sohib juga menembak Kena sempat membuatnya shock. Dan sang cinta pertama juga ada disana bersamanya. Entah Gero harus merasa senang atau sedih, hatinya sendiri agak terpukul oleh pengakuan itu. Selalu saja Gero dan Rio menyukai gadis yang sama. Gero pernah mengalah sekali, haruskah dia mengalah untuk kedua kalinya?



Baginya pertemanan sepenting percintaan. Jadi dia akan memilih untuk menempatkan keputusan kepada kedua gadis itu. Kena dan Valeia. Merekalah yang mendapat tekanan paling besar dalam masalah ini.



Gero mengeluarkan ponselnya. Belum lama sejak dia meninggalkan Kena, tapi dia sudah merasa cemas terhadapnya. Di depannya ada Rio yang rebahan di sofa, terlihat gak bernyawa. Gero baru memberitahukan kalo Kena akan menginap di rumah temannya. Dan sohibnya itu langsung menyuruhnya mencari tahu apakah Kena sudah benar-benar dijemput atau belum. Separah apapun hubungan keduanya, atau sebrengsek apapun Rio saat menembak Kena, kini dia sedang menempatkan diri sebagai seorang kakak!



“Kalo kak, apa kau ingin tahu dia sudah dijemput atau belum?” tanya sang informan menebak dengan tepat.



Gero tersenyum simpul, sang informan selalu bisa diandalkan sampai-sampai membuatnya merinding. Bagaimana dia bisa mendapatkan informasi yang Gero mau secepat itu? Baiklah, itu gak penting bagaimana cara dia mendapatkannya.



“Dia udah dijemput?” tanya Gero memastikan.



“Ya. Temannya sudah datang dan sekarang mereka sudah berada di apartemen temannya itu.” Jelas sang informan. “Haruskah aku mengirimkan alamatnya?” tanyanya lagi.



“Lo kirim gue,” pinta Gero. Lalu sebuah pesan lokasi muncul di layar ponselnya. Sang informan selalu tahu apa yang Gero mau.



“Apa kau butuh info lainnya kak?” terlalu tahu malah. “Seperti apa yang sedang mereka lakukan sekarang, atau baju apa yang dipakainya, atau foto seksinya?”



“Apa lo beneran mau gue bunuh?” bisik Gero seraya melirik ke arah Rio, berharap sohibnya gak mendengar percakapan barusan. Terdengar suara buk disisi lain panggilan. “Lo baik-baik aja?” tanya Gero penasaran.



“Hahahaha, ya. Barusan ada kucing yang melompat langsung ke arahku. Kau harus lihat kucingnya kak, manis sekali!” terang sang informan.



“Lo pelihara kucing?” tanya Gero lagi.



Ini termasuk hal baru yang dia tahu tentang informannya. Dia tertarik buat mengobservasi lebih jauh. Tapi dia harus mengutamakan sohibnya sekarang. Jadi dia akan menyimpan rasa penasaran itu sampai nanti mereka bertemu.



“Nael,” panggil Gero, “Makasih,” ucapnya sebelum menutup panggilan.



Mengetahui Kena baik-baik saja membuatnya lumayan tenang. Dia bisa menghubungi informannya itu lagi kalo membutuhkan informasi lain. Sekarang dia harus bersiap melakukan percakapan panjang dengan Rio. Gero menghela napas, melihat ke Rio dan menghela lagi.

__ADS_1



“Hentikan itu! Kamu kayak orang tua yang memergoki anak laki-lakinya membawa pulang perempuan ke rumah!” kesal Rio seraya melempar bantalan sofa ke Gero.



“Gue beneran bakal cepet tua karena lo!” rutuk Gero melempar balik bantal itu.



“Hahh....”



Keduanya menghela bersamaan. Percakapan kali ini akan sangat panjang, dan mereka mulai kehabisan tenaga untuk lebih berdebat lagi.



“Hahh...,”




# #




20



Sang informan, Naelion Sandhika, menatap dengan mata hazel nya pada sosok gadis yang sedang mengeluh di depannya itu. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah dua bulan terpisah. Tapi acara penyambutan yang seharusnya romantis berubah jadi kekhawatiran dan prasangka kalau-kalau tunangannya itu akan meninggalkannya. Dilihatnya gadis itu menyerngit gak senang melihat barisan obat di atas meja.




“Kena sayang, kau gak percaya padaku?” tanya Nael balik.



Kena menyipitkan matanya, itu bisa berarti ancaman bagi Nael. Berharaplah Kena gak menghukumnya dengan melarangnya bertemu sang tunangan itu. Nael ikut melihat ke arah obat-obatan, merasa sedikit kesal. Hasil perawatannya selama dua bulan lah yang menambah daftar obat-obat itu. Meskipun dia gak menyukainya, dia tetap harus mengkonsumsinya.



Nael lantas menempatkan diri duduk disebelah Kena. Memperhatikan gadis itu membolak-balik laporan perawatannya. Dia suka melihat wajah Kena yang bersikap serius. Saat dia ingin bersandar padanya, tiba-tiba sebuah panggilan telepon menginterupsi. Di layar tertulis nama Gero.



Nael melirik ke Kena yang terlihat gak peduli. Dia sudah memperkirakan kalau Kena pasti sudah tahu siapa yang menelpon dan apa yang diinginkan si penelpon. Bahkan setelah percakapan singkat itu Kena masih gak mengalihkan perhatiannya dari laporan perawatan milik Nael. Nael tersenyum jahil, perasaannya tergelitik buat menggoda Kena.



“Apa kau butuh info lainnya kak?” mulai Nael, “...atau foto seksinya?”



Mendengar informasi yang diusulkan Nael membuat Kena reflek mencoba mengambil ponsel cowok itu. Dia melompat ke Nael dan membuat keduanya jatuh bersamaan. Buk! Kalau saja gak ada karpet bulu yang tebal di lantai, kepala Nael gak akan terselamatkan dari benturan keras. Meski begitu Nael masih bisa mengamankan ponselnya dari jangkauan Kena.



“Lo baik-baik aja?” tanya Gero dari sisi lain panggilan.



Nael menatap mata Kena, “Hahaha, ya. Barusan ada kucing yang melompat ke arahku. Kau harus lihat kak, kucingnya sangat manis,” goda Nael pada Kena.

__ADS_1



Kena menaikkan sebelah alisnya, gak senang. Dia hendak bangkit, tapi Nael lekas menahannya dengan pelukan erat. Membuatnya mengurungkan niat dan bertahan dengan posisinya di atas tubuh Nael.



“Lo pelihara kucing?” tanya Gero lagi.



Nael tertawa ringan, “Kucing cewek yang gede banget,” bisiknya di telinga Kena setelah menjauhkan ponselnya agar suaranya gak terdengar Gero.



Kena nyengir, tapi gak sepasrah itu menghadapi kelakuan Nael. Dia mengerling nakal dan mengecup singkat bibir cowok itu, membuatnya tertegun.



“Aku harus pergi sekarang kak, “ kata Nael akhirnya. Jelas niatannya ingin bermanja-manja dengan Kena.



“Nael,” panggil Gero, “Makasih.”



Mendengar ucapan terima kasih dari Gero sebelum panggilan selesai membuat Nael merasa campur aduk. Ini adalah hal gak terduga yang jarang terjadi. Gero adalah satu-satunya teman yang akrab dengan Nael di kelas. Nael mengenal Gero sejak awal masuk SMA, bekerjasama sebagai informannya untuk waktu yang lama, dan mengetahui seperti apa kepribadiannya. Tapi ini kali pertama dia mendengar ucapan terima kasih yang tulus dan dramatis dari Gero. Dia gak bisa membayangkan seperti apa wajah Gero saat mengucapkan itu. Apalagi kalau nanti Gero tahu hubungannya dengan Kena.



“Kau senang karena ucapannya atau karena diakuinya?” goda Kena melihat tingkah konyol Nael yang tersenyum-senyum setelah ucapan Gero.



“Keduanya,” jawab Nael. Dia meletakkan ponselnya dan menggunakan kedua tangannya untuk memeluk Kena lebih erat. “Dia bisa jadi kakak yang baik,” kata Nael.



Kena tersenyum jahil, “ Dia bisa jadi kakakmu kalo aku menikahinya,” goda Kena.



Ekspresi Nael berubah kesal, “Kau milikku, hanya milikku!” tegasnya seraya mempererat pelukan.



Kena membalas pelukannya, dan mereka mempertahankan posisi itu selama beberapa waktu. Nael gak meragukan Kena atau gak percaya padanya. Tapi kepalanya seringkali memiliki prasangka buruk. Dia gak bisa berhenti berpikir kalau tunangannya itu akan meninggalkannya suatu hari nanti. Dia berusaha melewati perawatan yang gak disukainya demi bisa bersama Kena sedikit lebih lama. Dia meminta gadis itu mengambil kelas akselerasi dan mendaftar di sekolah yang sama dengannya, walapun mereka gak bisa berada di tahun yang sama atau dikelas yang sama. Tapi jika Kena mengambil kelas akselerasi lagi tahun ini maka mereka bisa bersama di tahun ketiga. Dia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Kena selama dia masih sadar. Karena Nael sendiri gak yakin berapa lama lagi dia bisa bertahan sampai dia mengalami kegilaan berikutnya.



Mungkin saja kali berikutnya dia harus berada di ruang isolasi. Atau berakhir melukai dirinya sendiri dan kehilangan Kena. Semua pikiran itu membuatnya takut.



“Aku mencintaimu,” bisik Nael lembut.



Kena mengusap lembut kepalanya, “Ya, aku tahu.”




# # # #



..

__ADS_1


__ADS_2