
"Kamu gak mau cerita ke Aku masalah kejadian yang tadi sama Aku Lam?" tanya Yusuf kepada Nilam saat mereka sudah ada didalam mobil milik Yusuf.
Nilam pun menatap wajah Yusuf.
"Mereka tadi...mau membawaku ke bos mereka "
ucap Nilam yang masih terlihat rasa takut di diri Nilam atas kejadian tadi.
"Bos mereka, siapa dan untuk apa?? " tanya Yusuf tidak mengerti maksud dari Nilam.
Nilam kemudian terdiam, sedangkan Yusuf masih menunggu jawaban dari Nilam lagi.
"Mantan suamiku punya hutang pada seseorang yang bernama bang Gawir, karena mantan suamiku tidak bisa membayar hutangnya, akhirnya dia menjual Ku kepada laki laki bernama bang Gawir itu untuk membayar hutangnya dan Aku harus mau melayani bang Gawir setiap hari tanpa dijadikannya istri, karena tidak betah harus melayani lelaki brengsek itu Aku pun melarikan diri, "ucap Nilam sedih yang kemudian air mata dari manik indah Nilam pun mengalir lagi.
"Astaghfirullah, jadi Kamu sudah berpisah dengan suami Mu Lam??dan perbuatan mantan suami Mu itu tidak bisa dibiarkan Lam, Kita harus melaporkan perbuatannya ke pihak yang berwajib," ucap Yusuf geram mendengar cerita yang Nilam sampaikan , wanita yang dulu sangat di cintai Yusuf itu mengalami nasib buruk seperti ini.
"Jangan Suf, Aku mohon jangan pernah melaporkan siapapun kepada siapapun, Aku mohon Suf, Aku mohon!! " pinta Nilam memelas dengan air mata yang tak berhenti berderai.
"Tapi ini sebuah kejahatan Lam , ini tindak kriminal ,"
ucap Yusuf yang sudah terbawa emosi mendengar penuturan dari Nilam.
"Anakku Suf..., kalau Aku tidak mau menuruti keinginan dari mantan suamiku itu , Aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan anakku Suf , Aku mohon Suf," ucap Nilam dengan air matanya yang terus mengalir dengan deras.
Yusuf tampak menahan emosinya saat melihat Nilam terpuruk seperti ini.
Nilam sangat rapuh saat ini, tapi Yusuf tidak bisa berbuat apa - apa.
Yusuf pun menjadi ragu untuk mengantar Nilam pulang ke rumah orang tua Nilam, melihat kondisi Nilam saat ini, entah dari mana muncul ide aneh di kepala Yusuf untuk mengajak Nilam tinggal sementara dirumahnya, sampai kondisi psikisnya benar benar pulih. Yusuf takut Nilam akan berbuat nekat atau malah orang suruhan bang Gawir tadi mencari Nilam kembali.
__ADS_1
Tanpa meminta persetujuan dari Nilam terlebih dahulu Yusuf pun langsung membawa Nilam ke kediaman Yusuf dan Dinda. Karena saat itu Nilam dalam kondisi yang sangat buruk.
...****************...
Setibanya dikediaman Yusuf , Nilam pun baru sadar kalau ini bukanlah rumah kedua orang tuanya. Nilam lalu menatap Yusuf.
"Kita ada dimana Suf?? " tanya Nilam yang sudah mulai tenang.
"Ini rumahku Lam, ayo masuk, " jelas Yusuf yang membuat Nilam makin kaget.
"Dinda pasti sudah menunggu," ucap Yusuf dan segera berjalan masuk kedalam rumahnya sederhana namun mewah.
Nilam pun ragu untuk masuk ke rumah Yusuf. Tapi Yusuf pun tanpa disadari menarik tangan Nilam untuk yang kedua kalinya.
Deg.. deg.. deg
"Jangan baper Lam, jangan baper, " monolog Nilam dalam hati.
"Assalamu'alaikum , Dinda, " ucap Yusuf saat sudah di depan pintu rumahnya yang terkunci.
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, sebentar Mas ," balas Dinda dari balik pintu rumahnya.
Dengan senyum bahagia Dinda pun menyambut kedatangan Yusuf sang suami.
"Mas ," sambut Dinda lalu mencium punggung tangan suaminya dengan sangat takzim.
Dan betapa terkejutnya Dinda saat mengetahui kalau suaminya datang tidak sendiri, ada seorang wanita berdiri di belakang suaminya, wanita itu nampak tidak asing bagi Dinda . "Nilam... apakah wanita ini Nilam? " tanya Dinda dalam hati nya.
"Oh iya Din , Mas sebelumnya gak izin sama kamu kalau mas bawa Nilam pulang ke rumah kita, nanti akan mas ceritakan. apa yang terjadi," ucap Yusuf yang kemudian mencium kening Dinda dan merangkul pundak istrinya itu lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Nilam yang melihat keromantisan Dinda dan Yusuf sedikit cemburu, tapi itu bukan hak Nilam, karena Yusuf bukanlah siapa siapa bagi Nilam. Melihat rumah Yusuf yang sangat mewah membuat rasa iri di hati kecil Nilam , ingin rasanya merebut Yusuf dari tangan Dinda, bagi Nilam itu adalah hal yang sangat mudah untuk Nilam, mengingat dulu betapa Yusuf sangat mencintai Dirinya.Tapi Nilam mencoba menepiskan itu semua.
"Loh kok masih diluar Lam, mari masuk, " ucap Dinda dengan sangat ramah yang membuyarkan lamunan Nilam.
"Eh iya, makasih Dinda , maaf kalau kedatangan Ku membuat Kamu terkejut, " ucap Nilam merasa bersalah.
Dinda pun tersenyum dan menarik tangan kanan milik Nilam agar Nilam ikut dirinya masuk kedalam rumahnya.
"Ayo masuk, jangan sungkan ya berada disini anggap saja rumahmu sendiri," ucap Dinda dengan penuh kelembutan.
Dinda pun mengajak Nilam untuk menuju ke kamar tamu yang akan ditempati oleh Nilam nanti.
Masih ada perasaan canggung Nilam kepada Dinda, walau Dinda sudah bersikap sangat baik kepada Nilam.
"Nilam ini kamar yang akan Kamu tempati sekarang , maaf kalau tidak sesuai dengan yang Kamu harapkan, " ucap Dinda dengan sangat lembut tetapi kata kata nya itu seperti pisau bagi Nilam.
"Makasih banyak Din, Kamu dan Yusuf sudah mau menampung Ku disini , " ucap Nilam merasa tidak enak hati atas kehadirannya.
"Ya sudah sekarang Kamu bisa bersih bersih terlebih dahulu sebelum beristirahat , oh iya ini ada beberapa potong pakaian yang bisa Kamu pakai, tapi maaf baju ya Aku miliki semuanya tertutup karena Aku hanya memiliki baju yang seperti ini, lagi pula mengingat Kamu dan Mas Yusuf yang bukan muhrim tidak pantas tentunya bagi Mu mengumbar aurat didepan seseorang yang bukan mahram Mu bukan? " ucap Dinda yang lagi lagi ucapan dari Dinda kembali menampar wajahnya, walaupun Nilam tahu apa yang dikatakan Dinda adalah sebuah kebenaran.
"Makasih ya Din , sekali lagi Aku minta maaf, karena tak ada niat sedikit pun untuk Ku berada diantara Aku, Yusuf dan Kamu ," balas Nilam singkat.
"Semua sudah menjadi takdir Allah SWT, Dirimu ada didalam rumah Ku adalah takdir Allah dan semua atas izin dari Allah, " ucap Dinda dengan kelembutan.
Dinda pun tersenyum kembali dan pergi keluar meninggalkan kamar yang ditempati oleh Nilam sekarang.
Ada rasa takut di dalam diri Dinda sesungguhnya, takut apa yang sudah menjadi miliknya di rebut oleh orang lain.
"Astaghfirullahalazim, apa yang sudah Aku takutkan ya Allah, semua sudah menjadi takdir Ku ya Allah, Aku ikhlas dengan takdir yang telah engkau tetapkan ya Allah Aku ikhlas , tapi berikan Aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi setiap cobaan yang Engkau berikan ya Allah ..Aamiin, " lirih Dinda dalam hati yang membuat bulir air matanya menetes.
__ADS_1