Adik Madu Pilihan Suamiku

Adik Madu Pilihan Suamiku
Ungkapan Hati Raka


__ADS_3

Dinda berpamitan kepada ibu dan bapaknya.


"Hati-hati ya nak, kabari ibu kalau sudah sampai, " pesan ibu kepada Dinda dan Yusuf saat mereka menyalami tangan kedua orang tua dari Dinda.


Yusuf pun melakukan mobil miliknya dengan sangat santai.


Ditambah keadaan menuju jalan kota yang sangat macet.


"Din kayanya mas gak keburu deh kalau harus berangkat ke kantornya pagi, sekarang saja sudah jam setengah tujuh, biar deh meeting nya Raka dengan Hanif aja yang handle, " curhat Yusuf kepada Dinda dan dibalas Dinda dengan senyuman manis khasnya.


"Tolong Din sambungkan panggilan ke Raka, " pinta Yusuf kepada Dinda.


Dinda pun mengerjakan apa yang diperintah oleh suaminya itu.


"Berdering mas, tapi tidak diangkat, " ucap Dinda masih tetap mencoba menghubungi Raka.


"Kemana sih Si Raka ini, buat orang bingung aja, " gumam Yusuf sambil tetap mengemudikan mobilnya.


"Coba kamu telpon hanif, "ucap Yusuf kepada Dinda, dengan cekatan Dinda langsung menghubungi Hanif, manager dikantornya yang tak lain adalah suami dari sepupunya, Nayla.


" Gimana Din? " tanya Yusuf yang masih fokus menyetir.


"Berdering tapi tidak diangkat mas, " ucap Dinda sambil terus mencoba menghubungi Hanif.


Yusuf terus berfikir mencari jalan keluar untuk permasalahan meeting pagi ini dengan pak Hartawan. Kemarin sore Pak Hartawan sengaja menelpon Yusuf untuk mengajaknya meeting di lokasi proyek yang sedang berjalan.


Dan Yusuf menyanggupi permintaan pak Hartawan itu, tapi sepertinya meeting kali ini harus gagal karena Yusuf masih berada di kampung halaman Dinda.


Melihat suaminya yang terdiam Dinda pun mengusap -usap pundak suaminya itu mencoba menenangkan Yusuf.


"Tenang mas , pasti ada solusinya, " ucap Dinda membantu Yusuf agar lebih tenang dan dapat berfikir dengan jernih.


"Menurut kamu, kalo mas minta tolong dengan Fahmi masalah gak, sedangkan meeting nya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Fahmi, " tanya Yusuf kepada Dinda meminta solusi.


"Boleh juga mas, tapi apa Fahmi juga sudah kembali ke kota? " ucap Dinda kepada sang suami.


"Iya juga ya, coba kamu hubungi Fahmi, " perintah Yusuf kepada Dinda dan langsung dilaksanakan oleh Dinda.


Dinda pun menghubungi Fahmi, beruntung Fahmi langsung mengangkat panggilan telepon dari Yusuf.


"Assalamu'alaikum Bos ada yang bisa saya bantu? " tanya Fahmi kepada Yusuf dari panggilan telepon.


"Waalaikumsalam Mi, ini aku Dinda, " ucap Dinda menjelaskan kepada Fahmi jika yang menghubungi nya adalah Dinda.

__ADS_1


"Oh kamu Din, ada apa ya? " tanya Fahmi .


"Mas Yusuf mau minta tolong sama kamu Mi, soalnya mas Yusuf lagi nyetir jadi aku yang wakilkan, "


"Minta tolong apa Din? "


"Mas Yusuf seperti nya tidak bisa datang tepat waktu untuk meeting dengan pak Hartawan, kamu bisa handle sementara gak Mi sampai Hanif, Raka atau Mas Yusuf datang, " pinta Dinda kepada Fahmi.


"Siap Din, bilang sama Yusuf aku back up ya meeting nya, kebetulan aku udah di lokasi sekarang"


"Makasih banyak ya Mi, " balas Dinda.


"Sama sama Din, "


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, "


Panggilan telepon pun terputus.


"Gimana Din, beres kan? "tanya Yusuf berharap demikian.


" Alhamdulillah mas, Fahmi mau handle meeting kali ini, " ucap Dinda yang membuat Yusuf dapat bernafas lega.


Sebenarnya muddy bagi Yusuf untuk membatalkan atau merubah waktu meeting, tapi itu merupakan pantangan bagi Yusuf.


...*************...


Pagi itu dikediaman ibu Linda, Raka dan Nilam sudah sangat rapi, untuk berangkat ke kantor.


Nilam yang sejak dini hari sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk mereka.


Ibu Linda yang sangat sibuk jarang sekali memasak, jadi moment sarapan bersama adalah hal yang sangat mahal di keluarga ibu Linda. Raka pun makan dengan lahap menikmati nasi goreng seafood ala Nilam.


"Pelan pelan toh mas makannya, keringat mu itu loh netes kemana mana? " ucap sang ibu kepada Raka.


" Habis nasi gorengnya enak banget bu, "ucap Raka yang tak berhenti mengunyah makanannya.


" Enakkan masakannya, makanya cepat cepat dihalalin itu yang masaknya, secara reflek Raka menoleh kearah Nilam dan Nilam pun menoleh juga kearah Raka.


Melihat anaknya dan Nilam yang berpandangan ibu Linda lalu mengingatkan mereka berdua.


"Hayo, kok malah pandang pandangan kaya begitu, " ucap ibu Linda yang membuat Raka dan Nilam saling berpaling muka ke arah yang berbeda.


Ibu Linda pun tersenyum melihat kelakuan mereka berdua.

__ADS_1


Raka dan Nilam masih tetap menunduk dan terdiam.


"Ya sudah ibu pamit dulu ya kalau begitu, karena pagi ini ibu mau ada meeting, " ucap ibu lalu mengulurkan tangannya kearah Raka dan Nilam, dengan cekatan Raka lalu mencium punggung tangan sang ibu dan diikuti juga oleh Nilam.Ibu Linda pun tersenyum pada Nilam. Kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Nilam pun bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Tiba tiba tangan Raka menahan langkah kaki Nilam. Nilam pun menghentikan langkah kakinya.


"Bentar mbak, ada yang mau aku bicarakan, " ucap Raka masih memegang tangan Nilam dengan erat.


Reflek Nilam pun terdiam .


"Aku mau kita beresin dulu masalah kita berdua mbak. Aku tahu ini semua salah aku, udah membawa mbak ikut campur dalam kehidupan aku. Tapi seperti yang mbak Nilam lihat sendiri , ini semua bukan keinginan aku mbak. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata ibu saat melihat mbak Nilam hadir disini membuat aku terlena dan menciptakan suatu kebohongan yang seharusnya tidak terjadi. Jujur aku minta maaf mbak, sudah membuat mbak Nilam terlibat, tapi aku tidak mungkin membongkar kebohongan ini mbak , aku gak sanggup mengecewakan ibu untuk yang kedua kalinya. Setelah sebelumnya aku menyakiti ibu dengan lebih memilih wanita yang aku cintai dibandingkan ibu kandungku sendiri. Maafkan aku mbak, maafkan aku, " ucap Raka kemudian lalu meneteskan air mata.Nilam yang berada di posisi sekarang ini menjadi bingung. Di satu sisi Nilam sama sekali tidak mau terus berbohong dan di sisi lain Nilam tidak tega menyakiti perasaan seorang ibu, mengingat Nilam juga seorang ibu dari satu putra.


Nilam terus memandangi wajah Raka yang tampak kacau hari itu.


"Jadi aku harus bagaimana? " tanya Nilam kepada Raka .


Lalu suasana pun menjadi hening. Raka pun memandang Nilam .


"Kita buat semuanya jadi kebenaran , bukan lagi suatu kebohongan? " ucap Raka yang langsung membuat Nilam mengernyitkan dahinya, bingung.


"Maksud pak Raka apa, saya masih belum paham? " ucap Nilam tidak mengerti arah pembicaraan nya .


"Ya kita benar-benar pacaran mbak, mbak jadi pacar aku, gampang kan, hanya itu solusinya mbak, " ucap Raka yang membuat Nilam tercengang.


"Kita pacaran beneran, bapak sadar kan dengan ucapan bapak ksn? " jawab Nilam yang tidak percaya dengan keputusan dari Raka itu.


"Saya sangat sadar, bahkan seratus persen sadar, " ucap Raka meyakinkan Nilam yang masih tidak percaya dengan perkataan Raka.


"Jadi gimana, kalau mbak Nilam jadi pacar aku? " tanya Raka yang membuat Nilam semakin bingung.


"Mbak, jawab dong mbak, " ucap Raka yang tidak sabar mendengar jawaban dari Nilam.


"Aku gak tahu harus jawab apa, bagiku suatu hubungan itu bukanlah sekedar bentuk kesepakatan atau perjanjian, tapi suatu penyerahan hati yang ikhlas karena memang sesuatu telah terjadi tapi bukan suatu permintaan. Tulus datang dari mata dan menetap di dalam hati menjadi kekuatan si pemilik cinta.


Bagaimana aku bisa ada hubungan dengan pak Raka jika rasa itu saja belum ada dalam hatiku, " jelas Nilam kepada Raka.


"Tapi rasa itu sudah singgah di hatiku mbak, " ucap Raka lalu menggenggam tangan Nilam.


Nilam pun sontak terdiam dan Raka memandangi wajah Nilam.


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2