
"Din mas langsung berangkat ke proyek ya," ucap Yusuf lalu buru-buru masuk kembali ke dalam mobil.
"Hati-hati mas, jangan buru-buru, " teriak Dinda kepada Yusuf yang sudah berlalu meninggal kan Dinda.
Melihat mobil suaminya sudah pergi jauh, Dinda pun masuk kedalam rumah untuk beristirahat sejenak.
...****************...
Yusuf tiba di lokasi proyek yang sedang berjalan. Karena informasi dari Fahmi jika pak Indrawan tidak mau memulai meeting nya jika bukan Yusuf sendiri yang menghandle.
Melihat Yusuf datang pak Indrawan langsung tersenyum sumringah .
"Assalamu'alaikum pak, maaf saya terlambat," ucap Yusuf yang kemudian menjabat tangan pak Indrawan.
"Ya... ya... tidak apa-apa pak Yusuf," ucap pak Indrawan memaklumi.
"Kita langsung mulai meeting nya atau bagaimana pak?" tanya Yusuf, yang langsung duduk di bangku, untuk mereka meeting. Karena proyek Yusuf ini belum sepenuhnya rampung, maka Yusuf mengajak pak Indrawan untuk meeting ala kadarnya saja.
" Tidak usah buru-buru pak Yusuf, hanya sedikit yang ingin saya sampaikan sebenarnya dan selebihnya saya hanya ingin memantau jalannya proyek ini," ucap pak Indrawan sambil menepuk bahu Yusuf.
Yusuf pun tersenyum mendengar ucapan pak Indrawan.
"Sampai saat ini tidak ada kendala pak, saya sudah memilih kontraktor yang sangat bisa diandalkan dan insya Allah dalam waktu seminggu lagi, hotel ini sudah bisa grand opening pak," ucap Yusuf menjelaskan kepada Pak Indrawan.
"Saya percaya sama kamu Suf. Oh ya Suf, maaf jika saya hanya memanggil nama saja, karena saya merasa lebih nyaman memanggil kamu tanpa embel-embel pak, kamu tidak keberatan kan Suf?" izin pak Indrawan kepada Yusuf.
__ADS_1
"Boleh pak, jika itu bisa membuat bapak nyaman, saya tidak keberatan," jawab yusuf yang membuat pak Indrawan tersenyum senang.
"Oh ya nak Yusuf, tujuan saya kemari sebenarnya bukan untuk urusan proyek saja, tapi saya ada urusan pribadi dengan nak Yusuf," jelas pak Indrawan membuat Yusuf mengernyitkan dahinya.
"Kalau boleh tahu urusan yang mana ya pak?" tanya Yusuf penuh tanda tanya.
"Begini Suf, jujur sejak kedatangan kamu beberapa hari yang lalu ke rumah saya, saya jadi sadar Suf, jika selama ini saya sudah sangat jauh dari Allah SWT, saya selalu melalaikan perintah dari Nya dan lebih memilih menjadi budak dunia daripada menjalankan perintah Nya Suf," ucap pak Indrawan kepada Yusuf.
"Alhamdulillah...kalau bapak sudah menyadari kesalahan bapak, jadi apa yang bisa saya lakukan?" tanya Yusuf kepada pak Indrawan.
"Begini Suf, saya mau kamu mengajarkan saya mengaji dan mengenalkan kembali Islam dalam hidup saya, walau saya tahu kalau sebenarnya itu bukan menjadi tugas kamu, tapi entah kenapa hati kecil saya berkata jika kamu adalah orang yang tepat buat mengajarkan saya kembali ke fitrah saya Suf, saya mohon," ucap pak Indrawan sambil menangkup kedua tangannya tepat di depan dadanya.
Yusuf yang melihat pak Indrawan memohon kepadanya lalu menurunkan tangan pak Indrawan .
"Jangan begini pak, saya jadi merasa tidak enak, insya Allah atas izinnya saya akan membantu bapak untuk kembali lagi ke jalan Nya," ucap Yusuf lalu memeluk tubuh pak Indrawan dan pak Indrawan pun membalas pelukan Yusuf.
Setelah berbincang-bincang sejenak dengan Yusuf, akhirnya pak Indrawan pun pamit undur diri dan meninggalkan lokasi proyek.
Yusuf menghela nafas dengan lega saat pak Indrawan sudah pergi meninggalkan proyek.
"Maaf ya bos, saya tidak bisa merayu pak Indrawan untuk meeting dengan saya," sesal Fahmi yang tiba-tiba duduk di samping Yusuf.
Yusuf pun menepuk bahu Fahmi sambil tersenyum.
"Gak apa-apa, yang penting sekarang semuanya sudah clear," ucap Yusuf lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," ucap Fahmi tenang karena masalahnya sudah beres.
"Loh mau kemana bos?" tanya Fahmi penasaran melihat Yusuf yang bangkit dari duduknya.
"Mau meeting dengan anak perusahaan Mandala, harusnya Raka yang pegang ini proyek, tapi anak itu bagai ditelan bumi, gak ada kabar," keluh Yusuf, kemudian pergi meninggalkan lokasi proyek.
...****************...
Raka memaksa untuk mengantar Nilam pulang ke kediaman Yusuf dan Dinda.
Dan akhirnya Nilam mengizinkan Raka untuk mengantarnya. Dengan hati berbunga-bunga, Raka lalu mengantar Nilam pulang. Hari ini Raka memutuskan untuk meliburkan Nilam. Jadi Nilam berpamitan kepada Raka untuk pulang ke rumah, Yusuf.
"Mbak, bagaimana jika mbak tinggal di apartemen milikku saja?" usul Raka yang membuat mata Nilam terbelalak saat masih berada di dalam mobil milik Raka, menuju kediaman Yusuf.
"Kan aku sekarang udah tinggal di rumah ibu lagi mbak," ucap Raka agar Nilam mau tinggal di apartemen miliknya.
"Terima kasih, pak. Aku lebih suka tinggal bersama Dinda dan Yusuf," jelas Nilam membuat Raka kecewa.
"Tapi kan mbak butuh privasi," bantah Raka lagi tak mau kalah.
"Memang aku sadar, harusnya aku tidak berada diantara mereka berdua, tapi demi Allah aku tidak ada niat sama sekali untuk merebut Yusuf dari Dinda. Yusuf memang pernah sangat mencintai ku, tapi aku tidak dan itu sudah terjadi beberapa tahun lalu. Ditambah sosok Dinda yang begitu baik, mana mungkin aku menjadi seorang pelakor diantara pasangan fenomenal seperti mereka, aku sadar pada diriku, aku siapa," ucap Nilam yang membuat Raka mengerem dengan mendadak.
"Kamu adalah separuh jiwa aku sekarang mbak, belahan jiwa ku," gombal Raka lalu meraih tangan Nilam dan menciumnya.
Mendapat perlakuan yang berlebihan, Nilam lalu melepaskan tangannya dari genggaman Raka.
__ADS_1
"Apaan sih pak, main cium-cium aja, bukan muhrim tahu, " ucap Nilam yang sedikit emosi kepada Raka yang sudah mulai bucin itu.
Nilam masih tampak kesal dengan aksi dadakan Raka yang sembarangan cium tangan Nilam. Nilam pun menjadi diam seribu bahasa, tapi Raka malah tertawa melihat tingkah Nilam.