
Yusuf tiba di lokasi proyek tepat waktu sesuai perkiraan.
Saat tiba di lokasi Yusuf langsung menghubungi Raka untuk mengetahui kabar Nilam sekarang.
"Assalamu'alaikum Ka, "
"Waalaikumsalam bos, "
"Gimana, "
"Beres bos, "
"Oke kalau gitu, saya titip Nilam , "
"Siap bos, aman, "
Setelah mengetahui kabar Nilam dari Raka , Yusuf lalu berkeliling mengecek kelayakan bangunan dan kelengkapannya.
Hari itu Yusuf ditemani oleh Fahmi teman semasa SMA sekaligus Konsultan Pengawas proyek milik Yusuf.
"Assalamu'alaikum bro, " ucap Yusuf yang kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Fahmi.
"Waalaikumsalam, " balas Fahmi sembari membalas uluran tangan Yusuf.
"Gimana aman semuanya? " tanya Yusuf kepada Fahmi sambil terus mengecek kelayakan proyek nya itu.
"Aman bos, " ucap Fahmi sambil mengacungkan jempol tangannya kearah Yusuf.
"Good, " ucap Yusuf senang mendengar ucapan dari Fahmi.
"Gua percayain proyek ini sama lo ya bro, kalau ada masalah langsung kontak gua aja ya bro, " saran Yusuf kepada Fahmi yang dibalas anggukan oleh Fahmi.
Yusuf nampak sangat antusias dengan proyeknya kali ini.
"Gimana kalau kita ngopi dulu bos? ,kebetulan di sebelah sana ada kedai kopi , ya sejenis warteg gitu, " tawar Fahmi kepada Yusuf.
"Come on, kebetulan hari ini gua belum minum kopi," jawab Yusuf yang kemudian bangkit dari duduknya itu.
Fahmi pun bangkit dari duduknya.
Dan berjalan kearah kedai kopi yang sudah dipenuhi oleh pekerja.
"Disini bos tempatnya, " ucap Fahmi agak tidak enak hati karena kedai kopi yang ditunjukkan kepada Yusuf sangat sempit.
Yusuf lalu memperhatikan sekeliling kedai kopi itu.
__ADS_1
"Kalau tidak nyaman sebaiknya kita pindah saja bos, " ucap Fahmi menawarkan pilihan lainnya.
"Tidak disini saja, saya kopi susu, tapi jangan dikasih gula ya, " pinta Yusuf kepada Fahmi dan kemudian Yusuf duduk diluar di bangku yang terbuat dari bambu itu.
"Baik bos, " jawab Fahmi yang kemudian masuk kedalam untuk memesan kopi pesanan Yusuf.
"Udah, " tanya Yusuf saat melihat Fahmi keluar dari kedai kopi.
"Beres bos, " jawab Fahmi yang kemudian duduk di seberang Yusuf dan berhadapan dengan Yusuf.
Tidak lama mbak pelayan kedai kopi datang membawa pesanan Fahmi dan Yusuf.
"Kopi susu dan kopi hitam ya pak, " ucap si mbak pelayan kedai kopi.
"Iya mbak, makasih, " jawab Fahmi sambil mengambil kopi yang ada di nampan mbak itu dan diletakkan di meja Yusuf dan dia.
"Diminum bos, " tawar Fahmi sambil menyeruput kopi hitam milik nya.
Yusuf memperhatikan Fahmi yang begitu menikmati kopi hitamnya.
Fahmi yang menyadari Yusuf yang tak juga meminum kopinya.
"Ada apa bos, kok kopinya tidak diminum, tidak suka ya dengan kopi model kaya begini? " tanya Fahmi memberanikan diri bertanya kepada Yusuf alasan dirinya tidak meminum kopi susunya.
"Bukan, bukan itu, sebenarnya saya tidak pernah minum kopi , " jawab Yusuf sangat pelan .
"Ooh, terus kalo tidak pernah minum kopi, kenapa pak bos malah pesan kopi," tanya Fahmi yang bingung dengan penjelasan Yusuf.
"Saya biasa minum susu, jus atau smoothies , istri saya melarang saya untuk mengkonsumsi kopi. Istri saya sangat cerewet kalau berhubungan dengan kesehatan, "ucap Yusuf menjelaskan kepada Fahmi tentang Dinda.
"Dasar Dinda, cerewetnya dari dulu sampe sekarang gak pernah ilang, " ucap Fahmi pelan saat mendengar perkataan Yusuf tentang Dinda.
Tanpa Fahmi sadari perkataannya itu didengar oleh Yusuf.
"Jadi benar bro, lo temen kecil istri gua Dinda!?? " tanya Yusuf penasaran.
Fahmi yang merasa keceplosan pun kaget dengan pertanyaan dari Yusuf.
"Iya bos, Dinda teman kecil gua, kebetulan Dinda satu sekolah dengan adik gua Masayu, " jelas Fahmi yang sangat malas jika mengingat masa lalunya itu.
Yusuf hanya mengangguk saat Fahmi menjelaskan tentang kedekatan Fahmi dan Dinda.
Kalau mengingat masa lalu banyak sekali kenangan dirinya dan Dinda.
Bahkan janji disaat Fahmi kecil dulu yang berjanji akan menikahi Dinda jika Dinda sudah lulus SMA, tapi semua itu harus sirna ketika orang tua Fahmi yang merupakan seorang Jaksa itu dipindah tugaskan ke daerah yang jauh dari rumah Dinda. Dari situlah Dinda dan Fahmi tidak pernah lagi bertemu hingga sekarang.
__ADS_1
Walaupun dulu orang bilang kalau cinta Fahmi ke Dinda itu adalah cinta monyet , tapi tidak dengan Fahmi yang menganggap jika Dinda adalah cinta sejatinya.
Walaupun tinggal jauh dari Dinda , tapi Fahmi selalu mencari tahu kabar Dinda. Dimana Dinda bersekolah, dimana Dinda tinggal dan Dinda menikah dengan Yusuf pun Fahmi mengetahuinya.
Semua tentang Dinda tidak luput dari pantauan Fahmi.
Saat Fahmi mengetahui jika kantor tempat Fahmi bekerja akan melakukan kerjasama dengan perusahaan milik Yusuf, Fahmi pun mengajukan diri kepada pemilik perusahaan untuk menghandle kerjasama itu.
Dan pemilik perusahaan menyetujui permintaan Fahmi.
"Mi, yuk kita kembali ke kantor , saya mau shalat Dhuha ," ucap Yusuf yang lalu bangkit dari duduknya.
"Kopinya belum diminum bos? " tanya Fahmi kepada Yusuf .
"Kasih orang saja Mi, daripada mubazir, " suruh Yusuf lalu pergi meninggalkan Fahmi .
"Pak mau kopi, ini belum diminum kok, sayang mubazir, " tawar Yusuf kepada seorang pekerja yang duduk disampingnya.
"Terima kasih bos, " jawab pekerja itu yang tampak senang mendapatkan rezeki kopi dari Fahmi.
"Sama sama pak, " balas Fahmi kemudian berlalu meninggalkan para pekerja yang ada di kedai kopi itu menuju ke kantor miliknya.
...****************...
"Assalamu'alaikum, " ucap Nilam saat memasuki rumah Yusuf dan Dinda.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, loh kok kamu sudah pulang Lam? " tanya Dinda kepada Nilam, heran karena hari masih pagi tapi Nilam sudah pulang.
"Iya Din, saya disuruh Raka pulang saja, karena Raka sedang ada urusan lain, " jelas Nilam kepada Dinda.
"Tapi kamu diterima kan Lam jadi asisten Raka? " tanya Dinda sangat penasaran.
"Alhamdulillah Din, aku di Terima bekerja, " ucap Nilam bahagia .Mendengar itu pun Dinda langsung memeluk Nilam karena ikut gembira.
"Alhamdulillah Lam, semoga menjadi berkah ya Lam buat kamu, Aamiin ya rabbal alamin, " ucap Dinda sangat bahagia.
"Makasih ya Din, kamu dan Yusuf udah banyak support dan bantu aku, beruntung aku bisa bertemu dengan kalian, " ucap Nilam yang kemudian menitikkan air mata. Melihat air mata yang menetes dari manik indah milik Nilam itu , Dinda pun menghapus air mata yang mulai menetes di pipi Nilam.
"Semua sudah menjadi ketentuan dan ketetapan Allah SWT Lam, " ucap Dinda lembut .
Nilam pun memeluk Dinda lagi.
"Aku janji tidak akan menjadi duri dalam daging di pernikahan kalian, jujur aku sempat terpesona dengan apa yang Yusuf miliki sekarang, tapi aku coba untuk menepisnya Din,"ucap jujur Nilam kepada Dinda. Dinda pun tersenyum mendengar ungkapan hati Nilam.
" Manusia itu tempatnya khilaf Lam, tapi manusia punya akal pikir untuk memilih mana yang baik untuknya tapi tidak merugikan orang lain, " ucap Dinda yang mendapat anggukan dari Nilam tanda setuju.
__ADS_1