
Pov ibu
Pagi ini , setelah sarapan dan bercengkrama sebentar dengan anakku serta pacarnya, aku berpamitan kepada mereka untuk pergi kekantor. Sebenarnya aku masih ingin berkumpul dengan anakku dan pacarnya itu, tapi apa boleh buat aku harus tetap berangkat ke kantor pagi-pagi sekali, karena kebetulan ada meeting dengan Pak Wijaksana hari ini, pemilik saham terbesar di perusahaan milik mendiang almarhum suamiku.
Ini adalah meeting pertama kalinya aku dengan pak Wijaksana. Karena sebelumnya pak Wijaksana selalu mewakilkan semua urusan perusahaan miliknya dengan asistennya yaitu pak Putra Atmaja. Pak Wijaksana dan keluarga sudah lama menetap di Los Angeles bersama keluarganya, sebab istri pak Wijaksana adalah asli orang Los Angeles.
Saat di dalam mobil aku kembali mengecek semua keperluan untuk meeting pagi ini.
Dan ternyata flashdisk milikku tertinggal diruang kerja, karena semalam aku kembali mengecek semua data .
Aku putuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil flashdisk ku yang tertinggal di ruang kerja.
Saat mendekati ruang makan , samar aku mendengar suara Raka yang sedang berbicara.
Aku penasaran dengan apa yang Raka ucapkan.
Akhirnya aku pun bersembunyi dibalik tembok penyekat antara ruang keluarga dan ruang makan.
Aku dapat mendengar dengan jelas setiap perkataan anakku Raka. Dan pengakuannya membuat aku shock, karena Raka hanya berpura -pura berpacaran dengan Nilam hanya untuk membahagiakan aku.
"Tapi rasa itu sudah singgah di hatiku mbak, " ucap Raka lalu menggenggam tangan Nilam.
Nilam pun sontak terdiam dan Raka memandangi wajah Nilam.
Ada rasa kecewa di dalam hati ku. Akhirnya aku putuskan untuk keluar dari persembunyian ku dan meminta penjelasan kepada mereka berdua.
"Oh jadi ini semua hanya sandiwara, " ucap Ku yang mengagetkan Raka dan Nilam.
Raka dan Nilam pun terdiam, karena kebohongan mereka sudah diketahui oleh Ku.
Aku pun menatap lekat kepada Raka dan Nilam yang hanya menunduk.
"Ada yang bisa jelaskan dengan ibu , tentang semua sandiwara ini? " tanyaku engan raut wajah yang penuh dengan rasa kecewa.
"Ibu... ibu dengar semuanya? " tanya Raka kaget dengan kedatangan Ku kembali.
"Semua ibu dengar, " ucapku dengan tubuh yang mulai bergetar menahan rasa kecewa.
__ADS_1
"Maaf Bu, mas sebenarnya tidak berniat untuk membohongi ibu, tapi melihat ibu bahagia karena kehadiran mbak Nilam disini membuat mas berpikir untuk bersandiwara dengan menjadikan mbak Nilam pacar pura-pura nya mas bu. Mbak Nilam mas yang paksa bu, jadi ibu jangan salahkan mbak Nilam, " ucap Raka mencoba menjelaskan kepadaku.
Aku pun menghempaskan tubuhku yang gemetar karena merasa dibohongi oleh anakku dan wanita bernama Nilam.
Tak terasa air mataku menetes juga ke bumi.
Raka dan Nilam tampak sangat kacau melihat keadaanku sekarang.
"Maafkan mas bu, mas gak bermaksud membohongi ibu dan membuat ibu kecewa seperti ini. Tapi sungguh mas memang mencintai mbk Nilam bu, mbak Nilam akan tetap jadi mantu ibu, maafkan mas bu, " ucap Raka bersimpuh di kakiku mencoba menjelaskan padaku.
Aku membuang pandangan Ku .
Nilam pun mendekatiku dan ikut bersimpuh di kakiku.
"Maaf...Bu, aku...minta maaf, " ucap Nilam terbata.
Aku mencoba menatap wajah cantik Nilam yang bersimpuh di kakiku.
Berat rasanya bibir ini untuk mengeluarkan kata untuk memaafkan mereka, tapi tugas ibu adalah membimbing sang anak agar tidak salah jalan.
Aku tatap penyesalan pada wajah Raka dan juga pada wajah Nilam, sebenarnya tidak tegang melihat mereka harus bersimpuh seperti ini.
Raka dan Nilam pun bangkit .
Air mata yang sudah hampir jatuh aku coba tahan. Raka lalu memelukku erat.
Dan air mata ku yang tadi sudah ku tahan agar tidak jatuh akhirnya tetap harus luruh ke bumi.
"Maafkan mas ya bu, maafkan mas bu, mas janji ini terakhir kali mas buat ibu menangis, " ucap Raka yang juga menangis di pelukanku.
Nilam hanya terdiam memperhatikan kami dari jauh. Aku lalu melepas pelukan Raka dan menghampiri Nilam.
"Jadi kamu bukan pacar anak saya Raka? " tanya ku meyakinkan dengan apa yang sudah aku dengar.
"Ii... ya bu, maafkan saya, " ucap Nilam pelan.
"Tapi mas sekarang sudah jatuh cinta bu dengan mbak Nilam, mas ingin mbak Nilam jadi istri mas bu, " ucap Raka mengungkapkan isi hatinya kepada ku.
__ADS_1
Aku terdiam memindai wajah putraku, ada cinta di wajah anakku Raka.
" Kamu yakin mas , mau menikah dengan nak Nilam? " tanyaku kepada Raka.
Nilam hanya terdiam, mungkin bingung harus bagaimana.
"Yakin bu, sangat yakin malah, " ucap Raka dengan pede nya.
"Bagaimana dengan Nilam, apa Nilam mau menjadi istrimu, " ucap ku yang sontak membuat Nilam semakin serba salah.
"Bagaimana nak Nilam, apakah kamu mau menerima lamaran dari anak ibu Raka? " tanya ku kepada Nilam.
"Jujur bu aku bingung mau menjawab apa, biarlah aku dan pak Raka saling mengenal satu sama lain dan inshaAllah jika kami memang berjodoh Allah SWT akan mempermudahkan langkah kami menuju jenjang pernikahan, " ucap Nilam lebih mantap dari sebelumnya.
Aku pun mengangguk , menyetujui dengan perkataan Nilam. Tapi tidak dengan Raka yang nampak kecewa dengan jawaban dari Nilam.
"Gimana mas, kamu dengar sendiri kan jawaban dari Nilam. Kamu mau ikuti permintaan Nilam atau bagaimana, " tanya ku yang ingin tahu jawaban dari anakku itu.
"Aku akan menuruti keinginan mbak Nilam, aku akan menunjukkan ke mbak Nilam kalau aku sangat pantas untuk mendampingi mbak Nilam, " ucap Raka dengan pedenya.
"Oke kalau begitu, ibu beri waktu satu bulan untuk kalian penjajakan, jika kalian cocok bisa kita langsungkan pesta pernikahan, tapi jika tidak, ya apa boleh buat Raka harus mundur dan mau ibu jodohkan dengan gadis pilihan ibu, tanpa penolakan, " ucap ku yang membuat Raka kaget mendengar permintaanku.
"Deal bu, mas akan bawa mbak Nilam kembali kesini untuk jadi mantu ibu, " ucap Raka dengan sangat pede.
"Oke kalau begitu, sekarang ibu pergi berangkat kerja, kalian diskusikan bagaimana baiknya, ibu tunggu kabar baiknya dalam satu bulan ini, " ucapku seraya melangkah meninggalkan rumah dan masuk kedalam mobil untuk bergegas ke kantor .
Ada perasaan bahagia saat tahu jika anakku Raka sudah benar benar melupakan gadis bernama Tiara itu. Dan mau mencoba membuka hati untuk wanita lain. Sebenarnya Raka adalah anak yang sangat penurut hanya saja cinta telah membutakan dirinya.
Dan aku sangat berharap jika Nilam adalah wanita terakhir yang akan mendampingi hidup Raka. Semoga saja seperti itu.
Aku melirik jam tangan ku untuk mengetahui waktu sekarang, ternyata aku hanya punya waktu dua puluh menit saja untuk segera sampai ke kantor ku. Aku yang terkenal disiplin tentunya tidak mau kalau sampai datang terlambat.
Mau ditaruh dimana wajahku ini , aku sebagai tauladan untuk para karyawan ku , tentunya harus mencontohkan contoh yang baik tentunya.
Aku menghentikan laju mobilku karena ada lampu merah. Sembari menunggu lampu merah aku pun melihat lihat keadaan diluar mobil. Aku terkejut saat melihat seseorang yang aku kenal, tapi apa mungkin dia, karena mustahil kalo memang itu dia, karena kabar yang terakhir ku dengar dia ada di Jerman. Tapi yakin itu dia.
Tin... tin... tin...
__ADS_1
Suara klakson mobil dan motor yang ada di belakangku bunyi bersahut-sahutan, karena lampu sudah berwarna hijau, akhirnya aku pun melajukan mobilku tanpa pernah tahu apakah pria yang aku lihat tadi memang benar dia.