Adik Madu Pilihan Suamiku

Adik Madu Pilihan Suamiku
Aisyah jatuh cinta


__ADS_3

Malam ini pak Indrawan sengaja mengundang Yusuf datang ke kediamannya, untuk mengajarkan dirinya dan keluarganya mengaji. Tentunya atas persetujuan dari Yusuf terlebih dahulu. Istri dari pak Yusuf pun merasa bahagia, karena sang suami kini mau kembali berhijrah. Sang anak Aisyah pun di paksa oleh kedua orang tuanya untuk mau ikut serta belajar mengaji. Akhirnya Aisyah pun menuruti keinginan dari kedua orang tuanya itu.


Yusuf terlihat sangat tampan malam itu.


Pak Indrawan menyambut antusias kedatangan Yusuf ke kediaman keluarga mereka, begitu pula Aisyah, yang sejak awal tidak mengetahui jika yang akan mengajar mereka mengaji adalah Yusuf sang pengusaha muda dengan sejuta pesona.


"Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


sapa Yusuf saat masuk kedalam rumah pak Indrawan.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Pak Indrawan dan keluarganya. "Maaf Pak kalau saya datang terlambat, tadi di kantor banyak kerjaan," ucap Yusuf sembari mencium tangan pak Indrawan dengan takzim. "Saya yang harusnya minta maaf, karena sudah mengganggu waktu nak Yusuf," balas pak Indrawan yang selalu kagum dengan sikap Yusuf yang santun.


Aisyah yang tadinya malas-malasan menjadi semangat empat lima saat melihat kedatangan Yusuf.


"Jadi yang dimaksud papa nak Yusuf itu adalah pak Yusuf ini toh, aku kira


Yusuf anaknya Pak Mail," monolog Aisyah dalam hati.


Yusuf lalu menyalami satu persatu anggota keluarga pak Indrawan.


Dan langsung mengajarkan mengaji kepada anggota keluarga pak Indrawan satu per satu. Tibalah Yusuf mengajari Aisyah mengaji, gadis cantik itu tidak melepaskan pandangannya dari wajah Yusuf, merasa dipandangi terus oleh Aisyah, Yusuf pun menjadi serba salah.


"Kamu sebenarnya mau belajar mengaji atau hanya mau memandangi wajah saya?" tanya Yusuf yang jengkel atas sikap Aisyah. Gadis cantik itu pun tersenyum saat melihat Yusuf marah. Baginya Yusuf terlihat sangat tampan kalau sudah kesal.


"Dua-duanya pak guru," ucap Aisyah santai, yang membuat Yusuf menghela nafas panjang.


"Ya sudah, kalau mamang niat belajar ngaji, ngaji yang serius ya, jangan becanda," ketus Yusuf kepada Aisyah. Aisyah pun tersenyum sembari terus memandangi wajah tampan Yusuf.


Akhirnya Yusuf tidak lagi memperdulikan tingkah Aisyah, bagi Yusuf yang penting diri nya, menjalankan amanah dari pak Indrawan untuk mengajarkan Aisyah ilmu agama dan mengaji dengan benar.

__ADS_1


...----------------...


Setelah menghabiskan waktu selama dua jam, akhirnya Yusuf pun undur diri dari kediaman pak Indrawan. Beliau dan istri mengucapkan terima kasih kepada Yusuf, karena sudah menyempatkan waktu untuk mengajarkan keluarganya mengaji.


Yusuf pun akhirnya pulang kembali ke kediamannya.


Saat tiba di rumah, Yusuf dikejutkan oleh kehadiran Raka yang sudah beberapa hari ini menghilang, bagai di telan bumi.


"Masih hidup kamu Ka, kirain mas, kamu udah masuk ke dalam perut bumi," canda Yusuf yang membuat Raka kaget dan tak enak hati, karena sudah hampir tiga hari ini bolos kerja tgn.


"Mas jangan ngomong sembarangan gitu dong, mas kan belum tahu alasan dari Raka, kenapa Raka tidak masuk kerja lebih dari satu hari, jangan berasumsi sendiri dulu mas," ucap Dinda yang selalu menenangkan hati sang suami.


Yusuf pun mendengarkan perkataan sang istri.


Walau matanya tetap menatap tajam, kearah Raka.


"Ayo katakan alasan mu sudah beberapa hari ini bolos kerja dan mas gak mau dengar alasan yang gak logika, hape juga pake acara susah dihubungi segala, wajar kan kalau mas mengira kamu hilang bagai di telan bumi," ucap Yusuf yang sangat geram dengan tingkah laku adik sepupunya itu. Raka yang merasa bersalah, dari tadi hanya menunduk saja.


Raka pun mengangkat wajahnya, "Maaf mas, beberapa hari ini aku gak masuk karena, aku dan mbak Nilam, pulang ke rumah ibu," .


"Kok Nilam pulang ke rumah kamu?" tanya Yusuf bingung dengan jawaban dari Raka.


Raka lalu melirik dulu ke arah Dinda. Dinda pun mengangguk seolah mengerti apa yang ingin Raka sampaikan.


"Begini loh mas, jadi Raka dan Nilam itu sekarang sudah memiliki perjanjian," ucap Dinda berusaha menjelaskan kepada Yusuf tentang apa yang terjadi.


"Perjanjian apa? buat aku makin bingung aja?" tanya Yusuf lagi yang semakin bingung.


"Aku sudah mengkhitbah mbak Nilam, disaksikan oleh ibu mas, " jawab Raka yang membuat Yusuf kaget.

__ADS_1


"Serius kamu ka?" tanya Yusuf tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Serius mas dan aku kesini mau izin dengan mas dan mbak Dinda, untuk mengajak mbak Nilam tinggal di apartemen milik aku," izin Raka kepada Yusuf dan Dinda.


"Apa?!!" seru Yusuf yang tak setuju dengan pernyataan dari Raka.


"Mas...Raka belum selesai ngomong loh, jangan emosi dulu," ucap Dinda mencoba menenangkan suaminya itu sambil mengusap-usap punggung tangan suaminya itu.


"Kamu tahu kan Din, Nilam dan Raka itu bukan muhrim, masa mereka mau tinggal dalam satu tempat tapi belum ada ikatan pernikahan, yang bener aja!" tolak Yusuf yang membuat Raka tidak sanggup mengucapkan kata-kata untuk membela diri, Dinda lalu menghela nafas mendengar perkataan suaminya itu.


"Mas, yang tinggal di apartemen itu hanya Nilam, Raka akan tinggal kembali di rumah bude mas, jadi mereka gak tinggal di satu tempat mas," ucap Dinda menjelaskan kepada Yusuf.


"Mas gak yakin kalo Raka akan komit dengan perkataannya," ejek Yusuf kepada Raka.


"Jangan su'udzon dulu mas, gak baik," ucap Dinda lagi.


"Mas bukannya su'udzon Din, mas tahu betul bagaimana Raka," ucap Yusuf lalu duduk di samping Dinda, yang lama-lama merasa lelah karena harus berdiri terus.


"Ya udah mas gini aja, lebih baik kita tanyakan langsung kepada yang bersangkutan yaitu Nilam, dari pada mas terus su'udzon sama Raka," tawar Dinda yang lalu bangkit dari duduknya dan menemui Nilam dikamar.


Tak lama kemudian Nilam pun datang bersama Dinda.


Nilam sudah membawa tas miliknya, yang berisi baju gamis pemberian dari Dinda.


Nilam pun duduk berdampingan dengan Raka.


"Nilam, kamu sudah yakin ingin tinggal di apartemen milik Raka?" tanya Yusuf kepada Nilam yang masih saja menunduk.


Nilam tidak menjawab pertanyaan dari Yusuf. Nilam hanya mengangguk, yang berarti dia setuju dengan ajakan dari Raka.

__ADS_1


"Nilam, bukannya saya ingin mencampuri urusan pribadi kamu, bukan itu maksud saya, saya hanya merasa bertanggung jawab kepada kamu, karena saya yang membawa kamu masuk ke dalam rumah ini dan juga Raka adalah adik sepupu dari saya, oleh karena itu saya harus berhati-hati dalam memberikan pendapat, kamu paham kan Lam," jelas Yusuf yang dibalas anggukan oleh Nilam.


__ADS_2