
Setelah shalat subuh, Yusuf langsung pulang ke rumah pagi itu dengan membawa kunci cadangan. Karena Yusuf tidak mau mengganggu kegiatan istrinya Dia tahu kalau di pagi hari Dinda sangat sibuk mengurus pekerjaan rumah. Oleh karena itu, Yusuf berinisiatif membawa kunci rumahnya sendiri. Setelah masuk ke dalam rumah dan mengucapkan salam, Yusuf lalu berjalan menuju dapur karena dia ingin mengambil segelas air putih. Melihat istrinya sedang asyik memasak di dapur tanpa banyak basa-basi Yusuf langsung memeluk tubuh istrinya itu dari belakang.
"Pagi sayang!" ucap Yusuf mesra sambil memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Dan betapa terkejutnya Yusuf, saat mengetahui kalau wanita yang Yusuf peluk ternyata bukan istrinya, melainkan Nilam.
"Astaghfirullah! Nilam?" ucap Yusuf kaget saat tahu kalau wanita yang dipeluknya adalah Nilam bukan Dinda.
"Iya Suf ini Aku! Bukan Dinda," jawab Nilam yang merasa tidak enak. Karena menggunakan pakaian milik Dinda, dirinya disangka Dinda oleh Yusuf. Apalagi Yusuf sampai memeluk dirinya.
"Kenapa kamu memakai pakaian milik Dinda? Membuat Aku jadi terkecoh saja!" tanya Yusuf yang jadi merasa bersalah telah salah memeluk Nilam karena pakaian yang dikenakan Nilam adalah pakaian milik istrinya.
"Maaf Suf! Aku tidak berniat membuat mu salah mengira seperti ini, " ucap Nilam merasa bersalah.
Yusuf pun mulai meredakan emosinya.
"Oh ya sudah! Aku juga minta maaf, karena sudah lancang memeluk dirimu!" ucap Yusuf merasa menyesal telah salah mengira kalau Nilam itu Dinda.
"Ada apa ini mas? Sepertinya yang kalian bicarakan serius sekali!" tanya Dinda yang penasaran dengan apa yang terjadi antara Nilam dan suaminya itu.
Tiba-tiba wajah Nilam menjadi pucat, takut kesalahpahaman tadi diketahui oleh Dinda.
"Ada apa mas? Nilam? kok kalian jadi diam setelah kedatanganku!" tanya Dinda lagi semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Dinda pun menatap lekat lekat wajah Yusuf.
"Mas kira Nilam itu Kamu Din! Jadi tak sengaja Mas memeluknya dari belakang! Tapi sungguh mas benar-benar tidak tahu kalau itu Nilam? bukan kamu," ucap Yusuf santai . Dinda pun tersentak mendengar pengakuan dari Yusuf, begitu juga Nilam yang merasa sangat bersalah atas peristiwa yang melibatkan dirinya dan Yusuf barusan.
__ADS_1
Dinda berusaha mencerna dengan baik penjelasan yang disampaikan oleh Yusuf dan juga Nilam. Dinda tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan. Ditatapnya wajah Yusuf dan Nilam. Dinda mencoba mencari cinta di antara mereka berdua, yang dulu pernah ada, walaupun Dinda tahu kalau dulu yang cinta mati hanya Yusuf suaminya. Cinta Yusuf bertepuk sebelah tangan saat itu, tapi Dinda juga tidak mau membiarkan Yusuf terlalu dekat dengan Nilam, Dinda tau suaminya hanya manusia biasa, bukan malaikat. Yang mudah sekali terkena bujuk rayu setan.
"Ya sudah mas, sekarang kita sarapan aja yuk! kebetulan Nilam sudah membuat sarapan pagi untuk kita semua. Ayo Lam kita makan bersama! aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan kamu!" ucap Dinda mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang beberapa menit yang lalu , karena peristiwa salah peluk tadi.
Nilam masih tampak merasa bersalah atas peristiwa tadi, sehingga membuat Dinda merasa iba kepada Nilam.
Bukan keputusan yang mudah buat Dinda untuk menerima kehadiran Nilam di dalam keluarga kecil Dinda dan Yusuf. Di mana Nilam adalah wanita yang pernah ada di hati suaminya itu. Tapi di sisi lain Dinda juga merasa iba dengan takdir yang harus dihadapi Nilam, setelah dicampakkan suaminya, anak semata wayangnya pun diambil oleh suami dan keluarganya. Tidak hanya sampai disitu, Nilam juga dijadikan alat untuk melunaskan hutang suami Nilam. Oleh karena itu, Yusuf sengaja membawa Nilam masuk ke dalam keluarga kecil bersama Dinda, untuk menyelamatkan Nilam dari pelecehan yang kerap kali dialami oleh Nilam. Akibat perbuatan suami Nilam yang tidak bertanggung jawab. Tentunya Yusuf melakukan itu atas dasar kemanusiaan, itulah yang membuat Dinda menerima kehadiran Nilam ditengah-tengah keluarga mereka.
Nilam masih terdiam dan tiba-tiba air mata Nilam pun menetes.
Dinda yang melihat Nilam menangis pun lalu mendekatinya. Dan dia memeluk tubuh rapuh Nilam.
"Maafkan aku Din! Aku tidak bermaksud untuk mengganggu keluarga kalian. Maafkan aku, jika kehadiran aku disini menjadi pengganggu di keluarga kalian! Maafkan aku Din! Maafkan aku!" ucap Nilam sambil menangis.
"Sudah Lam! Aku percaya kok dengan kamu dan aku yakin jika kamu tidak ada niat buruk dengan keluarga ku. Aku tidak mempermasalahkan itu semua. Aku percaya mas Yusuf dan kamu Lam! sudah jangan nangis lagi! Ayo kita cicipi masakan buatan kamu! " ucap Dinda yang lagi-lagi penuh dengan kelembutan. Dinda pun tersenyum manis kepada Nilam.
Nilam pun makan berhadapan dengan Dinda, sedangkan Yusuf berada di tengah-tengah Dinda dan Nilam.
Akhirnya Mereka semua pun makan bersama.
Nilam masih tampak canggung berada di antara Yusuf dan Dinda. Apalagi Yusuf yang sangat manja itu, kerap kali meminta disuap kepada istrinya. Dinda yang sudah paham akan sifat suaminya itu pun selalu menurut.
Namun Dinda sadar kalau apa yang dilakukan dia dan suaminya itu tidak baik. Yusuf tanpa sadar mencium tangan sang istri .
"Din , Suf , aku duluan ya!" ucap Nilam lalu berpamitan dengan membawa piring bekas makannya menuju wastafel yang ada di dapur.
__ADS_1
Dinda dan Yusuf pun kompak mengangguk tanda menyetujui jika Nilam menyudahi sarapan paginya.
"Mas...!" ucap Dinda sambil menggeleng tanda tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Kenapa? Mas nggak boleh mencium tangan kamu?" tanya Yusuf heran.
"Ada Nilam tadi mas disini," jelas Dinda.
"Memangnya kenapa? Toh mas hanya mencium tangan mu saja, tidak lebih. Dimana letak salahnya coba?" ucap Yusuf merasa heran.
"Kemuliaan seseorang adalah dengan tidak menunjukkan di depan umum perilaku yang menjadi ranah privasinya, hukumnya bisa menjadi makruh mas jika sampai membangkitkan syahwat orang yang melihatnya!" ucap Dinda lagi-lagi menjelaskan kepada Yusuf. Yusuf pun tersenyum mendengar penjelasan dari sang istri tercinta.
"Oke kalau begitu! Maaf ya, pengetahuan mas belum sebanyak kamu. Jadi, kamu harus seringkali deh mengingatkan mas!" ucap Yusuf kepada Dinda.
Dinda pun tersenyum manis.
"Sama-sama mas! " balas Dinda .
...****************...
Setelah sarapan pagi, Yusuf pun segera mengganti baju koko miliknya dengan kemeja formal.
Yusuf nampak gagah kali ini, menggunakan kemeja putih tangan panjang dan celana dasar berwarna coklat tanah.
Dinda pun setia membantu menyiapkan kebutuhan Yusuf.
__ADS_1
"Mas jadwal hari ini mau bertemu dengan siapa? " tanya Dinda yang sudah menjadi kebiasaan Dinda setiap hari, untuk mengetahui kemana saja Yusuf akan pergi dan itu pun atas permintaan dari Yusuf.
"Kalo gak salah sih semalem Raka bilang, jadwal hari ini mau meninjau proyek milik pak Indrawan!" jawab Yusuf sambil mengenakan jam tangan Rolex miliknya.