
Raka masih berada di kediaman Yusuf, karena masih ada sedikit masalah dengan proyek mereka.Kebetulan juga hari ini Yusuf tidak berangkat ke kantor karena ingin mengajak anak dan istrinya berkunjung ke rumah orang tua Dinda, yang berada cukup jauh dari kota mereka. Membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk bisa sampai ke rumah orang tua Dinda. Dinda sudah menceritakan kepada Nilam untuk ikut saja dengan mereka ke rumah orang tua Dinda, tapi Nilam menolak dengan alasan pekerjaannya di kantor sangat banyak dan Nilam berani ditinggal di rumah Yusuf sendirian. Walau pun berat meninggalkan Nilam sendirian tapi Dinda tidak mau memaksakan kehendak nya dan menghargai apa yang menjadi keputusan dari Nilam.
"Dinda, Yusuf aku berangkat dulu ya, " pamit Nilam kepada Dinda dan Yusuf yang sedang duduk di ruang tamu bersama Raka.
"Beneran kamu gak mau ikut kami ke kampung halaman Ku Lam? " tanya Dinda sekali lagi berharap Nilam merubah keputusannya.
"Makasih Din, mungkin dilain waktu saja, " jawab Nilam.
"Baiklah, tapi kamu jaga diri kamu baik- baik ya, kalau ada apa - apa cepat hubungi aku," pesan Dinda kepada Nilam ulang sudah menganggap Nilam seperti kakaknya sendiri.
Nilam pun tersenyum manis kepada Dinda.
Saat Nilam akan melangkahkan kakinya, Yusuf memanggilnya.
"Nilam, sebentar, " panggil Yusuf, yang membuat semua orang yang ada di sana reflek menoleh kearah Yusuf dengan serempak.
"Iya Suf, ada apa? " tanya Nilam.
"Kamu berangkatnya bareng Raka aja, kebetulan urusan saya dengan Raka sudah selesai, bukan begitu Raka, kalian mau sama- sama ke kantor kan! " ucap Yusuf yang membuat Raka shock mendengar tawaran dari Yusuf.
Dinda pun tersenyum saat melihat wajah kaget milik Raka.
Yusuf pun tersenyum manis kearah Raka, tapi bagi Raka senyuman manis milik Yusuf adalah ancaman untuknya.
"Makasih Suf, aku bisa berangkat naik angkutan umum saja, makasih tawarannya, " ucap Nilam yang lalu pergi meninggalkan Yusuf, Dinda dan Raka.
Yusuf pun memberi kode dengan tatapan mata yang tajam kepada Raka untuk mengejar Nilam. Sontak saja Raka langsung bangun dan menjemput Nilam.
Beruntung hari ini Raka tidak membawa mobil ke rumah Yusuf, entah kenapa hari ini Raka ingin sekali membawa motor sport miliknya.
Raka pun melajukan motornya dengan cepat, beruntung Nilam masih menunggu kendaraan umum, karena hari masih sangat pagi jadi belum banyak kendaraan yang lewat.
"Ayo naik mbak, " ajak Raka yang membuat Nilam terkejut karena kedatangan Raka.
__ADS_1
"Makasih pak, saya naik angkutan umum saja, " tolak Nilam yang membuat Raka marah.
"Naik ini perintah saya, " ucap Raka yang membuat Nilam jadi merasa bersalah.
Nilam pun dengan reflek naik keatas motor sport milik Raka.
Setelah Nilam naik Raka pun mulai melajukan motor sport miliknya dengan kecepatan tinggi.
Tidak sampai dua puluh menit akhirnya sampailah Nilam dan Raka di kantor milik Yusuf.
Setelah diparkiran Raka langsung memarkirkan motor sport miliknya. Dan Nilam langsung bergegas turun dari motor milik Raka.
"Makasih pak, " ucap Nilam kepada Raka.
"Iya , " jawab Raka singkat lalu pergi meninggalkan Nilam diparkiran.
Raka merasa mengantuk sekali pagi itu. Karena beberapa hari ini Raka tidak tidur dengan nyenyak karena Raka masih memikirkan masalahnya dengan Tiara. Ditambah lagi ada sedikit masalah dalam proyek yang dijalani dengan pak Indrawan.
Setibanya didalam ruang kerja milik nya Raka langsung tidur di sofa panjang yang ada disamping meja kerja miliknya. Padahal diruang kerjanya itu terdapat kamar tidur untuk Raka jika dirinya harus lembur malam.Karena sudah terlalu mengantuk akhirnya Raka tertidur di sofa . Nilam pun masuk keruangan kerja Raka. Melihat Raka yang tertidur pulas, Nilam pun berinisiatif mengambil selimut dan bantal yang ada di dalam kamar.
Nilam pun mengamati isi kamar tidur itu satu persatu. Ada sesuatu yang mengganjal matanya, foto Raka dan Tiara .
Foto berukuran dua puluh R itu dipajang oleh Raka tepat di atas spring bed . Tampak wajah Tiara yang sangat cantik dan juga Raka yang sangat gagah dan tampan.
Terlihat begitu jelas dari sorot mata Raka jika Raka sangat mencintai wanita itu.
Nilam pun bergegas mengambil bantal dan selimut yang ada dikamar itu untuk diberikan kepada Raka.
Nilam membawa bantal dan selimut menuju sofa dimana Raka berada. Diangkatnya dengan perlahan kepala Raka agar Raka jangan sampai terjaga, setelah beres meletakkan bantal di kepala Raka , Nilam pun menyelimuti tubuh milik Raka. Tapi saat Nilam akan melangkah menuju meja kerjanya, tiba-tiba tangan Nilam digenggam oleh Raka.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu Tiara, " ucap Raka dengan mata masih terpejam.
Nilam berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Raka tapi genggamannya begitu kuat.
__ADS_1
Setelah berusaha keras akhirnya genggaman tangan Raka pun terlepas.
"Akhirnya lepas juga, " ucap Tiara lega sambil memegangi tangannya.
"Jangan- jangan wanita difoto itu yang bernama Tiara, " monolog Nilam dalam hati.
Nilam lalu menuju meja kerjanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang sudah sangat menumpuk itu.
...****************...
Yusuf dan Dinda tiba di rumah kedua orang tua Dinda.
Kedatangan mereka disambut antusias oleh keluarga besar dari Dinda. Dinda sendiri adalah anak ketiga dari enam bersaudara. Kakak pertama Dinda bernama Akbar, Akbar seorang kepala desa di kampung halaman Dinda. Kakak kedua Dinda adalah Khadijah seorang ustazah di pondok pesantren milik kakeknya Dinda, karena kebetulan suami dari Khadijah adalah kepala sekolah dari pondok tersebut.
Adik Dinda yang pertama bernama Ali, Ali seorang ustad yang mengajar di Kairo.
Anak kelima Sulaiman, Sulaiman masih menyelesaikan kuliahnya di Kairo dan tinggal bersama Ali.
Si bungsu Aisyah masih berstatus seorang santriwati di pondok milik kakeknya.
Sedangkan ayah Dinda adalah ketua yayasan Pondok milik keluarga Dinda.
Keluarga besar Dinda menyambut kedatangan Dinda dan keluarganya dengan penuh suka cita. Apalagi kedua orang tua Dinda saat melihat cucu kembarnya Farhan dan Farrah yang sangat menggemaskan.
"Ya Allah cucu Siti sudah besar , sini salim dengan Siti dan Datuk , " ucap Ibu Aminah, ibu dari Dinda.
Farhan dan Farrah langsung melihat kearah Dinda untuk meminta izin , Dinda pun dengan reflek mengangguk mengizinkan anak anaknya.
Farhan dan Farrah pun langsung menghambur kedalam pelukan Siti dan Datuknya.
Dinda dan Yusuf pun menyalami satu persatu anggota keluarga yang ada didalam rumah orang tuanya itu.
"Gimana kabar kalian nak? " tanya Ibu Aminah kepada anak dan menantunya itu.
__ADS_1
" Alhamdulilah kami semua baik bu, berkat doa dan ridho ibu dan bapak, " ucap Dinda dengan senyum khasnya.