Adik Madu Pilihan Suamiku

Adik Madu Pilihan Suamiku
Penyesalan Jaka


__ADS_3

Pov Nilam


"Nilam maaf sebelumnya, bukan saya ingin mencampuri urusan pribadi kamu, bukan itu maksud saya, saya hanya merasa bertanggung jawab kepada kamu, karena saya yang membawa kamu masuk ke dalam rumah ini dan juga Raka yang tak lain adalah adik sepupu saya, oleh karena itu saya harus berhati-hati dalam memberikan pendapat, kamu paham kan Lam dengan apa yang saya maksud," jelas Yusuf dan aku membalasnya dengan anggukan.


"Iya Suf, kamu benar, seharusnya saya minta izin sama kamu terlebih dahulu, tapi saya juga tidak mau mengganggu kenyamanan rumah tangga kalian, jika saya tinggal di rumah kalian dalam waktu yang lama, karena saya sadar jika saya bukan lah mahram bagi kamu Suf, saya hanya ingin menjaga hubungan baik kita saja dan saya pribadi sangat berterima kasih atas semua yang kalian berikan selama ini." ucap ku kepada Yusuf dan Dinda.


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu Lam, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kamu, tapi kamu yakin akan aman dari para preman penagih hutang, yang tempo hari kejar-kejar kamu?" tanya Yusuf yang masih khawatir dengan keadaan ku kelak, karena bagaiman juga aku adalah sahabatnya dulu dan juga cinta pertamanya.


"Aku yang akan melunaskan segala bentuk hutang piutang dari mantan suaminya, yang melibatkan mbak Nilam mas!" sambut Raka yang membuat Yusuf melirik ke arahnya.


"Syukurlah kalau begitu, kamu beruntung Lam dipinang pria sebaik Raka," puji Dinda yang membuat Yusuf geram.


"Itu hal yang biasa Din, namanya juga cowok kalau ada maunya, apa aja di kasih buat cewek," sanggah Yusuf yang tidak terima, jika sang istri memuji pria lain selain Yusuf, walaupun pria itu masih saudara dari Yusuf sendiri.


Dinda pun menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat tingkah dari suaminya itu. Sedangkan Raka hanya menghela nafas berat, karena jika sang kakak sepupunya ini sudah bicara, gak ada lawannya.


"Ya udah mas kalau begitu kami pamit dulu ya mas," pamit Raka lalu mencium tangan kakak sepupunya yang menyebalkan itu. Dan aku pun mengikuti Raka dan berpamitan kepada Yusuf dan Dinda.


"Makasih banyak ya Din, kamu sudah mengajari banyak sekali ilmu dan jadi inspirasi buat aku, makasih Din, kamu bidadari surga berwujud manusia," ungkap ku sembari memeluk erat tubuh Dinda.


"Sering-sering main ke sini ya Lam," pinta Dinda kepada diriku.


Aku pun mengangguk tanda setuju dengan permintaan Dinda, "insya Allah Din." .


Akhirnya Raka dan aku pun pergi meninggalkan kediaman mereka, menuju apartemen milik Raka.


...****************...


"Bagus, siapkan semuanya, jangan sampai gagal kali ini," ucap seseorang dari panggilan telepon kepada Bian.

__ADS_1


"Baik Pak, bapak terima beres, semua sudah di handle oleh anak buah saya, yang penting bayarannya sesuai kesepakatan." jawab Bian kepada lawan bicaranya lewat panggilan telepon.


"Oke kalau begitu, saya tunggu hasilnya." balas seseorang yamg masih berkomunikasi dengan Bian.


"Oke," ucap Bian lalu menutup panggilan teleponnya.


Bian lalu tersenyum saat melihat saldo atmnya sudah terisi sejumlah uang yang dia minta.


"Kenapa lo bro? abis menang lotre lo ya, senyum-senyum sendiri kaya gitu," tanya Jaka kepada Bian, yang merasa aneh melihat tingkah temannya itu.


"Gua ada proyek besar bro," beber Bian kepada Jaka yang masih tampak bingung dengan tingkah Bian.


"Maksud lo, ada kerjaan?" tanya Jaka yang sudah mulai nyambung dengan penjelasan dari Bian.


"Ya elah Ka, kan dari tadi gua bilang ada proyek, yang pastinya kerjaan lah, bukan pesanan kue, makanya lo lupain lagi tuh si Nilam, masih banyak cewek lain yang lebih cantik dari dia. Apalagi di rumah tante Sari banyak barang baru bro sekarang, mana bening-bening lagi. Lagian juga mana mau Nilam balik lagi sama suami kaya lo," ucap Bian yang membuat Jaka tambah sedih.


"Iya Bi, gua sadar kalau selama ini gua salah, karena udah nyia-nyiain wanita seperti Nilam, gua nyesel Bi," sesal Jaka dengan mata berkaca-kaca.


"Iya gua tau, Nilam sekarang sudah berubah, makin cantik dan elegant, semua salah gua Bi, mungkin ini jadi karma buat gua, gua ikhlas nerimanya Bi. Tapi gua punya satu keinginan Bi, gua pengen sekali aja ketemu sama Nilam dan minta maaf sama dia," ungkap Jaka yang menahan tangisnya.


"Sabar bro, gua bakalan bantu lo buat ketemu sama Nilam, tapi tunggu beres proyek ini ya bro, gua janji!" ucap Bian kepada sahabatnya itu.


Jaka masih tidak menghiraukan ucapan dari Bian.


"Yuk geser, gua traktir lo bro, kita pesta dulu malam ini, tapi sebelumnya kita shopping dulu cari baju sama celana baru, biar keren!" ucap Bian yang kemudian bangkit dari duduknya.


Jaka masih saja duduk terdiam di bangku, melihat sohibnya seperti itu, akhirnya Bian pun menarik tangan Jaka.


"Udah kaya anak perawan lagi pms lo, lebay banget." seru Bian, yang akhirnya membuat Jaka bangkit dari duduknya, dan mengikuti langkah kaki Bian dengan gontai.

__ADS_1


...----------------...


Bian dan Jaka kini sudah berada di sebuah mall besar di kota mereka.


"Kita beli baju sama celana baru dulu di sini bro, lo pilih aja semua yang lo suka, mumpung uang gua lagi banyak nih!" tawar Bian kepada sohibnya itu.


Jaka hanya mengangguk lemas, karena masih kepikiran soal Nilam.


Melihat sohibnya masih dalam mode galau, muncul ide jahil di kepala Bian.


Di genggamnya jari jemari milik Jaka dengan erat, dan bertingkah seolah dirinya adalah kekasih dari sahabatnya itu. Jaka yang masih tidak fokus dengan apa yang terjadi, tidak menyadari kalau dirinya sedang di jadikan objek kejahilan sohibnya itu. Akhirnya semua mata tertuju dan memperhatikan mereka berdua.


Bian merasa geli dengan kejahilannya. Untuk melengkapi tingkat kejahilannya, Bian lalu memeluk mesra salah satu tangan Jaka, dan bergelayut manja.


Melihat semua orang memperhatikan dirinya dan Bian, Jaka pun akhirnya tersadar jika tatapan tajam dari mata orang-orang yang melihatnya, mengira jika dirinya dan Bian adalah pasangan sesama jenis.


"Apaan sih Bi, becanda lo kelewatan Bi, semua orang mengira kita ini pasangan h**o, gila lo ya! " ucap Jaka sambil melepaskan pelukan Bian, di tangan nya.


Tapi bukan Bian namanya jika harus menyerah sampai di sini. "Tunggu dong say, jangan marah-marah gitu, aku tuh sayang banget sama kamu!" canda Bian yang membuat Jaka bergidik ngeri, mendengar ucapan sahabatnya itu, yang pura-pura bucin kepadanya.


Jaka tidak menghiraukan ucapan sahabatnya, dan terus berlalu menuju sebuah outlet baju ternama.


Tawa Bian pun terdengar sangat keras, saat dirinya telah berhasil membuat sohibnya itu menjadi keki.


"Keren kan akting gua," ucap Bian yang bangga kepada dirinya karena telah berhasil membuat sahabatnya itu emosi.


"Keren pala lo botak, liat tuh semua orang masih ngeliatin kita terus!" seru Jaka yang kesal, karena perbuatan Bian.


Bukannya sadar dengan perbuatannya, Bian malah memukul-mukul gemas dada bidang Jaka, ala anak-anak alay.

__ADS_1


"Biaaaann...!" teriak Jaka yang tak Terima jika sahabatnya itu bertingkah aneh seperti itu. Bian pun tertawa puas atas keberhasilannya.


__ADS_2