
"Iya?" Sahut mereka bersamaan.
"Siapa yang akan bertanggung jawab untuk menjaganya sampai ia benar-benar baik ?"
"Aku" Aldi menjawabnya dengan tegas .
"Serahkan padaku ,aku akan memastikan agar ia tidak kecapean atau sakit lagi "
" Apa ?" Aira membulatkan mata tak percaya.
" Baiklah... Kau perintahkan agar menjaga anak cantik ini sampai dia sembuh . Jangan lupa untuk terus mengawasinya dan menyuruhnya agar minum obat , apa kamu mengerti? Baiklah ... Nanti aku akan mengurusi ini ... Besok pagi kau sudah boleh pulang ."
" Terima kasih dok ..." dokter ponsel pun segera pergi dan meninggalkan mereka bertiga.
" Apa ? Kenapa harus kau?"
"Aku ? Tentu saja . Rian! Ayo kita mencari makan . Perutku sama lapar " Aldi tidak mengobres perkataan Aira .
"Makan? Oh benar ! kita harus makan. Kau juga makan yang banyak ya Aira " Rian menggoda Aira dan segera pergi dengan Aldi .
" Kalian... Dasar!!..." teriak Aira.
____
"Hoam... Luar biasa! Aku merasa hidup lagi sekarang ." ungkap Aira sembari melihat keluar jendela.
" Apa kau merasa kau tidak hidup selama ini?"
"Tentu saja , kau tahu ? Ternyata sangat membosankan tinggal di rumah sakit . Meskipun rumahmu ini membosankan ... Tapi , rumah sakit jauh tak nyaman dan benar-benar membosankan dari pada rumahmu ." balas Aira .
"Aish... Dasar... Harusnya kau bersyukur karena aku mau menampungmu Aira."
"Apa ? Bukankah kau yang berkata pada dokter bahwa kau akan menjagaku hingga aku benar-benar sehat ? Cih... Aku juga tidak pernah memintamu ."cibir air.
" Tapi , setidaknya kau harus memberi berterima kasih padaku, karena aku telah membantumu." Aldi menyonggengkan senyumnya yang khas .
__ADS_1
"Ah... Baiklah baiklah ... Rumahmu ini sangat indah juga dan terlalu mewah untukku dan terima kasih sudah menjaga aku tuan Aldi!" Aira memutar bola matanya malas ketika ia melihat bahwa Aldi yang tersenyum dengan Kemenangan sudah 2 hari ini mereka tinggal bersama di apartemen milik Aldi. Sebenarnya , Aira merasa tidak enak hati dengan Aldi . tadi sangat baik padanya , meskipun terkadang Aldi bersikap dingin pada aira. Saat ini Aira tidak bisa memungkiri perasaannya bahwa dirinya telah benar-benar jatuh hati pada Aldi. Melihat mata indah milik Aldi saja , jantung Aira selalu melonjak kegirangan. Beberapa getaran pun terus mengusik hatinya ketika ia berpapasan wajah atau tidak sengaja memegang tangan Aldi .
" Aldi , Aku mau pergi . Aku pasti kan aku tidak akan pulang larut malam ." Aira berteriak dan menyambar tas kecilnya. Ia pun segera menuju pintu untuk keluar, namun sayangnya tangan Aldi berhasil menghadang Aira untuk kabur dari rumahnya .
" Kau mau ke mana?" Tanya Aldi memicingkan matanya.
"Em... Aku mau pergi sebentar, ke suatu tempat ." balas Aira singkat.
"Ke mana ? Kau tidak boleh pergi ke mana-mana !" Aldi bersikeras agar Aira tidak pergi.
" Aku hanya ingin bertemu dengan ayahku ... Aku sangat merindukannya.. Jadi Izinkan aku pergi ya ?" Aira memohon pada Aldi. Ia bahkan mengeluarkan wajah imutnya agar Aldi mau mengizinkannya .
" Biar aku yang antar "
" Apa? Tapi ... " Aldi memotong perkataan Aira .
" Tidak ada tapi-tapian... Sekarang ayo, kita berangkat ! Ayahmu pasti sedang menunggumu di sana " Aldi bersemangat hingga tidak sadar bahwa kini tangan mereka mengait dengan sempurna. Aira yang sadar akan hal itu hanya bisa pasrah.
Hati kecilnya berkata bahwa ia harus membiarkan tangan mereka saling mengait dan berjalan seperti ini hingga ke tempat parkir . Namun, di sisi lain logikanya terus menekan airnya agar tidak melepaskan genggaman itu, karena menurutnya gadis biasa dan tidak kaya sepertinya tidak pantas untuk mendapatkan hati pria sebaik dan setampan Aldi .
____
" Ayo keluar kita sudah sampai , tapi..." ucapan Aldi terputus .
" Apa?"
"Di mana kamar ayahmu? Apa dia baik-baik saja ?" wajah Aira perlahan menampakkan raut kesedihan . seorang mata Airah seketika berubah sangat sedih dan terbebani. Ketika ia memasuki rumah sakit, hatinya terasa sakit sekali . Ingin rasanya ia pergi saja dari dunia ini agar tidak mendapat masalah yang jelas-jelas sungguh berat .
" Aira aku tanya Di mana kamar ayahmu ?" tanya Aldi lagi .
"Ah... Apa? Hm... Apa katamu ?" tanya Aira gelagapan.
" Apa? Apa - apaan kau ini ! Bagaimana bisa saya dari tadi kau tidak memperhatikanku ? Sebenarnya pikiranmu ke mana ? Tubuh serta jiwamu berada di dekatku tapi pikiranmu selalu saja kabur entah ke mana ..." ungkap Aldi kesal .
"Ah... Maaf . Sungguh Maafkan Aku" ucap Aira .
__ADS_1
"Em... Kalau begitu ayo kita segera bertemu ayah... lebih cepat lebih baik bukan " Aldi tidak menanggapinya . Aldi merasa ada sesuatu hal yang aneh yang sedang disembunyikan Aira darinya.
' Apa lagi ini? Kenapa ada makan dia sangat sulit untuk konsentrasi ? Apa yang terjadi pada air Aira sebenarnya ?...' batin Aldi khawatir.
Aira tidak bergeming ketika melihat ayahnya yang masih terlelap . Yang diderita ayahnya membuat daerah sedih , ia sangat sedih belum berlebih Ibunya sudah pergi meninggalkannya lebih dulu. Sekuat tenaga yang berusaha Tegar dengan senyum palsu yang ia ciptakan . Tentu saja, ia ingin terlihat kuat di depan lagi.
" Halo Ayah ...."sapanya Lirih
" Maaf ... karena aku baru sempat berkunjung , kemarin , aku sama seperti ayah. Harus tinggal di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama. Tapi , sekarang Aku sudah Aira kembali menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.
" Ayah ... Aku ke sini bersama seorang laki-laki yang baik , dia yang selalu menolongku ketika aku kesusahan, tapi.... Dia tetap saja menyebalkan . hahaha ... Namanya Aldi ." lanjut Aira. dada terasa sesak karena setiap bertemu dengan ayahnya ia harus berbicara sendiri seperti orang gila .
Ia sangat rindu dengan ayahnya yang riang , ia sangat rindu dengan semua petuah yang ayahnya berikan dan ia juga rindu akan hangatnya sebuah keluarga .
"Ha... Halo Paman " sapa Aldi.
"Em... Ayah aku benar-benar merindukanmu . Tapi , aku tidak bisa berada lama di sini, Ayah tahu bukan , jika aku harus bekerja baru waktu . Ayah ... cepatlah sembuh . Cepat bangun ya, Aku ingin melihatmu tersenyum lagi seperti dulu. Kita akan memancing bersama , bersepeda . Aku rindu kecupan hangatmu ketika aku hendak tidur . Aku rindu leluconmu tentang makanan . Aku juga rindu dengan ibu , aku sangat rindu dengannya .. aku sangat .."dada Aira terasa semakin sesak.
Sebelum cairan Itu membanjiri pipinya , Aira segera beranjak dari kamar ayahnya. " Ayah aku pergi dulu ya ..."lirih Aira.
Aldi merasakan betapa sedihnya Aira saat ini. Terlebih keadaan Aira yang baru sembuh semakin membuat Aldi khawatir . Aira menutup pintu kamar dan seketika cairan bening itu langsung membanjiri pipi mulusnya . Tangannya cekatan menutupi mulutnya agar tangisnya tidak terdengar oleh siapapun.
Aldi yang melihat hal tersebut mendekati Aira dan berusaha menenangkannya .
"Aira..." Aldi menelpon-nebo halus punggung Aira agar tangisnya akhirat berhenti. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Tangisan air lagian pecah dan membuat Aldi semakin bingung .
' Bagaimana ini? Aira aku mohon berhentilah... Aku tidak suka melihatmu menangis .' batin Aldi sesak.
Tanpa babibubebo lagi, Aldi segera menarik airnya ke dalam pelukannya dan membiarkan Aira membasahi kemeja biru milik Aldi . Aldi Terus saja mengelus Puncak kepala Aira dan sebisa mungkin membuat Aira berhenti menangis.
"Jangan khawatir Aira... Semua akan baik - baik saja. Aku akan berada di sampingmu." ucap Aldi halus.
"Hiks... Aku... Aku rindu dengan merek Al... Hiks..." Aira terus menangis.
~ Bersambung
__ADS_1