
"Dia tidak mau" tanya seorang laki laki duduk disofa sambil menghisap rokok.
"Iya tuan, saya sudah bilang suatu saat kalau dia butuh uang dia boleh meminta" kata laki laki yang dihadapanya.
"Ya sudah" sambil mengangkat tanganya tanda boleh pergi.
Dan orang tadi pergi, lalu datang Tomas duduk dihadapanya
"Gimana sudah dapat" tanya laki laki itu
"Maaf bos, susah mendapatkan bukti"
"Gue yakin pasti mereka pelakunya" kata Johan yang tiba tiba datang.
"Jangan asal, belum ada bukti" kata Tomas.
"Sudah jelas, mereka..." Johan belum selesai bicara sudah dipotong Natan, ya laki laki itu adalah Natan.
"Sebelum ada bukti jangan sembarangan, tapi kalau terbukti mereka yang membunuh Alan gue sendiri yang akan membunuh mereka pakai tangan gue sendiri terutama Radit"
Dendam yang masih berlanjut apalagi kalau mereka tau siapa yang membunuh Alan yang sebenarnya.
......................
Aisa sudah mulai berangkat sekolah, dia masih berdiri dekat pos sekolahan mamandang gedung sekolahan sebenarnya dia masih tidak bersemangat ini demi kakaknya.
Radit datang dengan montor sportnya berhenti diparkiran.
Radit diam terpaku melihat Aisa masih berdiri, lalu mereka saling menatap, ingin rasanya Radit datang memeluknya dan berkata minta maaf.
Tapi tatapan Aisa seakan Radit dilarang mendekat, detik berikutnya Aisa memutuskan tatapannya lalu dia buru buru pergi dari sana.
Tidak banyak yang tau kalau Aisa memiliki seorang kakak, hanya sebagian saja.
__ADS_1
"Gue ikut berduka cita ya Sa, sori gue nggak datang gue baru tau kemaren"
"Iya makasih Ta"
"Sama sama"
Bukan cuma Rita aja yang mengucapkan duka cita sebagian teman 1 kelas denganya juga ada.
Sampai sekarang belum ada yang tau siapa pelaku pembunuhan Alan, terkadang Aisa masih melamun terbayang saat saat bersama Alan, dan diam diam menangis tak henti hentinya dia tidak ingin Bu Nani tau orang sudah baik denganya.
Tiba tiba kepala Aisa pusing hampir dia terjatuh, Radit yang mengikutinya dari tadi dia khawatir wajah Aisa yang pucat lemas membuat dia tidak tenang Radit berlari menyangah Aisa, Aisa menoleh lansung menyingkirkan tangan Radit dari tubuhnya.
"A aku antar pulang" tawar Radit.
Aisa nenepis tangan Radit lagi yang akan memegang tangan Aisa.
"Nggak perlu aku bisa sendiri" ucap Aisa judes.
"Tapi..."
Saat Aisa berjalan lagi, kepalanya semakin berat dan.
"Aisa" triak Radit berlari menangkapnya agar tidak terjatuh di tanah.
Bruk.
"Sa, Aisa" pangil Radit menepuk pelan pipinya, lalu Radit membopong Aisa dan memanggil taksi
Sampai dirumah sakit, Radit triak triak mangil suster untuk menangani Aisa, semua tau siapa Radit mereka buru buru membawa Aisa keruang UGD.
Setelah Dokter Ana keluar Radit langsung mecegat.
"Bagaimana keadaanya dok?"
__ADS_1
"Kondisinya sangat lemah sekali tekanan darah sangat rendah kekurangan nutrisi dan stres juga penyebabnya sepertinya ada yang menganggu pikiranya" Radit hanya diam.
"Sembuhkan dia dan berikan penanganan yang terbaik"
"Iya akan saya usahakan"
Radit masuk kedalam ruang Aisa dia sangat merasa bersalah gara gara dia Aisa terbaring lemah diatas kasur rumah sakit pasti dia stres kehilangan kakak satu satunya.
Radit masih setia menemaninya, banyak pangilan masuk dari handphone tak dihiraukanya dia memilih duduk dekat Aisa yang masih terpejam karena efek obat yang dokter berikan, sedikit Radit tak mengalihkan pandanganya orang selama ini mencuri hatinya bahkan tak berkedip.
Dia melihat bulu mata yang lentij itu bergerak dan terbuka langsung mendekat.
Saat Aisa nembuka mata yang dilihat pertama Radit sebenarnya dia malas, Aisa ingin bangun Radit buru buru melarang, Aisa pun menepis tanganya.
"Jangan bergerak dulu"
"Jangan sentuh... sss" sambil megang kepalanya yang masih pusing.
"Istirahatlah dulu Sa"
"Pergi"
"Aku nggak mau pergi"
"Apa maumu ha, apa kamu ingin membunuhku juga"
"Sa.."
"Jangan sentuh aku, jangan pernah" sambil meneteskan air mata.
"Lepaskan, lepaskan" triak Aisa Radit memberanikan diri memeluk erat Aisa.
"Aku nggak akan melepaskanmu"
__ADS_1
"Lepaskan" jeritanya sampai suster datang, Radit minta pada suster untuk memberikan obat penenang.
Akhirnya Aisa lebih tenang dia memejamkan matanya, Radit mengecup kepala Aisa.