
Brak.
Seorang laki laki membuka pintu dengan sangat keras, dia berlari tergopoh gopoh.
"Bos" panggil laki laki itu nafasnya yang ngos ngosan, semua menoleh.
"Riko dihajar habis habisan sama anak buah Drak" lapor Davit nafasnya masih belum beraturan.
"Apa" kaget Beni, Radit juga kaget tapi masih bisa menahan terkejutanya
"Gimana keadaanya dia sekarang?" tanya Radit.
"Kondisinya parah bos, sekarang ada dirumah sakit"
Lalu Davit menceritakan kejadianya yang sebenarnya untung dia berhasil lolos di juga terluka tapi tidak parah, mereka menduga pasti Natan sudah tau siapa pembunuh Alan.
Mereka nggak bakal tinggal diam akan segera membalasnya, tapi mereka lebih dulu melihat keadaan Riko, sekarang Riko dalam kaadaan koma.
Dan lebih mengejutkan lagi Radit dapat kabar dari Bu Nani.
"Halo assalamualaikum nak Radit" telfon dari Bu Nani seperti mencemaskan sesuatu.
"Waalaikumsalam ada apa Bu?"
"Apakah Aisa bersamamu nak Radit"
"Tidak Bu"
"Aisa sampai sekarang belum pulang, Ibu kawatir terjadi sesuatu sama dia"
"Apa, jangan kawatir Bu aku akan cari Aisa" Radit menutup sambungan telfonya.
"Ada apa lagi Dit?" tanya Beni.
__ADS_1
"Aisa belum pulang"
"Coba gue tanya Rita" kata Pandu.
"Punya no nya lo" tanya Heri.
"Punya" yang lain pada curiga ada hubungan apa dia sama Rita sampai punya no nya, sejak kejadian tidak sengaja tabrakan dia mendekati Rita, Lalu Pandu nelfon Rita.
"Rita bilang dia juga nggak tau tapi setelah pulang sekolah mereka sempet cetingan dan katanya Aisa merasa ada yang buntutin dia pikir itu cuma orang iseng aja" sekarang Rita menyesal tidak cerita sama Pandu soal Aisa ada yang ngikutin dia juga merasa bersalah.
Radit meremas handpone nya sampai retak gigi yang gemeletuk mata yang merah amarah yang sudah memuncak.
"Bre**sek siapa yang sudah berani ganggu Aisa tidak akan lolos begitu saja"
Sesaat kemudian dia dapat pesan dari no yang tidak dikenal, isinya berupa sebuah foto, betapa terkejutnya dia dan semakin marah dia sampai berteriak dan memaki orang yang mengirim pesan tadi, reflek dia membanting hand pone tapi Roga lebih dulu menangkapnya.
Foto itu adalah Aisa yang tanganya diikat kebelakang posisinya duduk mulut yang ikat dengan kain dan disebelahnya ada Natan dengan senyum mengejek.
Mereka bertanya tanya bukanya Aisa adik Alan tapi dia malah disekap Natan.
Radit mengendari montornya dengan sangat kencang untung dia gesit sekali menyelip sebuah truk besar, dia sering juara balap montor liar maupun disirkuit.
Setelah sampai dia bertriak banyak anak buah dari Drak menghalangi tapi dia tidak takut sedikitpun dia menghajar semua yang menghalanginya.
Mereka saling baku hantam dan sampailah dia diruangan tempat Aisa disekap.
Brak.
Dengan sekali tendangan dengan 1 kakinya saja langsung bisa merobohkan pintu, dia melihat Aisa yang masih disekap dia semakin marah.
Prok.
Prok.
__ADS_1
Prok.
Tepukan tangan dari Natan.
"Berhasil" ejek Natan.
"Lepaskan dia"
"Apa lepaskan, gue bahkan belum menyentunya" sambil megang dagu Aisa dengan senyum sininya.
"JANGAN SENTUH DIA" triak Radit.
Hhhh, tawa Natan.
"Mau lo apa?"
"Gue mau lo hancur"
"Nggak ada hubungan sama dia, lepaskan dia, apa lo nggak tau siapa dia"
"Ya gue tau adik kandung dari Alan" sambil menoleh ke Aisa.
"Bukanya Alan anak buah kesayangan lo, tapi kenapa adiknya lo sekap kayak gitu"
"Hhhh gara gara Alan kekasiku mati dan sekarang dia" melihat Aisa "Yang harus menggantikannya" sambil menarik rambutnya.
"Gue bilang jangan sentuh dia, aaaakh..." Radit berlari dan menendang kepala Natan karena gerakanya yang cepat Natan belum sempat menghindar.
Natan terjatuh tapi dia masih tersenyum sinis dia mengusab darahnya.
"Rupanya lo nggak sabar, kalau gitu kita 1 lawan 1" ucap Natan.
"Ya seharusnya begitu tidak melibatkan orang lain"
__ADS_1
"Ayo kita selesaikan sekarang juga" sambung Radit.