
Rita masuk kelas dengan wajah yang kusut.
"Kenapa Ta kok muka kusut gitu?"
"Gue dihukum, membersihkan toilet"
"Sorri ya gara gara aku kamu jadi dihukum"
"Ini bukan salah lo, tapi si mak lampir itu" alis Aisa mengkerut.
"Mak lampir"
"Serli" Aisa hanya senyum dan Rita tertawa sudah puas mmengatai Serli walau tidak depanya.
"Eh tunggu lo pake baju siapa?" tanya Rita.
"Ee anu, baju kakaku" Aisa takut ketahuan jadi dia berbohong dikit Rita tidak bakalan ngeh sama bajunya.
"Oo, ya udah gue mau membersihkan toilet dulu"
"Aku bantu Ta"
"Nggak usah, gue duluan" Rita ngibrit duluan.
Walaupun Rita menolak dibantu tapi tetep Aisa akan bantu Rita semua ini kan juga karena Rita bela dia.
Kalau Serli disuruh membersihkan halaman tapi bukan Serli yang membersihkan tapi kedua temanya, Serli malah enak enakan duduk.
Serli melihat Radit berjalan karahnya dengan gengnya dia senang sekali lalu dia merapikan rambut dan bajunya, agar terlihat cantik didepan Radit.
__ADS_1
"Dit kamu kesini mau..." dengan PDnya kedua tangannya merentang dia tidak tau Radit datang bukan untuk dirinya, belum sampai dia menyentuh Radit lebih dulu memlintir tangan Serli.
"Aw, sakit Dit"
"Sakit ya" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Iya tolong lepaskan"
"Kalau gue nggak mau gimana"
"Aw, gue kan nggak punya salah sama lo"
"Udah gue bilang beberapa kali sama lo jangan pernah sentuh gue"
"Aku cinta sama kamu Dit"
Radit semakin melintir tanganya mendengar kata yang menurutnya menjijikan Serli semakin kesakitan, Aisa yang akan pergi ketoilet untuk membantu Rita melihat Radit hampir mematahkan tangan Serli.
Beni melihat intraksi antara Radit sama Aisa dan alianya mengkerut baju yang dipakai Aisa sama persis baju milik Radit dan dia seketika melihat Radit yang hanya memakai kaos putih dia semakin curiga.
Lalu Radit melepaskan tangan Serli dan mendorong agak kasar.
"Kali ini lo beruntung, tapi lain kali kalo lo berulah gue nggak akan ngampuni lo, paham" peringatan Radit.
Serli hanya mengangguk sambil mengusap usap lenganya yang masih terasa sakit kalau tidak ada Aisa tanganya benar benar patah.
Serli menghetak hentakan kakinya setelah Radit pergi bersama gengnya dia kesal sekali lalu dia melihat Aisa apa jangan jangan ini gara gara dia pikirnya dia semakin membenci Aisa.
"Tangan lo nggak papa Ser?" tanya Tika.
__ADS_1
Serli masih menatap benci sama Aisa tidak jawab pertanyaan dari Tika
"Ya sakit lah Tik, tangannya sampe merah gitu" kata Sonia.
"Ah udah diem" Serli masih kesal lalu dia pergi meninggalkan kedua temanya.
"Kok semua pada pergi lalu gimana ini" triak Tika yang masih disitu Sonia juga nyusul Serli.
"Lanjutin aja sendiri" triak Sonia sambil ngejek Tika.
"Emang enak" sambungnya lagi tapi sudah jauh jadi Tika tidak bisa mendengarkan suaranya.
"Kalian tega banget sih" sedih Tika sambil mengayunkan sapu dengan malas.
Setelah selasai memberi peringatan pada Serli Radit pergi ketempat tongkronganya tempat hanya kusus buat mereka saja.
Beni melamun memikirkan antara Radit dan Aisa jangan jangan mereka bener ada sesuatu, Roga menupuk bahu Beni membuyarkan lamunanya.
"Lo kenapa?"
Beni tidak jawab pertanyaan Roga dia malah bertanya pada Radit.
"Dit baju lo mana?" dia pikir Radit tidak makai bajunya karena sengaja dilepas emang biasanya dia juga sering melepas bajunya.
"Nggak penting pertanyaan lo" dijawab Radit dingin.
"Lo kayak nggak tau bos kita aja" kata Heri.
"Gue cuma tanya doang" sebenarnya Beni kesal selalu begitu bila dia bertanya.
__ADS_1
Tapi Beni nggak akan tinggal diam dia diam diam akan cari tau sendiri sebenarnya ada hubungan apa antara Radit sama Aisa dia penasaran sekali.