
Sekarang Aisa dan Rita jauh lebih akrab, mereka sering ngobrol makan bareng, walau pun Aisa melarang Radit membelikan makanan untuknya, Radit tetap membelikan makanan.
"Kalau tiap hari kayak gini gue seneng sekali, gue jadi penasaran sebenarnya siapa sih yang ngasih makanan ini?" kata Rita Aisa hanya diam saja.
Terpaksa Aisa juga ikut makan karena ada Rita, kalau tidak pasti dia banyak tanya dan malah curiga, Aisa pura pura tidak tau siapa membelikan mereka makanan.
Dan tepat didepan meja mereka ada Radit beserta gengnya.
"Kita bisa sambil cuci mata" alis Aisa mengkerut.
"maksudnya"
"Didepan ada pemandangan indah"
"Ah kirain" menatap jenggah hanya melihat sekilas saja.
"Seneng Sa rasanya bila deket kegini walaupun hanya bisa memandang saja" Aisa hanya berdehem sambil menikmati makananya.
"Wanita mana ya yang beruntung menjadi istrinya nanti"
Uhuk.
Uhuk.
Uhuk.
Aisa tersendat makananya sendiri, Radit reflek berdiri tapi tidak jadi karena dia ingat pesan Aisa.
"Lo kenapa sampai tersendat gitu?" setelah memberi minum Aisa sambil mengelus punggungnya.
"Ti tidak apa apa" sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
Beni merasa ada yang aneh pada Radit dari tadi mengawasi 2 cewek yang depan apalagi saat salah 1 diantara mereka ada yang tersendat dia berdiri setelah itu duduk lagi apa mungkin karena ada temen disebelahnya yang bantuin mengambilkan minum.
__ADS_1
"Lama lo nggak kemarkas, lo sibuk apa sampai melupakan kita?" tanya Beni pada Radit.
Radit berdehem saja malas dia menanggapi Beni dan lainya, lalu Beni menepuk pundaknya. Raditpun menoleh.
"Dit"
"Bukan urusan lo gue sibuk apa" jawab dingin Radit.
Sampai sekarang Beni pun belum bisa membuat dia berubah entah dengan siapa dia bisa berubah menjadi hangat.
Beni diam dia tidak mau banyak tanya lagi bisa bisa dia ngamuk.
"Dit lo dari tadi mengawasi gerak gerik mereka" tanya Roga nunjuk Aisa dan Rita dengan dagunya.
Semua menoleh pada 2 cewek yang didepan apa yang dipikirkan Roga hampir sama dengan Beni.
"Apa salah satu dari mererka target lo selanjutnya?" sambung Roga lagi.
"Cocok" sambil menepuk kedua tanganya Pandu bersemangat "Gue setuju kapan mulai beaksi"
"Iya dong ntar kan gue bisa colek colek dikit"
Brak.
Semua terlonjak kaget termasuk Aisa dan Rita, gebrakan Radit membuat semua diam dia langsung berdiri.
"Bosen hidup lo" marahnya sambil mencengkram kerah baju Pandu yang tidak trima sang istri yang akan digoda, tidak lupa tatapan tajamnya.
Pandu angkat tangan.
"I iya nggak lah bos gue masih pengen hidup" jawab Pandu takut tiba tiba aja Radit marah.
Radit mengepalkan tanganya diudara gigi yang gemertuk dia ingin melanyangkan tinjunya, Pandu semakin ketakutan.
__ADS_1
"Ampun bos"
Dia tersadar sekarang berada didepan Aisa, dia melirik Aisa yang nenatapnya dia tidak mau kalau Aisa melihatnya melakukan kekerasan lagi.
Dia melepaskan cengkramanya dan mendorong Pandu dengan kasar tapi tidak sampai jatuh lalu dia pergi begitu saja, mungkin kalau tidak didepan Aisa dia akan menghajar Pandu habis habisan dia tidak peduli dimanapun dia berada kalau ada yang mengusikan.
Pandu mengelus dada tanda aman dia bisa beruntung kali ini siraja singa tidak jadi ngamuk.
"Dia kenapa?" tanya Heri.
"Apa ada yang salah dengan perkataan gue?" tanya Pandu.
Roga hanya menaikan bahunya, sedangkan Beni berfikir sepertinya ada sesuatu tapi dia tidak tau apa itu.
Lalu mereka pergi dari kantin meninggalkan Aisa dan Rita yang masih melihat mereka pergi menajuh.
"Gue pikir akan ada pertunjukan lagi"
"Kamu suka ya kalau ada yang jadi korban lagi"
"Ah nggak lah, gue juga takut kali"
"Makanya kalau ada perlakuan seperti itu tadi kita harus menghindar bagus lagi kita hentikan" saran Aisa.
"Emang lo berani" Aisa hanya senyum.
"Gue juga nggak berani" ucap Rita.
Hhhhh.
Mereka tertawa bersama lalu mereka melanjutkan makan mereka.
"Emang ya si Radit tampan tidak teman tidak lawan kalau dia nggak suka langsung hajar, des des des" sambil tangan kayak orang ninju"
__ADS_1
Aisa hanya geleng geleng, ternyata seru juga punya teman, tadi sebenarnya dia ingin datang mehentikan aksi Radit dia muak prilakunya, bisa bisa ketahuan deh pernikahan rahasianya dengan Radit, dipikir pikir sekarang dia berani juga sama Radit padahal dulu dia takut sekali.