
Aisa mengerjab ngerjabkan matanya, dia melihat disekeliling hanya ruangan putih ternyata dia dirumah sakit.
Dia bangun teringat sesuatu Radit dimana dia melihat tangan yang diinfus dengan cepat dia mencabutnya dan berlari keluar mencari keberadaan laki laki itu setiap ruangan dia datangi tapi tidak menemukanya karena kondisinya belum stabil dia berhenti didepan sebuah ruangan.
Dia terjatuh sambil senderan kedua tanganya menutup muka dan menangis.
Sebuah tangan mengusap pundaknya dia membuka tangan lalu cepat memeluknya.
"Ibu..."
"Kamu sudah sadar nak" sudah 2 hari Aisa pingsan.
"Ibu dimana Radit?" setelah melepas pelukanya.
"Kondisimu belum pulih lebih baik kita kembali kekamar" Bu Nani mengalihkan pembicaraan.
"Tapi dia..."
"Semua akan baik baik saja ayo" ajaknya lagi.
"Ibu"
"Iya ayo"
Setelah sampai diruangan kamar rumah sakit Aisa kembali berbaring dan diperiksa oleh dokter.
Setiap dia ingin bertanya tentang Radit Bu Nani selalu mengalihkan pembicaranya mencoba tidak membahas tentang Radit.
Saat ini dia sudah kembali kerumah 4 hari dia berada dirumah sakit sampai saat ini pun dia belum tau keberadaanya suaminya dia masih hidupkah atau bagaimana dia tidak tau.
"Kiara sana mandi dulu" panggi Bu Nani pada anak bungsunya berumur 8 thn, anak pertama Reno 15 thn.
__ADS_1
"Ah ibu aku masih ingin maen sama kak Aisa"
"Kiara"
"Iya Bu, kak aku mandi dulu ya"
"Ya udah sana, bau acem ni" bibir Kiara langsung manyung, Aisa senyum melihat kelakuan Kiara yang sudah dianggap adik.
"Sa kenapa kamu nggak pernah menghabiskan makananmu"
"Nggak selera Bu"
"Aisa kamu harus jaga kesehatanmu"
"Bu... kenapa Ibu selalu mengalihkan pembicaraan kalau aku bertanya tentang Radit, sebenarnya bagaiman keadaanya dan dimana dia Bu jawab Bu... Ibu pasti tau kan " Bu Nani hanya diam dia tidak tau harus bicara apa.
"Dia terkena tembakan dipunggung dia terluka parah saat terakhir aku melihatnya dia tidak sadarkan diri kumohon Bu beritahu Aisa dimana dia sekarang" sambil menangis dan agak membentak Bu Nani.
"Maafkan Aisa Bu" Bu Nani mengangguk dan sambil mengusab lenganya.
"Ibu ngerti perasaanmu, Ibu tidak tau tentang nak Radit yang Ibu tau hanya, setelah kamu menghilang belum pulang keesokan harinya Ibu dapat kabar dari seseorang kalau kamu ada dirumah sakit"
"Siapa yang memberitau Bu"
"Tidak tau orang itu lewat telpon"
"Ibu tidak tanya"
"Ibu belum sempat tanya no sudah mati saat nelfon balik no nggk bisa dihubungi lagi dan Ibu bertanya dokter apa yang terjadi padamu mereka juga tidak tau apa apa" Aisa menghela nafas agak susah.
Besok dia harus mencari teman temanya Radit pasti tau.
__ADS_1
Dan keesokan harinya Aisa langsung keruangan Radit, saat sudah diruangan Radit tidak ada beberapa murid yang sudah masuk dia masih berdiri dipintu.
Tidak lama gengnya Radit datang dan mereka hanya ber 4 lalu Radit mana tidak ada perasaanya tidak tenang.
"Kalian cuma berempat mana Radit" tanya Aisa pada mereka.
Mereka saling pandang dan semua menggeleng.
"Kalian temanya, dimana Radit"
"Lo istrinya, sebenarnya gue yang tanya lo bu..." Heri langsung di jitak Roga.
"Gila lo ngapain jitak gue"
"Mau gue jitak lagi" Beni menatap tajam sama mereka.
"Sorri Sa kita juga tidak tau" ucap Beni mata Aisa yang mulai berkaca.
"Apa kalian menyebunyikan sesuatu dariku"
"Kita memang tidak tau, kita semua berada dirumah sakit waktu itu juga"
Aisa pergi dari ruangan mereka, berjalan perlahan menyusuri lorong lorong kelas.
"Akhirnya kamu masuk juga, bagaiman keadanmu?" langsung Rita menghambur memeluk Aisa.
Aisa hanya senyum tipis.
"Alahamdulillah sudah membaik"
"Kok nggak semangat gitu, semangat dong" dia hanya senyum lagi.
__ADS_1
Dia juga bertanya pada Rita juga tidak tau apa apa, Rita bersyukur Aisa baik baik saja.