Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
15.Nafkah


__ADS_3

Setelah selesai sarapan pagi dengan nasi goreng buatan Radit, tadinya Aisa menolak tidak mau makan, Radit selalu berusaha dengan cara memaksa dikit agar Aisa mau makan.


Dan lagi Aisa menolak berangkat bareng sama Radit, kali ini dia benar benar tidak mau dia hanya tidak ingin satu sekolah tau kalau mereka sudah menikah.


"Pokoknya aku tidak mau ada orang yang tau"


Aisa berangkat naik bis seperti biasa tidak lupa sebelum berangkat Aisa berpamitan sama Bu Nani.


"Tiga hari ini kenapa lo tidak masuk?" tanya Rita.


"Aku tidak enak badan"


"Lo sakit" Aisa hanya senyum dan mengangguk.


"Sorri ya gue nggak tau, terus gimana keadaan lo?"


"Sudah baikkan"


"Aduh teman macam apa gue ini, temen berduka tidak datang temen sakit juga tidak tau"


"Udah nggak papa"


"Lo nggak bawa bekal kan" dianggukin Aisa.


"Kalau gitu ayo kekantin"


Mereka berjalan bersama, sambil ngobrol sebenarnya Rita orangnya tidak pilih teman sih, Aisa sendirilah yang merasa tidak pantas.


"Apa kamu nggak malu kekantin bareng aku" tanya Aisa, setelah mereka sampai.


"Kenapa gue harus malu"


"Karena aku..."


"Jangan begitu, gue bukan kayak mereka, lo nya sih yang selalu nolak kalau gue ajak" Aisa senyum.


"Aku merasa tidak pantas aja"

__ADS_1


"Lo udah nyerah sebelum berperang"


"Emang mau perang"


"La gitu dong, kan asik kita bisa ngobrol kayak gini"


"Terimakasih Ta"


"Iya, gue pesanin sekalian ya" Aisa mengangguk, Rita baru akan berdiri tiba tiba makanan datang.


"Mbak Asih kita kan belum pesan?" tanya Rita, pada mbk Asih pelayan kantin yang menaroh makanan diatas meja mereka.


"Iya ning makanan ini buat ning Aisa dan ning Rita"


"Dari siapa mbak?"


"Saya tidak tau ning, kalau begitu saya permisi ning"


"Iya makasih mbk" Aisa dan Rita barengan.


"Ada penggemar rahasia ni"


"Ah gue nggak mungkin, apa jangan jangan lo lagi yang punya penggenar rahasia"


"Aku juga tidak mungkin"


"Kira kira siapa ya yang ngasih?" tanya Rita sambil memasukan kemulutnya, Aisa hanya menaikan bahunya.


Lalu dia melihat sekeliling kantin, dia melihat di paling ujung ada segrombolan gengnya Radit.


Mata mereka bertemu, Aisa cepat cepat nengalihkan pandanganya, ya Raditlah yang memesankan makanan untuk Aisa dan Rita.


Aaaa....


Triak Aisa melihat Radit baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya tangan yang megusap usap rambutnya yang basah dengan handuk yang habis keramas dan terlihat perutnya yang seperti roti sobek Aisa membalikan badan dan menutup mata dengan kedua tanganya, Radit hanya acuh saja berjalan melewatinya.


"Lain kali kalau dirumahku jangan keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang, mataku yang suci ini jadi ternodai" pringatan Aisa pada Radit yang sudah memakai bajunya.

__ADS_1


"Tapi suka kan"


"Ih pd ahmat kamu"


"Mending pd dari pada malu maluin"


"Kamu nyebelin banget sih" Radit hanya senyum, senyum yang jarang dia perlihatkan hanya pada Aisa.


Deg.


Jantung Aisa, dia menglihkan pandamganya agar tidak melihat senyuman Radit.


"O ya kamu kan yang mesenin makanan tadi siang" setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Iya" jawab singkat Radit.


"Lain kali tidak usah aku bisa beli sendiri"


"Aku nggak ingin kamu sakit lagi"


"Seharusnya kamu tau siapa yang bikin aku sakit"


Kalau sudah menggungkit masalah itu Radit hanya diam saja dia tidak bisa berbuat apa apa memang semua salahnya dia hanya ingin memperbaiki kesalahanya.


Lalu Radit mengeluarkan sebuah kartu black card dari dompetnya, dan menyodorkan ke Aisa.


"Apa ini?"


"Black card"


"Ya aku tau Maksudnya apa? kamu mau nyogok ya"


"Ini nafkah dariku, aku belum memberi nafkah untukmu kan"


Lama Aisa diam, Radit memegang tanganya dan menaroh kartu black card ditelapak tangan Aisa.


"Ambil buat keperluanmu"

__ADS_1


"Yang kuperlukan hanyalah kakaku" kartu dikembalikan dan Aisa pergi kekamar, didalam kamar Aisa nangis lagi.


Radit ingin sekali masuk kekamarnya dan menyembuhkan lukanya tapi apa daya Radit dilarang untuk masuk.


__ADS_2