Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
24.Bahan Permainan


__ADS_3

Serli mengeluarkan sebuah foto dari tasnya,


betapa terkejut Aisa tapi tidak diperlihatkan rasa terkejutnya dihadapan Serli.


Tapi Serli bisa melihat dari mata Aisa yang terbuka lebar, Serli tersenyum devil.


Aisa diam masih memperhatikan foto yang diduga suaminya dengan Serli lagi bermesraan.


"Seharusnya lo tau Radit kayak apa, tidak sembarangan orang bisa dekat denganya, dia tidak mudah disentuh apa lagi macam kayak lo bukan tipenya sama sekali"


Aisa masih mendengarkan Serli bicara biar di bicara sesuka hatinya, sambil menatap foto mereka.


"Dia akan melakukan apa saja yang akan menjadi target selanjutnya untuk mendapatnya kesenanganya dan mendapatkan tujuanya agar tercapai, Melakukan apa pun demi kepuasanya" Serli menekan kalimat yang terakhir.


"Dia senang melihat orang lain menderita, dan lo tau didepan semua orang dia pura pura nggak suka sama gue tapi dibelakang dia sangat menyukai gue bahkan didunia malamnya banyak cewek cewek yang menjadi kesenanganya, jadi lo itu hanya menjadi bahan permainan"


Serli pergi begitu saja meninggalkan Aisa mematung masih memegang foto itu, Serli balik badan melihat Aisa masih disitu dia tersenyum puas menghasut Aisa.


Kalau dia mengunakan cara kekerasan pasti Radit juga akan melakukan kekerasan padanya, dia tidak tau hubungan apa yang sedang mereka jalani yang jelas Serli tidak mau hubungan mereka berlanjut yang akan membuat dia kalah dia hanya menebak kalau mereka sedang pedekate.


Marah ya itu perasaan Aisa saat ini, dia kecewa seharusnya dia paham lebih awal tujuan dan maksud Radit sebenarnya dia juga melupakan siapa pembunuh kakaknya Alan seharusnya Radit tidak boleh masuk dalam kehidupanya seharusnya tidak ada kata maaf untuk Radit, dan ada rasa cemburu juga.


Dia masih memikirkan omongannya Serli tadi siang, dia benar benar termakan, dia benar benar marah sama Radit tapi yang ditunggu tak kunjung pulang.

__ADS_1


Rasa kecewa marah cemburu jadi satu.


"Maafkan aku kak seharusnya ini tidak terjadi" Aisa menangis.


Ting.


Ada pesan masuk no yang tak dikenal.


**Datanglah diclub malam kalau lo ingin melihat idola lo yang diidolakan semua cewek, BEREAKSI**


Apa yang dia lakukan pikinya, karena penasaran dia pergi ketempat club malam ingin membuktikan sendiri.


Setelah sampai dia mematung sesaat ragu ingin masuk dia belum pernah datang ketempat itu.


Bigitu masuk sudah disambut dentuman musik yang bisa memekikan telinga lampu yang gemerlap tidak lupa dengan bau yang menyengat karena berbagai macam minuman keras, banyak muda mudi yang berjoget dan minum.


Matanya yang mengawasi setiap orang mencari sosok yang dia cari, dia belum menemukanya.


Semakin berjalan kedalam dia juga belum menemukan, dia melihat orang yang menuruni tangga, lalu dia naik tangga mungkin dia akan menemukannya disana.


Ternyata dilantai atas masih luwas dia masih mencari, dia melihat seseorang berjoget tapi belum tau siapa itu lampu yang tidak begitu terang.


Bruk.

__ADS_1


Dia ditabrak seseorang tapi tidak sampai jatuh.


"Sorri sorri" maaf orang itu.


Aisa diam saja tidak mendengarkan maaf orang itu karena dia masih fokus sama seorang laki laki tadi sekarang sudah jelas siapa laki laki itu.


Alis Beni mengkerut ternyata yang dia tabrak adalah Aisa ngapain dia disini pikirnya.


Dia melihat Aisa yang mematung menatap seseorang sambil menghisap rokoknya dan disekilingnya banyak cewek yang meliuk liuk dan Beni pun melihat arah yang Aisa pandang.


"Radit" ucap Beni pelan tapi masih didengar Aisa.


Aisa masih diam tapi mata mulai berkaca.


Detik berikutnya Radit yang tanpa sengaja menoleh kearah Aisa dia langsung berhenti karena kaget tiba tiba ada Aisa sedang menatapnya penuh amarah.


Lalu Aisa balik badan dia berjalan lebih cepat pergi meninggalkan tempat maksiat itu.


"Sial" kesalnya, sambil lari ngejar Aisa.


"Dit lo mau kemana?" tanya Beni setelah Radit melewatinya tak ada jawaban karena dia hanya fokus pada Aisa.


Beni pun penasaran dia juga mengikuti Radit berlari mengejar Radit.

__ADS_1


__ADS_2