
Radit heran kenapa Aisa sekarang banyak diam, biasanya kalau bicara denganya suka judes gitu.
Gimana sekarang nggak banyak diam setelah ciuman waktu itu Aisa malu sendiri kalau didepan Radit bisa bisanya dia diam saja saat dicium dan malah menikmatinya.
"Ke kenapa lihatnya kayak gitu?" tanya Aisa malu, karena dari tadi Radit menatapnya tak berkedip.
Radit yang duduk berhadapan dengan Aisa mereka sedang sarapan pagi.
"Ya melihat istrikulah, tu pipi kenapa?" reflek Aisa menyentuh pipinya sendiri.
"Nggak kenapa napa, emang ada apa?"
"Merah gitu" Aisa semakin malu.
"A apa sih" lalu dia melanjutkan makan pengen cepat cepat menyelesaikan makananya.
.
.
.
Aisa kesel sekali sampai sekarang Radit juga belum pulang sudah jam 7 malam dan juga tak ada kabar.
Sejak jam istirahat tadi siang Radit sudah tidak ada batang hidungnya dia pengen marah marah dihapanya nanti kalau Radit pulang.
Ting.
Sebuah pesan masuk dihandpone milik Aisa.
**Assalamualaikum istriku...
__ADS_1
(Aisa tersenyum baru membaca salam)
Hari ini aku tidak pulang, jangan tunggu aku cepat tidur jangan lupa kunci pintunya**
Hampir persis pesan dari Alan, sama lagi dulu Alan juga pergi tanpa memberitaunya sekarang suaminya ah Aisa sudah menganggap suami mungkin dia mulai berdamai dengan keadaan mencoba iklas.
**Waalaikumsalam...siapa nungguhin kamu, jangan gr, kalo perlu jangan pulang sekalian😏**
Padahal Aisa sedih dia masih gengsi aja pura pura seneng.
**Ya udah met malam, miss u😘**
Dia tersenyum lagi, ingin balas tapi dia malu nanti dia besar kepala lagi pikinya.
Keesokan harinya hari ini hari minggu, Aisa bingung nggak tau harus ngapain perkerjaan sudah dia selesaikan dari tadi kalau biasanya ada Radit, ada yang buat diajak berdebat tapi kali dia benar benar kesepian dia merindukan suaminya yang menyebalkan itu tapi selama dia perlakukan dengan manis mungkin dia mulai menyukainya.
Dia bosan dirumah terus, kali ini dia ingin keluar sayang sekali punya black card tapi dianggurin lumayan bisa bermanfaat buat keperluan rumah inikan sudah jadi miliknya jadi dia mau belanja.
Tadinya dia nelfon Rita ngajak dia jalan jalan agar ada temanya tapi Rita tidak bisa ada urusan keluarga jadi dia sendirian menyusuri moll.
Saat lelah berjalan dia duduk ditaman sambil minun boba dan tidak lupa jajanan cilok tiba tiba Serli datang mengganggu ketenanganya lagi santai.
Serli berdiri didepan Aisa dengan tangan dilipat kedada, Aisa acuh saja masih melanjutkan makananya mau ngapain dia pikirnya dia juga merasa tidak pernah mempunyai salah denganya.
"Heh lo buta ya" panggil Serli.
Aisa masih diam tak mengubris baginya dia nggak penting ah dia ketularan Radit yang tidak memperdulikan sekitarnya selama tidak ada yang membuat dia tidak nyaman.
"Lo selain buta ternyata ternyata budek juga ya" kesal Serli.
"Kamu bicara sama siapa?"
__ADS_1
"Gue dari tadi bicara sama lo cupu siapa lagi kalau bukan lo" Serli semakin kesal.
"Oo sama aku, aku pikir sama orang lain nggak nyebut namaku sih"
"Sialan lo" sambil numpahin minuman milik Aisa.
Sontak Aisa kaget dan berdiri, Serli semakin nantang karena melihat reaksi Aisa.
"Ser jangan cari gara gara"
"Lo takut karena nggak ada temen lo yang be go itu"
"Dan dia juga punya nama, namanya Rita"
"Gue nggak peduli" Aisa tarik nafas berusaha sabar.
"Apa maumu?"
"Gue peringatin sama lo, jauhi Radit"
"Apa hubunganya sama aku"
"Gue tau lo ada hubungan sama Radit"
Aisa kaget kok Serli bisa tau padahal nggak ada yang tau Rita saja tidak tau.
"Jangan ngarang, aku..."
"Sudalah jangan pura pura, gue beritahu sama lo, lo tu nggak pantes sama Radit bagai langit dan bumi, paling kalau Radit deketin lo ada maksud tertentu"
Aisa diam dia berfikir benar Radit nikahi Aisa karena kematian Alan dia melupakan siapa yang yang membunuh kakak satu satunya yang dia miliki.
__ADS_1
Serli senyum licik rupanya Aisa mudah dihasut, lalu dia mengeluarkan sebuah foto.