
Aisa agak sedikit berlari saat dia belok dipojokan hampir bertabrakan sama Beni
Aisa hanya senyum kiku terus melanjutkan jalanya tidak lama Radit datang dari arah yang sama, ia melewati Beni begitu saja.
"Dit lo dari mana?" yang dipanggil tak menghiraukan hanya dibalas dengan deheman saja.
"Tadi Aisa juga dari sana apa mereka ada sesuatu" dia bicara sendiri ah masa bodo gue pusing mikirnya, batinnya.
Beni tidak terlalu mengenal Aisa dia hanya tau nama saja, memang seperti Radit acuh.
.
.
.
Aisa terbangun dari tidurnya diatas meja rupanya dia ketiduran dilihat jam 11 malam lalu membereskan bukunya.
Kreuk.
Bukanya sudah makan kok lapar lagi pikinya, Aisa mengutak ngatik dapur mencari makanan yang tersisa atau apa yang bisa dibuat.
"Mencari apa?"
Karena haus Radit juga kedapur ambil minum melihat Aisa mencari sesuatu.
"Cari kamu" jawabnya asal.
"Aku ada disini, ngapain cari dalam lemari"
"Tau kalau didapur sedang apa pake tanya" judesnya.
Radit hanya senyum saja, lalu dia ambil air dan meneguknya.
"Ambil jaket aku tunggu diluar" Radit berjalan keluar.
"Kamu mau apa menyuruhku ambil jaket segala" Radit berhenti.
"Cari makan kamu laparkan" Aisa masih diam ditempat dia tau aja aku lapar.
__ADS_1
"Ayo" ajaknya. "Sa, mau nggak" Aisa masih diam menimang nimang "Nggak mau?" ucapny lagi.
"Kalau nggak ma..." belum selesai sudah dipotong Aisa.
"Iya, tunggu sebentar" galaknya, terpaksa dia mengikutinya lapar juga sih.
"Pake montor?" tanya Aisa.
"Iya, kamu mau naik mobil"
"Nggak usah"
"Kenapa diam aja, ayo jalan" setelah Aisa naik diatas montor.
"Pegangan ntar jatuh"
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan deh, mending buruan jalan"
Lalu Radit ngegas montor membuat Aisa reflek tanganya merangkul perut Radit.
"Kamu sengaja ya ingin membuatku jatuh" triaknya setelah montor melaju.
"Menyebalkan" gumanya, tapi masih didengar Radit karena tepat ditelinganya.
Montor melaju membelah jalanan dimalam kota yang indah penuh dengan kerlap kerlip lampu, kecepatan yang dikurangi, membuat Aisa sedikit tenang.
Ini momen yang ditunggu Radit bisa membocengi wanita pujaanya walaupun jantungnya berdebar dengan senyum yang mengembang senangnya.
Aisa pun sama deg degan rasanya tak bisa digambarkan pertama kali dibonceng sama cowok terpopuler yang diidamkan semua wanita, ya Aisa paling beruntung.
"Kamu mau makan apa?" tanya Radit ditengah perjalan.
"Terserah"
Mereka behenti diparkiran lestoran ternama dikota itu, saat Aisa akan buka helm dia melihat Beni dan Roga yang mau keluar dari lestoran itu.
Aisa langsung menarik tangan Radit yang akan melepas helm, mereka bersembunyi dibalik mobil.
"Ap..."
__ADS_1
Sssst.
Jari telunjuk Aisa nempel dibibirnya lalu nunjuk kearah Beni, bukanya Radit melihat arah yang ditunjuk Aisa dia malah mamandang wajah indah milik Aisa tepat didepanya walaupun cahaya yang minim tetap terlihat sempurna.
Saat Beni akan menaiki montor sportnya dia seperti melihat Montor Radit, lalu di melihat sekelilingnya tidak ada siapa siapa.
"Ben ayo cepat" panggil Roga.
"Tunggu sebentar"
"Ngapain sih"
"Apa lo nggak lihat ni ada montornya Radit disini" mata Beni masih mengawasi sekeliling mencari keberadaanya, Roga melihat montor itu ya benar itu montor Radit.
"Yang punya montor kayak gitu bukan Radit doang"
"Tapi kan"
"Kalau tu bener montornya Radit pasti kita ketemu didalem, ah sudah ayo"
Beni mengangguk lalu mereka pergi dari parkiran.
Karena merasa ada yang menatapnya Aisa nengok ke Radit mereka saling tatap sesaat sampai tidak sadar kalau Beni sama Roga sudah pergi.
Aisa yang baru tersadar memutuskan tatapanya dan dia juga melepas genggaman tanganya ternyata dari tadi dia masih mengenggam tangan laki laki itu.
Lalu Aisa keluar dari persembunyianya.
"Kayak backstreet aja pake sembunyi segala"
"Jangan dilepas helmnya"
"Kenapa?"
"Jangan makan disini, disini banyak mata mats" Radit hanya senyum dan geleng geleng ada ada saja.
"Lalu maka dimana"
"Nanti aku tunjukan"
__ADS_1
Mereka juga pergi dari parkiran lestoran itu, pasti banyak orang yang mengenali Radit makan direstoran itu.