Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
18.Mau Dicium


__ADS_3

Setiap pagi Radit selalu membuatkan sarapan untuk istri tercintanya.


Setelah selesai meletakan semangkok telor ceplok balado diatas meja makan lalu dia mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Aisa dan menaruh didepannya.


Radit bener benar pria idaman semua wanita selain tampan dia juga pandai masak, Aisa memandang banyak pertanyaan.


"Diindo aku tinggal sendiri, walaupun ada rumah utama aku lebih suka diapartemen kedua orang tuaku semua diluar negri, sedang kakak perempuanku ikut suaminya juga diluar negri, kadang iseng masak menu saderhana beli terus aku bosan" seakan Radit tau apa yang dipikirkan Aisa, orang tuanya juga belum tau kalau anak bungsunya sudah menikah Aisa pun kaget.


"Aku nggak nanya"


"Sebelum kamu nanya sudah aku jawab dulu"


"Nggak penting"


"Tapi bagiku kamu adalah orang yang paling penting" lagi kata yang yang dilontarkan Radit hampir sama yang diucapkan pada Alan.


Radit mengerti pasti dia teringat Alan dari ekspresinya sudah terlihat berubah sedih, langsung dia mengalihkan pembicaraan.


"Kamu jutek kamu sedih kok bisa kamu gemiesin kayak gini apalagi kalau senyum pasti can..." tangan yang akan nyubit pipi Aisa berhenti karena yang punya pipi melotot tajam.


Radit garuk tengkunya yang tidak gatal lalu mereka makan dengan diam.


.


.


.


Suasana sekolahan riuh bersorak menyoraki tim Radit melawan tim Rangga.


"Radit Radit Radit" para penonton menyemagati idola mereka, jam istirahat diluangkan waktu mereka bermain basket.


Permainan basket dimenangkan oleh tim Radit, datang Serli membawa minuman untuk Radit.


"Haus ya ni buat lo" menyodorlan air mineral, Radit malas dia diam tak menjawab tapi langsung direbut Pandu.


"Tenks ya sel"


"Itu bukan buat lo" merebut minumanya kembali tapi tidak kena karena Pandu keburu dibuka dan diminum.

__ADS_1


"Panduuu" triak Serli karena kesal.


Radit pergi begitu saja meninggalkan mereka tidak lama temanya yang lain juga ikut menyusul.


Buk.


Karena terburu buru Aisa nabrak badan Radit dan tubuh Aisa ditangkap posisi dia dibawah, mereka saling menatap.


"Lepaskan" ucap Aisa.


Buk.


Seketika itu Radit melepaskan tubuh Aisa.


"Aw"


"Sa lo nggak papa?" Rita datang menolong dan dia membantu Aisa berdiri.


"Kenapa dilepaskan" sambil mengusap usap pantatnya, banyak yang tertawa kejadian itu.


"Bukanya lo yang minta dilepaskan"


Dia kesal tapi tidak bisa marah marah lebih baik dia pergi saat beranjak sempet sempetnya dia menginjak kaki Radit.


Radit kaget tapi tidak menunjukan ekspresinya dia pura pura tidak terjadi apa apa, dan kejadian itu Beni sempat melihatnya kenapa Radit nggak marah sama sekali aneh pikirnya.


"Ada apa kamu nyuruhku kamari, ngajak pacaran disini?" tanya Radit setelah di whatsap Aisa diminta datang dibelakang sekolah.


"Emang siapa yang mau jadi pacarmu"


"Banyak" Aisa pukul lengan Radit.


"Kok mukul cemburu ya" Aisa mukul lagi.


"I iya nggak nggak" saat mau mukul lagi.


"Ada apa istriku?"


"Jangan bicara begitu disini kalau ada orang denger gimana"

__ADS_1


"Biarkan aja"


"Kamu nyebelin banget sih"


"Aku nyuruh kamu kesini, kenapa kamu tadi jatuhin aku begitu saja"


"Bukanya kamu bilang nyuruh aku melepaskanmu"


"Se enggaknya aku berdiriin dulu"


"Maaf"


"Sakit tau pantat aku"


"Sini biar aku sembuhin"


"Eits jangan pegang pegang"


"Aku minta maaf nggak dimaafin, aku sembuhin nggak boleh pegang terus apa dong"


Aisa mukul beberapa kali


"Iih aku sebel sama kamu" masih mukul.


"Ceritanya balas dendam ni"


"Iya" galaknya.


"Tadi kan udah nginjak kakiku"


"Aku belum puas"


Lalu tangan Aisa ditangkap Radit, mereka diam saling tatap sesaat kemudian kepala Radit mendekat dan semakin mendekat, lalu Aisa memejamkan mata, Radit tersenyum.


"Kalau mau dicium dirumah aja" bisiknya.


Aisa tersadar dia mendorong pelan Radit muka yang berubah kayak kepiting rebus.


"Si siapa yang mau dicium" dia pergi begitu saja karena malu, Radit hanya senyum.

__ADS_1


__ADS_2