Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
25.Aisa, I Love You


__ADS_3

Aisa berlari keluar sampai kejalanan, karena lari Radit lebih cepat dia berhasil mencekal tangan Aisa.


"Tunggu Sa"


"Lepaskan, aku bilang lepaskan"


"Aku nggak akan melepaskan sebelum kamu mendengar penjelasan dariku"


"Penjelasan apa?"


"Apa yang kamu lihat tadi nggak bener" Aisa senyum kecut.


"Semua sudah jelas masih menyangkal"


"Sa" Aisa mengangkat tangan.


"Aku benci sama kamu"


"Sa dengerin dulu, cewek cewek itu"


"Nggak, aku peduli kamu selingkuh atau kamu bermain gila sama mereka aku nggak peduli, dengan apa yang kulihat tadi sudah jelas bahwa kamu hanya sandiwara saja semua karena kak Alan agar kamu bisa terbebas dari kesalahan yang kamu buat"


Beni, Roga, Heri dan Pandu juga ada disitu tadi ikut mengejar Radit karena melihat Radit yang tiba tiba lari keluar, mereka kaget mendengar kata kata dari Aisa, walaupun mereka jaraknya tidak terlalu dekat tapi mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang Aisa ucapkan, mereka bertanya tanya ada hubungan apa Radit sama Aisa lalu Alan sebenarnya ada apa ini dalam fikiran mereka masing masing.


"Tidak seperti itu Sa"


"Lalu apa, kamu punya tujuan tertentu"


"Tidak ada tujuan apa apa, hanya..."


"Hanya apa, sama saja kan, lebih baik kamu pergi dari kehidupanku"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan pergi kemana mana aku akan selalu disampingmu Sa"


"Kamu egois, kamu mau apa dariku ha, kamu sudah menghancurkanku, dan...mana ada orang yang sudah membunuh kakaknya menikahinya dan bahwa tinggal bersamanya, nggak ada"


Beni dan yang lainya tercengang.


"Maafkan aku Sa" apa lagi kata maaf yang keluar dari mulut seorang Radit mereka semakin tercengang.


"Nggak ada gunanya"


"Lalu apa yang harus aku lakukan"


"Kembalikan kakaku sekarang juga"


"Kalau aku bisa akan aku lakukan"


"Memang nggak ada yang bisa kamu lakukan walau kamu dipenjara seumur hidupmu atau hukuman mati"


"Hah percuma, saat ini yang perlu kamu lakukan hanyalah, pergi...jangan ganggu aku, hanya itu" Radit diam mematung.


Setelah mengatakn itu Aisa beranjak pergi, tapi dia berhenti mendengar uangkapan Radit.


"Aisa, i love you" akhirnya Radit mengatakanya juga.


"Aku memang mempunyai tujuan aku ingin kamu memaafkan aku, aku ingin mengembalikan kebahagiankmu yang pernah aku hancurkan dan karena aku memcintaimu sebelum aku merusak kebahagianmu"


Aisa masih diam ditempat dia berdiri mencerna kata kata dari Radit, lalu dia berbalik menghadap Radit.


"Sudah cukup sandiwaranya, aku bisa bahagia tanpamu, sekarang rumahku tertutup untukmu"


Dan Aisa pergi menjauh, Radit masih mematung.

__ADS_1


.


.


.


Sekarang Radit diapartemen setelah pertengkaranya dengan Aisa tidak bertengkar sih lebih tepatnya Aisa yang marah, dia masih memikirkan Aisa mengusap wajahnya dengan kasar.


Aaaakh.


Triaknya sambil meninju meja kaca hingga pecah, sampai tanganya berdarah.


Beni belum pernah melihat Radit seperti itu.


"Dit, mungkin Aisa butuh waktu" Beni mencoba nenangin.


"Sekarang luka lo ini diobati dulu" hanya Beni lah yang berani.


Lalu Beni memberi isyarat pada Heri untuk mengambilkan kotak obat, dan dia membantu mengobati tangan Radit yang terluka.


Radit membiarkan tanganya diobati dia senderan disenderan sofa sambil merem menenangkan pikiranya, membayangkan wajah Aisa yang tersenyum manis padanya.


Lalu Radit dibiarkan sendiri, Beni dan yang lainya pindah tempat duduk.


"Gue nggak nyangka, ternyata mereka mempunyai hubungan khusus yang kita nggak tau" ucap Pandu.


"Ternyata juga Aisa adiknya Alan" kata Roga.


"Dan lagi pembunuh Alan" Heri.


"Ben terus gimana ni, kalau Natan tau dia marah besar" tanya Roga.

__ADS_1


"Lo jangan kawatir kalau soal Natan kita bisa mengatasinya, sekarang yang perlu kita lakukan membantu mengembalikan Radit siraja iblis" ya mereka menjuluki ketua mereka raja iblis tidak punya hati.


__ADS_2