Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
11.Sah


__ADS_3

Radit membuka handphone Aisa mencari nama saudara atau siapa agar bisa dihubungi, dan dia menemukan nama Bu Nani, karena no Bu Nani yang sering ada pangilan masuk atau keluar.


Setelah Bu Nani tau beliu cepat cepat datang kerumah sakit, disana Bu Nani sangat menguwatirkan Aisa.


Bu Nani menceritakan semua pada Radit kalau Aisa sangat sangat kehilangan Alan dan sekarang dia tidak ada yang menjaganya.


Tiba tiba terfikir dibenaknya dia harus menjaga, melindungi dan membahagiakannya dengan cara menikahinya mungkin egois tapi dengan cara itulah dia juga bisa menebus semua kesalahanya.


Radit minta ijin Bu Nani untuk menikahi Aisa, tapi Bu Nani merasa tidak berhak memberikan ijin tapi dilihat dari ketulusan Radit dan dari matanya dia sangat mencintai Aisa.


Setelah berfikir mungkin ini yang terbaik buat Aisa ada yang melindunginya pengganti Alan, akhirnya Bu Nani menyetujuinya, kalau seandainya Bu nani tau Radit pembunuh Alan pasti juga tidak setuju.


Pernikahan yang sederhana dan dadakan dilaksanakan malam itu juga diruang rumah sakit Aisa tempati, mempelai wanitapun masih keadaan tertidur pengaruh obat.


Wali dari Aisa penghulu dan saksi Pak RT dan Pak RW, Radit begitu tegang, saat mengucapkan kalimat sakral dengan lantang.


"Saya trima nikah dan kawinya Aisa Nuraini Binti Subono dengan mas kawin tersebut"


"Bagaimana?" pak penghulu dan para saksi mengucapkan.


"Sah" saksi satu


"Sah" saksi dua


Pak penghulu membacakan do'a untuk pengantin baru.


Bu Nani lega sekali dia bisa tenang karena Aisa ada yang akan menjaganya.


Radit memasangkan cincin kejari manis Aisa, cincin pun belinya dadakan untungnya pas dijari Aisa, walaupun hanya nikah sirih sah agama tapi nanti dia akan mendaftarkan pernikanya dicatatan cipil agar sah agama dan negara.

__ADS_1


"Kalau Bu Nani cape pulanglah biar aku yang jaga Aisa"


"Apa nggak papa"


"Sekarang Aisa sudah jadi tanggung jawabku"


"Baikalah Ibu pulang dulu, besok Ibu akan kesini lagi" Radit mengangguk.


"Jaga Aisa baik baik ya nak, Assamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Tak henti hentinya dia memandang Aisa, dia bahagia sekarang Aisa sudah menjadi miliknya, kalau sudah sadar pasti Aisa semakin marah karena tidak ijin dulu untuk menikahinya.


Digenggam tangan Aisa yang ada cincin melingkar dijari manisnya, diusap dan dicium.


Aisa mengerjabkan mata, masih dirumah sakit pikirnya, dia merasakan tanganya berat ternyata Radit semalam tidur sambil mengenggam tangan Aisa.


Karena pergerakan Aisa yang cepat membuat Radit terbangun dia kaget dan melihat Aisa yang sudah bangun, Radit tersenyum dengan muka bantalnya.


Sebenarnya Aisa terpesona wajah yang baru bangun saja tampanya tidak hilang justru ada daya tatik sendiri, tapi dia tepis pemikiranya, lalu mengalihkan pandanganya.


"Kamu sudah bangun" Aisa tidak jawab dia masih malu melihat muka tampanya Radit.


"Aku kekamar mandi dulu" lalu Radit pergi kekamar mandi.


"Bodo" ucap Aisa pelan tapi masih didengar Radit, dia hanya tersenyum tipis mulai saat ini dia akan sering mendengar juteknya Aisa.


"Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Ibu" lalu mereka berpelukan.


"Ibu tau kalau aku disini"


"Iya Nak Radit yang menelfon Ibu" Karena ada yang menyebut namanya dia keluar dari kamar mandi.


"Apa dokter sudah datang nak Radit"


"Belum Bu mungkin nanti jam 8"


Ibu kenapa dia mangil Ibu juga ikut ikutan pikir Aisa.


"Sekarang sudah ada Bu Nani kamu pergi sana" usir Aisa.


"Lo kok diusir?" tanya Bu Nani.


"Pokoknya aku tidak mau melihat dia disini Bu"


"Kenapa?"


"Karena dia..." Aisa berhenti kalau dia bicara pasti Bu Nani tau.


"Karena dia apa?"


"Aku pulang dulu Bu, nanti setelah pulang dari sekolah aku kemari" mengerti maksud Aisa lebih baik nurut dulu.


"Ya" sambil mengangguk Bu Nani.


"Tolong jagain Aisa sebentar ya Bu, Assalamualaikum" sambil nyalami Bu Nani.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" jawab Bu Nani, lalu tangan Radit terangkat mengusap kepala Aisa sambil tersenyum, Aisa yang melengos tak mau melihat Radit.


__ADS_2