Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
14.Sosok Alan Di Diri Radit


__ADS_3

Aisa melihat Radit megang foto dirinya dan Alan langsung merebut dari tangan Radit.


"Kalau kamu masih mau disini jangan pernah sentuh barang berhargaku"


Radit hanya mengangguk, dan fotonya dibawa kekamar.


"Bisa bisanya aku menikah dan mengijinkanya tinggal bersama orang yang sudah menghilangkan kakaku" bejalan kekamar sambil ngomel pelan masih bisa didengar Radit.


Ternyata dia bawel juga padahal disekolah tak banyak bicara bahkan sulit gue mendengar suaranya pikir Radit.


Radit mendengar suara brisik didapur, dia melihat Aisa memasak.


"Masak Apa?" yang ditanya hanya diam saja tidak peduli masih fokus memasak.


"Kamu buat mi" Aisa baru sadar sekarang kalau dia bicara pake aku kamu biasanya lo gue ah bodo amat terserah.


"Ini buatku sendiri, kalau kamu mau buat sendiri atau beli terserah"


"Jangan makan mi terus tidak baik buat kesehatanmu" Aisa melirik Radit.


"Jangan sok peduli"


"Aku memang peduli" Radit berjalan keluar sambil mengetik sesuatu.


Mie sudah jadi Aisa duduk dikursi siap siap untuk makan tapi diambil Radit.


"Hei apa apaan sih"


"Aku sudah pesankan makan untukmu, jadi jangan makan mie ini"


"Kembalikan mie aku"


"Tidak" karena Radit jauh lebih tinggi Aisa melompat lompat minta makananya dikembalikan.


Duk.


Kepala Aisa kejedot dagu Radit.

__ADS_1


"Aw" malah yang sakit Aisa.


Tangan Radit reflek mengusap kepala Aisa yang kejedot tadi dan tangan yang satunya masih megang mangkok.


Mereka saling tatap, perasaan Aisa menghangat diperlakukan dengan lembut oleh Radit.


Masih saling tatap tangan Radit turun kepipi Aisa diusapnya dengan jari jempolnya, tidak tau kenapa Aisa hanya diam saja mungkin dia dia butuh perhatian dari seseorang.


Tok.


Tok.


Tok.


Ketukan pintuk membuyarkan mereka, Aisa reflek mendorong Radit pelan lalu dia keluar melihat siapa yang datang.


Seorang laki laki tersenyum ramah saat Aisa buka pintu.


"Mengantarkan pesananya mbk" laki laki itu seorang kurir menyerahkan sesuatu dalam kresek.


"Aku nggak..."


"Totalnya 95 ribu mas" lalu dia menyodorkan 100 an.


"Kembalianya mas"


"Tidak usah ambil aja"


"Terimakasih" hanya dijawab hmm saja, memang begitu kalau sama orang lain.


Radit mengambil piring untuk menaruh makanan pesananya, ada ayam bakar 2 porsi komplit ples teh hangat 2.


"Ayo makan" ajak Radit.


"Nggak mau" dia terlalu gengsi untuk menerima makanan dari Radit.


"Beneran, ya udah kalau nggak mau"

__ADS_1


Radit menyocol ayam sama lalapan ke sambal dan hap masuk kemulutnya.


Hmm sambil mengunyah hmm, Aisa masih berdiri melihat Radit makan dengan nikmat perut keroncongan air liurnya hambir keluar, ah dia nggak tahan.


"Ini rumahku apa saja dalam rumahku itu punyaku juga" sambil mengambil ayam bakar dan langsung memakananya, Radit hanya geleng geleng dan senyum.


"Kamu tidur sini" menyerahkan bantal dan selimut.


"Kita kan sudah menikah, kita nggak tidur se..."


"Nggak nggak ada" lalu Aisa pergi kekamarnya.


"Masak kamu tega nyuruh aku tidur dikursi ini" Aisa membalikan badan.


"Lebih tega mana kamu atau aku?"


Radit diam saja dia mengerti, Aisa melanjutkan jalanya, tidak apa apalah setidak masih dikit perhatian ngasih bantal sama slimut.


Aisa menguap dia bangun lebih awal dia mau berangkat sekolah sudah beberapa hari dia tidak masuk.


Saat keluar kamar dia mendengar brisik didapur, dilihatnya ada seseorang.


"Kakak" dia diam terpaku.


Karena merasa ada yang memangil yang dipanggil menoleh.


Deg.


"Pagi" sapa Radit dan tersenyum


Kenapa dia yang ada disitu, kenapa sosoknya mirip kak Alan.


"Ngapain kamu didapurku" ya semalam Radit tidak bisa tidur.


"Aku buatkan makanan untukmul" dilihatnya nasi goreng, apa dia bisa masak.


Aisa pergi begitu saja, kenapa dia pikir Radit dan menaikan pundaknya.

__ADS_1


Dikamar mandi Aisa menangis, dia keingat Alan kenapa Radit mirip dengan Alan saat membuatkan nasi goreng untuknya.


__ADS_2