
Aisa ditarik Bu Nani kedalam pelukanya, beliu juga ikut menangis.
Setelah beberapa menit perasaan Aisa sudah mulai tenang, sekarang dia mau makan walaupun tidak banyak setidaknya perutnya keisi makanan.
"Sa kamu nggak lapor kekantor kepolisian kasus pembunuhan kakakmu dan kamu jadi saksinya lo pasti orang itu dipenjara berat" tanya Bu Nani.
Aisa yang sedang membereskan pakainya Alan berhenti, dia hanya menggeleng.
"Kenapa?"
Ya dia tidak mau memperpanjang masalah ini, dia bisa saja melaporkan atas pembunuhan, dia tidak mau, hanya beralasan percuma, polisi pun tidak bertindak karena Aisa sendiri yang menyuruh untuk menutup kasus ini, lagi pula yang membunuh Radit percuma juga yang berkuasa mempunyai segalanya.
"Kalau aku lapor apa kakak bisa kembali Bu"
"Tapi kan..."
"Dia dipenjara seumur hidupnya atau hukuman mati itu tidak membuat kakak hidup lagi jadi semua percuma akan sia sia, itu tidak akan membuat kakak hidup lagi Bu"
Aisa tak bisa membendungnya lagi dia menangis pilu kepergian kakaknya.
Bu Nani merasa bersalah beliu telah mengingatkan lagi.
"Maaf kan Ibu Aisa, Ibu tidak bermaksud"
__ADS_1
"Tidak apa apa Bu, Aisa akan berusaha kuat" lalu Aisa menghapus air matanya.
"O ya kenapa kamu menolak uang pemberian pak Rusdi Sa?"
"Uang itu terlalu banyak Bu"
"Emang berapa?"
"20 juta Bu" Bu Nani kaget
"Aku merasa aneh Bu, kakak hanya kerja dibengkal kenapa Pak Rusdi mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk karyawanya" lanjut Aisa.
"Terus?"
"Dia memaksa agar aku menerima uang itu lalu aku ambil sedikit saja, dan sisanya aku minta Pak Rusdi untuk dia yang yimpan katanya kalau butuh bisa diambil kapan saja"
......................
Disebuah bar, seorang laki laki duduk sendiri, mengahabiskan beberapa gelas minuman yang beralkohol dan menghisap sebatang rokok ditangan, banyak wanita cantik dan seksi yang datang menggodanya, tak sedikitpun dia tertarik.
Radit sering datang ke Clap malam bersama gengnya saat ini dia tidak ingin diganggu dia ingin sendiri semenjak dia membunuh Alan, yang dia pikirkan hanya Aisa, pasti sangat membencinya.
Belum apa apa dia sudah berkesan buruk dimata Aisa, dia bingung tidak tau bagaimana cara meminta maaf untuk mengatakan perasaanya saja dia takut apalagi sekarang dia sangat bersalah.
__ADS_1
Datang Beni duduk disebelah Radit dia juga minum satu gelas, dia melihat sahabat sekaligus saudara sepupu tau betul seperti apa Radit pasti saat ini lagi ada masalah.
"Dit gue kenal sama lo nggak cuma sebentar, kita tumbuh bersama kita saling mengerti saling memahami satu sama lain, ngerti maksud gue" ucap Beni berusaha agar sepupunya mau menceritakan sesuatu padanya.
Radit hanya diam masih asik dengan minumanaya dan rokoknya, Beni pun tidak memaksa karena tau Radit seperti apa, tidak ada berani mencampuri urusanya biar di sendiri cerita.
Lalu Beni menepuk lengan Radit dan pergi dari sana meninggalkan Radit sendiri lagi.
Masih ditempat yang sama Beni kembali ketempat duduk berkumpul dengan yang lain.
"Bagaimana apa bos mau cerita sama lo" tanya Heri Beni hanya geleng geleng, ya kalau diluar sekolahan mereka memanggil Radit bos.
Radit bukan cuma ketua geng disekolah tapi ketua gangstar yang bernama The King, banyak musuh ingin menghancurkan mereka salah satunya Alan, Alan juga salah satu anggota dari Drak diketuai oleh Natan musuh bebuyutanya.
Tidak ada yang tau kalau Alan mati dibunuh Radit, mereka memiliki masalah pribadi.
"Ada yang tau nggak siapa yang membunuh Alan?" tanya Roga.
"nggak ada yang tau, katanya adiknya tidak mau bahas kakaknya yang mati terbunuh" kata Pandu, mereka tidak tau kalau Aisa adalah teman satu sekolah dengan mereka adalah adik Alan, Alan pun merahasiakan identitas adiknya, Natan saja tidak tau.
"Natan pasti marah anak buah kesayanganya dibunuh" ucap Heri.
"Dan pasti kita yang yang dituduh" kata Pandu.
__ADS_1
"Ya, seharusnya kita siap siap kalau kita diserang, tapi Radit..." kata Heri
"Ntar gue yang ngomong" kata Beni.