
Malam ini Aisa tidak bisa tidur, dia melihat jam dinding jam 01.06 dini hari, masih lama pikirnya mungkin dia masih keinget apa yang dilakukan Radit siang tadi.
Sungguh benar benar kejam perbuatan Radit tidak berkemanusiaan tidak punya hati, dia laki laki yang mengerikan.
"Sa kenapa lemes banget?" tanya Alan melihat adiknya tidak bersemangat.
Huaa.
"Cuma masih ngantuk aja kak" ya Aisa baru bisa tidur jam 3.
"Tumben, emang semalam ngapain aja, udah jam segini masih ngantuk?"
"Nggak bisa tidur"
"Kenapa?" tanya lagi, tidak biasanya Aisa tidak bisa tidur.
Mmm...Aisa garuk garuk tengkuknya yang tidak gatal tidak mungkin kan dia bilang kalau dia tidak bisa tidur gara gara habis melihat penganiyayaan.
"Semalam belajar sampai kemalaman, nanti ada ulangan"
"O...belajar ya belajar jangan difotsir jangan terlalu larut, percuma kamu belajar kalau tubuh tidak sehat, gara gara kurang istirahat" nasehat Alan.
Aisa mengangguk, lalu mereka sarapan Aisa senang bisa setiap hari seperti ini.
Aisa bila akan berpapasan dengan Radit dia buru buru balik badan menghindar, jujur dia masih takut bila melihat Radit dia berusaha tidak bertemu denganya.
Alis Radit mengkerut.
"Dia kenapa, sepertinya akhir akhir ini dia menghindari gue?" tanya Radit dalam hati.
Dia melihat Aisa yang akan berjalan kearahnya buru buru balik.
Radit sama gengnya sedang asik mengobrol dan bercandaan, ya mereka suka buat brisik dan bikin onar.
__ADS_1
Akhirnya hari minggu telah tiba dimana semua siswa siswi menantikan hari libur banyak yang memanfaatkan untuk jalan jalan atau nongkrong tapi tidak dengan Aisa dia malas untuk keluar.
Alan melihat adiknya yang lahap makan, dia benar benar menyanyangi Aisa.
"Kenapa kakak melihat aku seperti itu, aku cantik ya?" dengan narsisnya mata yang berkedip kedip.
Alan tersenyum tangannya terangkat mengusap kepala Aisa.
"I...kakak berantakan rambutku ni" sambil merapikan dengan jemarinya.
Tangan Alan mengelus lagi.
"Maafkan kakak ya"
"Belum lebaran kenapa minta maaf"
"Kakak sepertinya belun membahagiakanmu"
"Kakak ini kenapa sih kok aneh sekali" pikirnya.
"Uih...kakak udah rapi bener mau kemana?" tanya Aisa yang melihat Alan keluar kamar ya memang agak rapi sedikit, belum dijawab Aisa lebih dulu tanya lagi.
"Ah pasti mau ketemu pacarkan ya?" tebaknya.
"Sok tau"
"Lalu kemana"
"Ada deh"
"Ih sebel"
"Kakak keluar sebentar ya kakak ada..." Alan belum selesai bicara sudah di potong Aisa.
__ADS_1
"Urusan" agak jutek gitu.
"Bentar aja kok"
"Iya" sambil mengangguk.
Lalu Aisa menyalami tangan Alan, tangan Alan terangkat mengusap rambut Aisa setelah itu Alan mencium kepala Aisa agak lama.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." saat Aisa menutup pintu setelah Alan keluar tiba tiba perasanya tidak enak dan tidak tenang, ada apa ini pikirnya.
Ah sudahlah mungkin ini cuma perasanya saja, lalu dia kembali melanjutkan aktifitas dirumah.
Semakin siang Aisa semakin tidak tenang pikiranya ke Alan terus, dia sudah menelfon Alan kalau Alan baik baik saja tapi dia masih merasa ada sesuatu saja.
Lalu dia mengambil tas dan terus keluar untuk mencari keberadaan Alan pas ditelfon tadi dia lagi nongkrong bersama temanya.
Saat sudah sampai ternyata tidak ada disana memang benar tadi Alan bersama mereka, pukul 10 Alan pergi meninggalkan mereka katanya ada urusan, jadi Aisa saat nelfon Alan sekitaran jam 12 an, Alan sudah tidak bersama meraka berarti Alan membohongi Aisa.
Pikiranya semakin tak tenang.
"Dimana kamu kak?"
Saat dia berjalan digang sempit tempatnya sepi, Aisa mendengar ada yang brisik dengan perlahan Aisa berjalan suaranya semakin jelas.
"Kakak" pikirnya dia mendengar suara kakaknya, ya dia yakin itu suara kakaknya seperti sedang adu mulut sama seseorang.
"Sampai kapanpun gue nggak akan takut sama lo, lakukana aja biar lo puas, tapi orang semacam kayak lo tidak bakalan puas" suara yang diduga kakaknya.
Semakin dia memdekat, suara itu dia juga mengenalinya.
"DIAM LO BRE***SEK" triaknya laki laki lawan bicara yang diduga Alan, sambil mengangkat tanganya pas Aisa sudah sampai.
__ADS_1