
Sebelum pulang Radit datang kemarkas lebih dulu, mereka bahas kematian Alan, Beni mengatakan kalau mereka harus hati hati sewaktu waktu mereka akan diserang.
Radit tidak peduli dia bisa melawan Drack bahkan dengan mudah dia menghacurkan mereka tapi yang dipikirkan hanyalah Aisa.
.
.
.
Ceklek.
Seseorang membuka pintu, baru kepalanya nyembul.
"Kalau masuk rumah tu ketok pintu ucapkan salam dulu" omel Aisa duduk kursi sambil nonton tv.
Radit mengulang kembali menutup pintu dari luar.
Tok.
Tok.
Tok.
"Assalamualaikum..." alis Aisa mengkerut melihat pintu, aneh pikirnya.
Ceklek.
"Kalau ada orang salam itu harus dijawab"
"Udah telat" Radit hanya senyum lalu ikut duduk dekat Aisa.
"Ngapain duduk sini"
"Kamu belum jawab salamku" sambil memandang Aisa, tba tiba pipi Aisa merona.
"Waalaikumsalam..." sambil mengalihkan pandamganya.
__ADS_1
Dia senang Aisa mau jawab salamnya.
"Jam segini baru pulang kemana aja?" Radit semakin seneng.
"Kenapa kangen ya?"
"Ih siapa yang kangen"
"Kamu nanyain kepulangan suami"
"Jangan gr ya, aku nanya bukan apa apa, ini rumahku jadi kalau kamu pulang malam, pintu aku kunci dari dalam dan kamu tidak bisa masuk" ya sebenarnya tadi Aisa melihat pintu terus.
"Iya istriku yang bawel" sambil nyubit hidung Aisa, seperti dejavu ya Alan sering melakukan seperti yang Radit lakukan.
"Jangan pernah menyentuhku" mata yang mulai berkaca lalu Aisa berdiri akan beranjak pergi, tapi tanganya digenggam Radit.
"Sa maafin aku" Aisa baru dengar Radit minta maaf sebenarnya hal yang langka.
"Aku tidak butuh maaf darimu, yang aku butuhkan kembalikan kakaku"
"Lakukan semaumu" Aisa menatap belati itu.
Lama dia terdiam rasa ingin mencabit cabitnya pakai belati itu, lalu diambilnya belati itu dan dibuang kesembarang arah.
"Aku bukan pembunuh sepertimu"
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kamu maafin aku?"
"Pergi dari kehidupan, jangan pernah ganggu aku lagi"
"Aku nggak bisa jauh darimu Sa"
"Aku benci kamu" triaknya.
"Kenapa, kenapa kamu bunuh kakaku ha, kenapa?" tangis Aisa sambil melepaskan genggamanya dari Radit
"Sa aku..."
__ADS_1
"Aku benci sama kamu aku benci" berontaknya, agar tidak berontak dipeluknya tubuh Aisa.
"Maafkan aku Sa maaf" Aisa masih ingin melepaskan pelukanya Radit.
"Kenapa kamu jahat sekali kenapa kamu tega membunuh orang yang paling berharga dalam hidupku" ucap Aisa yang agak melemah masih meneteskan air mata.
Tangan Radit mengusap usap rambut Aisa, Aisa mulai tenang mata yang merem tapi masih terdengar isakan kecil, dia mulai nyaman dalam pelukan suaminya.
Beberapa menit kemudian Aisa baru tersadar, didorong dada Radit yang masih pakai seragam.
"Kamu cari kesempatan ya"
"Iya"
"Apa"
"Tidak maksudku"
"Dasar kamu mesum" sambil mukul Radit pakai bantal ditangkis dengan tanganya.
Aisa tidak bisa tidur dia kebayang pelukanya Radit jujur Aisa merasa nyaman dalam pelukan suaminya atau dia tidak bisa tidur pengen dipeluk lagi, diusap wajahnya agar hilang bayangan itu nggak nggak, nggak boleh sambil geleng geleng.
Kepalanya nengok kesamping dilihatnya kartu black card diatas meja dari suaminya yang masih utuh belum disentuh sama sekali entah kapan Radit menaroh kartu mungkin pas Aisa tidak dirumah.
Lalu dia keluar, ingin tau Radit sudah tidur apa belum dia ngintip dibuka sedikit pintu kamarnya, tidak ada dimana dia dibuka lagi agak lebar dikit dan tiba tiba Radit ada didepan sambil membawa secangkir kopi.
Kepala Aisa nengok keatas ah dia kepergok.
"Ada apa Sa"
"Nggak ada apa apa" jawabnya jutek agar menutupi malunya.
Langsung Aisa menutup pintuk agak keras.
Brak.
Radit hanya geleng geleng kepala.
__ADS_1