Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
8.Pemakaman


__ADS_3

Aisa melihat Radit mengangkat tanganya yang membawa sebuah belati langsung menusuk Alan tanpa aba aba tepat di jantung bukan cuma sekali bahkan 3 kali darah segar muncrat dari tusukan dan mulut, kejadian begitu cepat Aisa tidak bisa mencegahnya.


"KAKAK..." triak Aisa lari menghampiri mereka, Radit menoleh begitu juga Alan yang masih keadaan sadar yang melihat adik kesayanganya berlari kearahnya.


Setelah sampai Aisa mendorong Radit begitu saja agar menyikir dari kakaknya.


"Kakaaak..." sambil terisak.


Radit begitu kaget, terpaku, ada Aisa, ternyata Alan adalah kakakya, belati ditangan terlepas begitu saja dan nafasnya yang gemuru setelah perkelaihanya dengan Alan.


Aisa masih menangis sesegukan, melihat kaadan Alan sangat mengenaskan muka yang lebam begitu banyak sepertinya sebelumnya mereka baku hantam belum lagi tusukan dari Radit.


Bergetar tangan Aisa terangkat kewajah sang kakak lalu disentuhnya, mulut terbuka, bergetar susah untuk bicara.


"Kakak..." suaranya tercekat ditenggoroan Alan masih bisa tersenyum membelai rambut Aisa dan berkata.


"Ka kak sa ya ng A i sa" ucap Alan terbata, Aisa mengangguk.


"Aisa juga sayang sekali sama kakak" masih terisak.


Lalu Alan menoleh ke Radit melihat wajah yang terkena cipratan darahnya menatap dengan penuh harap Aisa juga menoleh ke Radit dengan tatapan benci, Alan tersenyum sama Radit dan melihat lagi keadikya masih bisa tersenyum dan detik berikutnya Alan menutup mata untuk slamanya.


Aisa semakin menjerit memangil kakaknya untuk membuka mata.

__ADS_1


"Jangan pergi jangan tinggalkan Aisa kak...KAKAK...aku mohon..." huu huu huu.


Dia tidak peduli dipeluknya tubuh Alan yang penuh dengan darah.


Dipemakaman.


Setelah usai Alan dimakamkan Aisa masih menangis diatas gundukan tanah yang ditaburi bunga mawar dipeluknya dan terus mamanggil Alan untuk jangan pergi jangan tinggalkan.


Semua orang sudah pada bubar hanya ada Aisa yang ditemani Bu Nani yang juga menangis kepergian Alan yang sudah dianggap anak sendiri.


"Aisa..." pangil Bu Nani sambil mengusap lengan Aisa.


"Sudah sore pulang yuk sebentar lagi gelap" ajak Bu Nani.


"Aisa mau disini Bu" Bu Nani tarik nafas.


"Sedihnya sudah nangisnya sudah ya, biarkan kakakmu tenang disana, saatnya pulang"


"Tapi Bu..."


"Ibu mengerti perasaanmu, Ibu juga kehilangan, pulang dulu yu" ajak lembut Bu Nani lagi, Aisa mengangguk.


"Iya tapi sentar lagi ya Bu" Aisa masih ingin tetap disitu tanganya yang mengusap kayu yang bertuliskan Nama Alan.

__ADS_1


Dan jauh dari Aisa, dekat jalan masuk pemakaman ini, Radit berdiri seorang diri dari awal acara pemakaman sampai akhir dan hanya tinggal mereka berdua Radit masih setia menunggu dari kejauhan, dia takut untuk mendekat dia merasa bersalah.


Dua hari semenjak Alan meningal Aisa tidak punya semangat lagi untuk hidup setiap hari yang dilakukan hanya menangis, bagaimana tidak kakak satu satunya keluarga yang dimiliki sudah pergi meninggalkanya, dia sangat terpukul apalagi dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Alan dibunuh dengan sadis sama teman satu sekolah denganya.


Bu Nani datang melihat Aisa memeluk baju Alan mata yang memerah dan sembab isakan pun masih terdengar tetesan air mata juga masih menetes, membuatnya tidak tega melihatnya.


Bu Nani mendekat membawa sepiring nasi beserta lauknya, setiap hari beliu datang membawa makanan karena Aisa tidak mau makan tidak sekolah, putus sudah harapanya tidak lagi yang membuatnya semangat.


Beliu meletakan piring diatas meja lalu beliu duduk didepan Aisa.


"Sa, Ibu mohon jangan seperti ini terus"


"Aku sudah nggak punya siapa siapa lagi Bu, aku tidak sangup bu, harus kehilangan kakak aku..." semakin deras air matanya.


"Iklaskan kepergian kakakmu, pasti saat ini Alan juga sedih melihat adik kesanganya menjadi seperti ini, kalau kamu sayang padanya buktikanlah kalau kamu bisa menghadapi cobaan ini dan berjuanglah demi kakakmu buatlah dia bangga memiliki adik yang sangat menyayanginya" Aisa masih diam.


Kedua tangan Bu Nani memegang wajah Aisa.


"Dengarkan ibu" berhenti sejenak.


"Kamu tidak sendiri Sa masih ada Ibu" sambil telapak tangan kedada.


"Ibu akan selalu ada untukmu"

__ADS_1


__ADS_2