Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
13.Minta cerai


__ADS_3

"Apa" kaget Radit karena suara Aisa yang keras.


"Kamu jangan mengada ada"


"Aku tidak tidak mengada ada"


"Aku tidak percaya dan Kamu jangan bercanda"


"Apa aku pernah bercanda" tatapan Radit mulai tajam menghunus kelawan bicaranya.


Aisa yang ditatap merasa agak takut Radit mulai menunjukan keaslianya, dia tersadar terus mengubah ekpresinya agar Aisa tidak ketakutan.


Lalu Radit menunjukan vidio dan foto acara akadnya, Aisa mengeleng.


"Nggak mungkin" lalu dia ingin melepas cincin dari jarinya dan dia kesusahan cincinya tidak bisa dilepas.


"Apa kamu kasih lem ha sehingga cincinya nggak bisa dilepas"


"Nggak" jawab Radit polos.


"Iiih..." masih memcoba melepaskan cincinya.


"Kenapa diam aja, lepaskan" menyodorkan tangan, Radit menerima tangan Aisa dan digenggnya hanya diputar putar saja"


"Apa kurang bagus, kemaren acaranya dadakan beli cincin juga dadakan jadi aku asal beli, kalau kamu nggak suka nanti aku ganti" sambil menatap Aisa.


Deg.


Tanganya langsung buru buru melepaskan dari gengaman Radit.


"Biar aku sendiri yang melepaskan"


Keeskon harinya Aisa minta penjelasan dari Bu Nani, beliu minta maaf karena tidak ijin dulu denganya.


Karena Bu Nani orang yang dia sayang saat ini dia tidak jadi marah.

__ADS_1


Malamnya Aisa tidak bisa tidur membolak balikan badan saat menghadap Radit yang tertidur disofa.


Dilihatnya Radit yang tertidur ah sial kenapa dia tidur aja tetep tampan ah nggak nggak dia laki laki pembunuh.


"Maafkan Aisa kak ini diluar keinginanku, ah tiba tiba aja aku udah punya suami" batinya.


Mata Radit membuka, Aisa kaget langsung merem pura pura tidur, Radit berjalan ke Aisa.


"Kenapa belum tidur hmm" Aisa diam masih pura pura.


"Atau minta di..." sambil mendekatkan kepalnya, Aisa langsung melek.


"Mau apa kamu"


"Mau cium istriku"


"Jangan macam macam ya"


"Cuma satu macam"


"Kau" posisi Aisa dibawah dan Radit diatas mereka saling tatap mereka hanyut dalam pikiran masing masing.


Aisa menyelimuti tubuhnya sampai kekepala dia juga deg degan.


Sudah 2 hari Aisa dirumah sakit hari ini dia diperbolehkan pulang, Bu Nani tidak datang karena ada urusan.


Aisa bersikeras menolak pulang bersama Radit, Radit tetap mengantarkan pulang, Radit juga mengajaknya pulang rumahnya, Aisa semakin tidak mau dan akhirnya Aisa pulang diantar Radit tapi pulang kerumahnya sendiri.


"Ngapain masih disini, kamu pulang sana" setelah Radit selesai meletakan barang Aisa.


"Aku akan tinggal disini"


"Ini rumahku bukan rumahmu"


"Rumahmu rumahku juga kan"

__ADS_1


"Hei..."


"Kamu tidak lupakan kita sudah menikah"


"Siapa yang mau nikah sama kamu, jangan seenaknya sendiri, pernikahan kita tidak sah"


"Sah, kita menikah secara agama ya walaupun belum negara tapi cepat atau lambat kita akan sah negara juga"


"Aku tidak mau, mending ceraikan aku saja"


"jadi kamu mengakui kalau kita sah pasangan suami istri"


"Siapa bilang"


"Barusan"


"Iiiiiih..." gigit gigi dan mengepalkan tangan dia sebel.


"Pokoknya aku nggak mau tau, ceraikan aku"


"Kita belum apa apa, apa kamu nggak mau buat dede"


Mulut Aisa mangat "pokoknya aku minta ce..."


"Jangan ribut rubut ntar kedengaran tetangga" suara Bu Nani yang baru datang.


"Ibu"


"Tidak ada kata cerai, walaupun pernikahan ini bukan keinginan kalian, Ibu yakin kalian akan hidup bahagia"


"Tapi Bu..." Bu Nani mengusap lengan Aisa mengangguk tanda semua akan baik baik saja beliu tidak tau siapa Radit sebenarnya.


"Maafkan Ibu bukanya ikut campur, kalian belum coba menjalaninya kalian pasti bisa, Ibu lega sekarang kamu ada yang jaga penganti Alan"


"Nggak ada yang bisa menggantikan kak Alan Bu" batin Aisa.

__ADS_1


Akhirnya Aisa mengalah membiarkan Radit tinggal denganya mana ada orang menikahi pembunuh kakaknya hanya disini saja.


Radit melihat lihat rumah Aisa penglihatan tertuju pada sebuah foto Alan dan Aisa mereka sangat bahagia sekali dia semakin merasa bersalah.


__ADS_2