
Mereka telah sampai diwarung sate kambing pingir jalan.
"Kenapa, kamu tidak mau makan disini?" tanya Aisa melihat Radit sepertinya dia tidak suka makan dipinggir jalan.
"Tidak, ayo masuk" sambil gandeng tangan Aisa, Aisa pun tidak sadar kalau tanganya digandeng nurut aja.
Pasti banyak orang mengira mereka pasangan serasi ya memang mereka pasangan tapi tidak seperti pasangan pada umumnya yang mesra.
Radit memesan sate ples nasi dan es teh, mereka nunggu pesanan.
Mereka duduk bersebelahan tempat duduk yang lesehan sambil memandang orang pada lewat ditempat ini kalau malam semakin ramai disepanjang jalan beragan penjual banyak pasangan yang datang bukan hanya ingin makan atau juga jalan jalan bahkan hanya sekedar nongkrong saja juga ada.
"Kamu sering kemari" tanya Radit, Aisa menoleh.
"Tidak, tapi aku pernah diajak kakak kemari" wajahnya berubah mendung.
"Sa aku tidak tau bagaimana cara agar kamu bisa memaafkan aku, tapi aku akan berusaha memperbaiki kesalahanku yang pernah aku perbuat, aku ingin kamu bahagia Sa" Aisa diam.
Dia ingin menangis telah ingat lagi kakaknya ditambah kata kata Radit yang membuatnya tersentuh karena Radit benar benar tulus.
Radit megang tangan Aisa tanda dia akan selalu ada dan akan membahagiankanya.
"Aku..." Radit belum selesai bicara seorang laki laki paroh baya datang membawa pesanan mereka.
Aisa menghapus air matanya yang menetes, lalu mereka makan bersama dalam diam.
Aisa sedikit melupakan kesedihanya, Radit melihat ada sisa bumbu dibibir Aisa tanganya terangkat mengelap pucuk bibir yang terkena bumbu sate dengan jari jempolnya.
__ADS_1
Aisa terdiam dan menanatapnya karena perlakuan manis laki laki yang sekarang sudah bersetatus menjadi suaminya, jantungnya kembali berdebar, agak lama mereka saling tatap.
Radit memajukan kepalanya, dan semakin mendekat, belum sempat bibir mereka bertemu dikagetkan dengan suara orang bicara.
Mereka tersadar dan saling menjauh, Radit garuk garuk tengkunya yang tidsk gatal, lalu mereka kembali melanjutkan makan makanan mereka.
Diperjalanan pulang Aisa diam saja sepertinya dia sudah tidak membenci Radit, perlakuan Radit padanya membuat hatinya menghangat, apakah dia berubah atau ini sifat aslinya, Aisa senyum sendiri mengingat kejadian tadi kenapa dia diam saja dan selama ini Radit dengan sabar menghadapinya yang selalu judes.
Radit yang dari tadi melihat Aisa dari kaca spion juga ikut senyum.
"Itu bukanya Radit" Serli sama Tika menoleh kearah yang ditunjuk Sonia, saat mereka berhenti dilampu lalu lintas.
Serli beserta gengnya didalam mobil melihat Radit sama seorang cewek tidak tau itu siapa
"Itu siapa yang dibonceng Radit?" tanya Tika, karena tertutup helm mereka tidak bisa melihat siapa yang dibonceng Radit.
"Cari masalah dia" ucap Tika.
"Dia belum tau siapa Serli sebenarnya" ucap Sonia.
"Iya anak Pak Ronal" Sonia mukul pelan Tania.
"Bukan itu be go" marah Sonia.
"Ah kalian brisik banget" marah Serli.
"Tu" Tania nunjuk Sonia.
__ADS_1
Serli kesal sekali sama cewek yang dibonceng Radit "Awas" batinnya.
.
.
.
Serli, Sonia dan Tika keluar dari mobil setelah mobil berhenti diparkiran sekolah semua murid laki laki terpana melihat mereka karena kencantikanya mereka berjalan masuk tapi dia berhenti dia melihat sesuatu.
"Apa sih" tanya Tika.
"Kok berhenti" Sonia juga tanya.
Dia melihat Aisa bejalan melawatinya yang memakai jaket persis seperti jaket yang dipakai seorang cewek yang diboncengin Radit.
Nggak mungkin dia, dia cewek cupu disekolahan tapi jaketnya persis sama cewek tadi malam, nggak mungkin pasti hanya kebetulan sama saja, pikirnya.
"Tumben make jaket" tanya Rita setelah Aisa sampai dikelas dan menaruh tasnya.
"Iya, pengen aja"
"Sa gue pinjen buku boleh?"
"Buat apa?"
"Gue belum mengerjakan pr" sambil cengar cengir, Aisa geleng geleng temanya ini jarang sekali mengerjakan tugas.
__ADS_1
"Ya udah, tapi cepet keburu Pak Toha datang" sambil menyerahkan buku, tidak lama guru datang pas Rita selesai mengerkan tugas.