
"Sa kok kita nggak pernah liat simak lampir?" tanya Rita.
"Aku liat"
"Dimana?"
"Di tv"
"Bukan mak lampir yang itu Sa"
"Lalu"
"Siapa lagi kalo bukan primadona kita yang sok kecantikan banget itu"
"Serli" Rita mengangguk "Emang kenapa, kangen ya?"
"Ih kangen sama mak lampir, kangen ya sama siganteng Raditlah, akhir akhir ini dia nggak kelihatan batang hidungnya, dia kemana ya?"
"Kamu kepo ya"
"Ih beneran Sa dia itu hilang bagai ditelan bumi tau nggak"
Bener juga dia juga heran kemana ya Serli, ah nggak peduli bukan urusanya dia kemana.
Semua ulah Radit tidak tau apa yang dia dilakukan membuat Serli pindah keluar negeri.
Aisa yang dari tadi diperpustakaan dia keluar heran semua anak anak pada kemana, ternyata semua pada ngumpul dilapangan.
"Sa kemari" ajak Rita sambil melambaikan tangan.
Apa ada pembulian lagi pikir Aisa, ya gengnya Radit lagi mereka sedang apa.
"Kalian mau dengar pangeran nyanyi nggak" triak Roga pada semua penonton kayak mc aja.
"Mau..." mereka bersorak senang.
"Dit" pangil Roga sambil melempar gitar.
Radit yang dari tadi diam melihat Roga apa yang dia lakukan ternyata malah dia yang jadi sasaranya.
"Ck maksudnya apaan?"
Roga yang mengisyaratkan dengan matanya yang menunjuk ke Aisa, Radit pun menoleh keAisa mata mereka bertemu.
__ADS_1
Buru buru Aisa mengalihkan pandanganya dan saat dia mau beranjak pergi.
Jreng.
Dia berhenti tapi masih membelakangi.
*Aku takakn pernah berhenti
Mencintaimu samapi aku mati
Aku akan selalu setia
Menemanimu setiap waktu
Tak pernah terfikir olehku
Untuk menghianati cintamu
Engkau satu satunya wanita
Yang selalu aku rindu
Sayang aku takan pergi
Aku bernafas untukmu
Percayalah padaku
Sayang aku akan slalu
Membuatmu bahagia
Aku bernafas untukmu
Duhai kekasihku*
Lagu dari Pasto 'Sayang' anggap saja lagu ciptaan Radit sendiri yðŸ¤
Sebenarnya perasaan Aisa bergetar mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Radit, tapi kalau dia ingat kakaknya dan apa yang dilakukan sama perempuan perempuan itu termasuk Serli juga hatinya sakit.
Para siswi yang bersorak kesenangan mereka semua berandai andai.
Sepertinya Rita mengerti situasi, Aisa yang berubah menjadi galau, Radit tak berhenti menatap Aisa walau dia membelakangi Radit dia tau pasti Aisa perasaanya sedih saat ini.
__ADS_1
Sesaat kemudian Aisa pergi dari kerumunan itu, dia kembali kekelas Rita pun juga mengikuti dari belakang.
Saat Rita sampai dikelas dia sempat melihat Aisa buru buru menghapus air matanya.
"Sa kita sudah berteman, lo bahagia gue ikut bahagia lo sedih gue juga sedih, kalo lo punya masalah lo cerita sama gue" Aisa senyum.
"Makasih ya Ta, aku tidak apa apa kok"
"Beneran?" Aisa mengangguk.
Semua siswa pada bubar keluar gerbang, Aisa berjalan lebih dulu meninggalkan Rita dia mengejar Aisa sampai nabrak seseorang.
"Sa tunggu dong" pas Aisa menoleh.
Bruk.
"Aw" Rita terjatuh ditanah.
"Makanya jalan tu pake mata" ucap Pandu.
Rita dibantu Aisa berdiri dia kesal sekali bukanya minta maaf atau bantu malah dia yang marah.
"Apa lo bilang, apa lo juga nggak liat ni mata gue"
"Oo itu mata lo" Pandu tertawa.
Rita berkacak pinggang sambil melotot, Pandu yang pura pura takut.
"Ih takut" tapi detik berikutnya Pandu malah menelan salivanya karena muka Rita yang dekat sekali dengan mukanya.
"Ta sudahlah" ucap Aisa.
"Dia tu rese banget bukanya minta maaf malah diketawain"
"Ok deh gue minta maaf"
"Telat"
" Ya udah kalo nggak mau"
"Ih nyebelin banget sih" lalu mereka pergi meninggalkan Pandu, dan Radit hanya memandang Aisa kalau Roga Heri dan Beni hanya tertawa melihat Rita sama Pandu berdebat.
Setelah dihalte, Aisa sama Rita menunggu bis datang seperti ada yang aneh antara Aisa dan Radit pikir Rita, Radit yang memandang Aisa tak berkedip bahkan tak mengalihkan pandanganya apa lagi pas tadi Radit membawakan sebuah lagu kayak ditunjukan hanya untuk untuk Aisa.
__ADS_1