
Seorang laki laki paruh baya menunggu penjelasan dari laki laki muda yang duduk berhadapan denganya, ya beliu adalah Ardi Pramuja ayah dari Radit Pramuja.
Radit yang tiba tiba ditelfon Ayahnya diminta pulang kerumah utama, saat ini Radit disidang.
Ardi melihat tangan anak bungsunya yang diperban pasti dia habis berkelahi lagi.
"Apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu pada papa"
"Nggak ada yang harus dijelaskan pa" jawabnya nyantai seolah olah dia tidak membuat masalah lagi.
"papa tau selama ini apa yang kamu lakukan"
"Kalau sudah tau ngapain tanya"
Brak.
Marah Pak Ardi geprak meja, Radit tidak kaget sedikitpun.
"Papa selama ini diam, membiarkanmu, agar kamu bisa bertanggung jawab setiap perbuatan apa yang kamu lakukan, tapi apa kamu semakin menjadi, apa yang papa katakan kalau mamamu sampai tau, putra kesanganya...hah" tidak bisa melanjutkan kata katanya.
Selama ini Pak Ardi memerintahkan orang untuk mengawasi gerak gerik putranya tanpa sepengetauhuan Radit, tapi bukan Radit namanya kalau dia tidak tau kalau dia ada yang ngikutin dia pura pura aja tidak tau.
"Katakan apa adanya"
"Mamamu akan kecewa kalau tau apa kamu lakukan" Radit menoleh ayahnya dia sudah melukai 2 wanita yang disayanginya.
Apa yang salah selama ini beliu mendidik anaknya dengan keras tapi bukan menjadi anak yang membanggakan malah membuat dia sendiri kewalahan memang dia menjadi pemberani, walaupun begitu Radit nilainya tetap teratas memang iq diatas rata rata.
"Apakah sudah selesai pa?" Radit berdiri.
"kalo sudah gue pergi" lanjutnya.
"Kamu bener bener nggak ada sopan santunya terhadap orang tua" Radit hanya berhenti sebentar lalu dia berjalan pergi keluar.
__ADS_1
"Radit papa belum selesai bicara" triak ayahnya, seperti tuli sedikit tak menengok atau berhenti.
.
.
.
Radit benar benar kacau sudah 2 hari dia bolos dia benar benar menuruti keinginan Aisa untuk tidak ada disekitarnya.
Yang dilakukan hanya minum mabok, hampir jam 12 siang dia masih dialam mimpinya, semalam dia minum terlalu banyak hingga dia mabok sampai membuat keributan diclub.
Teman temanya yang setia membawa dia pulang keapartemenya.
Uuhh.
Radit bangun sambil megang kepalanya yang terasa berat.
"Udah bangun lo?" tanya Beni.
"Ni jus lemon buat lo diminum" lalu Radit meminum jus lemon yang Beni berikan.
"Dit bokap lo sudah kembali America" ayahnya tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama disana, diindonesia beliu hanya mengecek saja karena sudah ada yang menghendel kaki tanganya ayah dari Beni.
"Dia menghubungi lo"
"Ya sebenarnya dia sering nanyain lo"
Beni melempar sebuah foto diatas meja.
"Ini maksudnya apa?" tanya Radit, dia kaget kenapa ada foto dirinya sedang bermesraan sama Serli padahal dia tidak pernah sedikitpun menyentuhnya.
"Ternyata ini sebabnya Aisa marah sama lo"
__ADS_1
"Sialan wanita ular itu, akan gue beri pelajaran" dia beranjak akan pergi tapi dicegah Beni.
"Tunggu Dit, jangan terburu buru"
"Gue nggak pernah kayak gini, gue nggak suka" ya foto itu hanya editan belaka.
"Ya gue tau, ada cara yang tepat untuk memberi dia pelajaran"
Akhirnya Radit sedikit bersabar tapi akan segera memberi pelajaran dia tidak peduli dia perempuan.
Hari ini Radit masuk sekolah, karena bujukan dari Beni sebenarnya susah membujuknya dan akhirnya mau berangkat.
Saat Aisa berjalan kekantin bersama Rita mereka berpapasan dengan gengnya Radit, Radit pura pura acuh dia melewati Aisa begitu saja.
"Apa...dia nggak melihatku" batin Aisa, bibirnya yang cemberut, karen Radit acuh.
Aisa aneh sekali bukanya dia yang minta dijauhi kok malah sebel sendiri.
"Kenapa Sa tidak ada angin tidak ada hujan muka ditekuk gitu"
"Ngga apa2" mereka yang masih berjalan, tapi dicegat Serli.
"Apa lagi?" tanya Aisa.
"Bagus" langsung pergi setelah mengatakan 1 kata saja.
"Heh mak lampir maksudnya apaan?" karena Serli meresa tersinggung dikatai Rita dia balik lagi.
"Apa lo bilang"
"Makanya punya telinga tu dipergunakan jangan buat pajangan doang"
"Sialan lo" saat dia mau jambat rambut Rita Aisa lebih dulu menghalangi, Aisa ngajak Rita pergi dari situ agar tidak terjadi keributan lagi.
__ADS_1
Serli kesal sekali tidak jadi menjambak Rita, dan semua tidak luput dari pandangan Radit.