Aisa, I Love You

Aisa, I Love You
6.Cuma Imajinasi


__ADS_3

Puk.


"Dit" pangil Beni dan tepukan dipundak Radit.


Radit menoleh, lalu dia melihat disekelilingya masih berada dibawah pohon alisnya mengkerut.


"Kenapa lo?" tanya Radit pada Beni.


"Lo yang kenapa, gue pangil lo 2 kali nggak denger ngapain lo disini ngelamunin apa sih?" tanya Beni.


Radit garuk garuk tengkuknya yang tidak gatal, melihat Aisa yang masih duduk sendiri sana.


"Nggak ada" jawab Radit dingin, lalu pergi begitu aja.


"Dit" pangil Beni, sambil mengikuti Radit dari belakang.


Aisa menoleh kesumber suara brisik ternyata Radit dan Beni, kenapa mereka? tanyanya dalam hati lalu dia melanjutkan membacanya.


Ya Radit tadi hanya membayangkan saja kalau nembak Aisa.


Radit kesal ini cuma imajinasinya saja, dia pikir tadi kenyataan, pake acara diganggu segala lagi.


......................


"Assalmualaikum..." salam seseorang dari luar dan berjalan masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam..." jawab Aisa menoleh, ternyata Alan.


Dia langsung menghambur memeluk Alan.


"Aisa kangen kenapa kakak tinggalin Aisa"


"Kakak nggak ninggalin, kan kakak udah bilang kalau kakak ada urusan"


"Apa urusanya lebih penting dari Aisa" Alan tersenyum mengelus rambut.

__ADS_1


"Ya pentingan kamulah, kalau nggak kakak nggak pulang"


"Tu kan" sambul memoncongkan bibirnya.


"Tu bibir nggak usah dipanjang panjangin, kaka iket mau?"


"Kakak" manjanya semakin erat pelukanya dia takut ditinggal lagi.


Alan mengecup sayang dirambut kepala Aisa, dia juga nggak mau jauh dari adiknya.


Kreuk.


Aisa mengangkat kepalanya keatas melihat wajah Alan.


"Kakak lapar?" tanya Aisa Alan mengangguk.


"Ada makanan"


"Ada kak" lalu Aisa melerai pelukanya dan pergi kedapur mengambil makananya untuk Alan.


"Kenapa melihat kakak saperti itu?" Aisa hanya menggeleng.


Keesokan harinya saat Aisa akan kesekolah dia melihat Alan terlebih dulu, kali ini dia tidak membangunkan Alan biarlah istirahat dulu.


"Berangkat sekolah sa?" tanya Bu Nani tetangganya saat Aisa menutup pintu rumah, cuma dia saja yang perduli dengan Aisa dan Alan.


"Eh Bu Nani, iya bu ni mau berangkat"


"Alan kemana, beberapa hari ini Ibu ngak pernah melihatnya?"


"Iya Bu, kak Alan baru pulang tadi malam beberapa hari kemaren kakak ada urusan"


"pantesan"


"Aisa berangkat dulu ya bu" menyalami Bu Nani, setiap ada orang yang lebih tua darinya dia akan menyalaminya, termasuk Bu Nani yang dianggap ibunya sendiri banyak yang beliu bantu untuk Aisa dan Alan.

__ADS_1


"Iya hati hati dijalan"


"Assalamualaikum" sambil nengangguk.


"Waalaikumsalam"


Disekolah.


Saat Aisa keluar dari toilet yang lama tidak terpakai tapi masih bisa digunakan karena toilet cewek yang biasa digunakan penuh entah kenapa banyak yang antri.


Karena tempatnya paling belakang dekat gudang, dia mendengar sesuatu dari belakang sekolah jarang sekali ada orang yang lewat disitu bahkan tak ada sama sekali.


Sebenarnya dia tidak peduli takut ada sesuatu karena tempatnya sepi, karena rasa penasaranya lebih tinggi, Aisa jalan perlahan dan suara itu makin jelas.


"A ampun..." rintih seorang laki laki, Aisa berdebar ada apa? tanyanya dalam hati.


Aisa sedikit ngintip dengan sebelah mata saja dia terkejut langsung membekap mulutnya sendiri agar tidak bersuara.


Melihat Radit beserta gengnya sedang menganiyaya seseorang entah siapa itu tidak kelihatan dia cuma melihat Radit memegang sebuah belati menyayat kaki orang itu.


"Aa...."triak orang itu.


Aisa ikut gemetaran dia mundur perlahan dan sangat hati hati agar tidak ketauan satelah agak jauh dia lari sekencang kencangnya.


Buk.


Sampai dia nabrak seseorang.


"Maaf maaf"


"Tidak apa apa, kamu kenapa Sa ketakutan gitu, baru melihat hantu?" tanya lisa yang menyapanya waktu itu.


"T tidak kenapa napa" dia langsung pergi neninggalkan lisa.


"Dia aneh sekali pasti bener dia melihat hantu" tebaknya.

__ADS_1


Setelah sampai dikelas dia duduk memeluk tasnya sendiri, bayangan kejadian tadi masih jelas diingatanya.


__ADS_2