
Drrttt.. drttt.. drttt
Suara getar ponsel Naya membangunkannya dari mimpi indah. "Siapa sih.. haloo", jawab Naya dengan suara khas bangun tidur sedangkan diseberang penelefon itu terdengar cekikikan sendiri "masih pagi mas, kenapa membangunkan aku sih ?", keluh Naya. Ya sang penelefon adalah Edo kekasih sekaligus calon suaminya, "sayangggg.. bukan kah kita udah janjian lari pagi ? kenapa malah masih tidur sih ", kata Edo sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Seketika Naya langsung mematikan telfon dan berlari ke kamar mandinya membasuh muka dan menyikat gigi. 10 menit berlalu kini dia sudah ada dihadapan pacarnya. "Maaf lupa yang", ucap Naya dengan nada manjanya, Edo hanya mengusap kepala Naya sebagai jawabannya. Mereka memulai lari pagi mengelilingi kompleks perumahan Naya. Naya hanya hidup seorang diri di Jakarta karena keluarganya sudah lama meninggal, dia tinggal di komplek perumahan yang tak jauh dari kantor tempatnya bekerja dengan alasan agar dia tak pernah telat kalo berangkat kerja.
Setelah lelah mengelilingi kompleks mereka beristirahat di teras rumah Naya. "Capek mas", Naya ngos-ngosan sendiri ia meletakkan kepalanya di pangkuan Edo "manja banget sih ini", gemas Edo sambil menarik pelan hidung Naya dan mereka pun tertawa bersama. Selama berbulan-bulan mereka jalani hari-hari seperti biasanya sampai saat Naya dihadapkan pada jadwal padat kerjanya membuat waktu untuk bertemunya dengan sang kekasihpun harus terlewatkan.
__ADS_1
************
Beberapa minggu yang lalu kantor tempatnya bekerja membuat pengumuman akan ada CEO baru diperusahannya dan memindah tugaskan Pak Budi selaku bos Naya sekarang harus pindah ke luar kota, hal itu berdampak pada pekerjaan Naya sebagai sekretarisnya untuk segera menyelesaikan tugas dari pak Budi.
__ADS_1
Dikantor suasana sudah ramai anak anak kantor yang sedang heboh membicarakan kedatangan CEO baru minggu depan, dari mulai perempuan sampai laki-lakipun mereka heboh bercerita bahkan sampai OB pun ikut dalam kehebohan. "Heh, kenapa baru dateng sih ? jam berapa ini ", cerocos Ema teman kerjaku yang tiba-tiba datang mengagetkanku walau kami beda difisi dia bekerja sebagai asisten manager pemasaran sedangkan aku sebagai sekretaris dan kamipun bersahabat sejak pertama mengenal dikantor ini. "Kenapa sih mereka pada heboh semua?", tanyaku sambil menunjuk semua orang di gedung Raharjo Grup . "Mereka lagi bahas calon CEO baru kita, katanya super ganteng looo ", terang Ema dengan antusiasnya . Yah Ema memang terlihat centil ketika mendengar laki-laki tampan walaupun dia sudah bertunangan tapi dia tidak pernah menghianati tunangannya yaitu mas Bram. Akupun hanya ber oh ria saja menanggapi ucapannya. "Setampan apa sih sampai membuat mereka heboh seperti pasar?", batin Naya
Naya segera pergi dari gerombolan itu menuju lantai 8 tempatnya bekerja. Sesampainya dilantai 8 kala sedang asik berjalan Naya memandang kaget pintu ruangan Pak Budi sudah terbuka yang artinya bos nya itu sudah datang terlebih dahulu dari dia. Buru-buru dia berlari ke ruangan itu dan nampaklah pria paruh baya itu dimerja kerjanya sedang memandang dokumen-dokumen diatas meja kerjanya, tanpa mengetuk Nayapun langsung masuk ke ruangan itu "Maaf pak saya terlambat", ucapnya sambil menunduk dan hanya mendapat sorotan mata dari bosnya membuat dia takut mengangkat wajahnya sampai tiba-tiba pak Budi memegang tangannya.
__ADS_1