
Naya menjalanai hari-harinya dinegara asing dengan senyum kepalsuannya. Ketika ia berada disekitar orang lain atau bahkan Nency ia akan menjadi wanita tangguh yang ramah dengan segala keceriaannya,namun ketika malam datang menghampirinya ia akan menjadi dirinya sendiri yang rapuh menangisi nasibnya. Hidup jauh dari suami yang dicintainya, menyimpan sejuta rindu ditengah kehamilannya membuat batinnya benar-benar tersiksa apalagi 2 bulan ini ia selalu merasa iri ketika melihat semua orang berjalan bersama pasangannya.
"Sayang kita harus kuat,, kita pasti bisa kan ya sayang .. " terisak sambil mengelua perutnya yang mulai membuncit.
"Kita akan bertahan sebentar saja nak,, setelah itu kita akan berkumpul bersama papa ya nak .. "
"Mama sangat merindukan papa nak .. mama rindu senyumnya pelukannya, omelannya .. Mas aku rindu kamu .. " tangisnya dengan membekap mulutnya agar suara isakannya tak terdengar orang.
Tanpa ia sadar Nency sedang mendengarkannya dibalik pintu. Sebagai sesama perempuan ia paham apa yang dirasakan Naya, ia juga sakit saat mendengar rintihan juga tangis Naya tiap malamnya.
Pagi begitu cerah ketika tubuhnya masih terasa lemah terbaring diatas ranjang besarnya. Perutnya yang mulai membesar terlihat begitu jelas dibalik gaun tidur yang dikenakannya.
Tokk .. tokk ,, suara ketukan pintu terus terdengar nyaring tanpa sahutan. Maid yang bekerja dirumah itu segera melaporkan hal itu pada Nency.
__ADS_1
"Ada apa maid ?? dimana putriku ??" tanyanya sambil mengoleskan selain dirotinya.
"Saya sudah mengetuk lama pintu lamar nona, tapi tak ada sahutan nyonya. Saya tak berani untuk masuk kedalam .." lapor maid itu sambil menunjukkan wajahnya.
Dengan rasa panik, Nency berjalan cepat menuju lantai 2 kamar Naya. Namun ia sangat terkejut saat menatap tubuh anakknya sedang terbaring pucat diranjangnya.
"Nayaa .. !! Astaga nak, apa yang terjadi denganmu .." paniknya segera menghampiri dan mendekap tubuhnya.
"Mamaa .. aku baik-baik saja ,, " lirihnya sambil menyentuh tangan Nency yang ada diwajahnya.
"Aku hanya ingin dirumah ma, jangan beritahu papa soal ini aku nggak mau bikin mereka semua khawatir.." lirihnya sambil memejakan matanya.
****
__ADS_1
Di Jakarta, Nevan masih terlihat berkutat didepan mejanya. Sepeninggal Naya serta ancaman dari Raharjo membuat Nevan ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Sandra dan orang yang ada dibelakang Sandra yang berniat menghancurkan dirinya.
Ken sebenarnya merasa kasihan saat melihat Nevan yang terus bekerja keras hingga tak memperdulikan dirinya sendiri lagi, kalau bukan Ken yang sering mengingatkan dirinya untuk makan makan Nevan juga tidak akan ingat kalau ia juga belum makan. Ingin rasanya ia membantunya namun ia tak bisa melawan apa yang sudah papanya rencanakan.
"Van .. " Ken masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk namun ia terkejut saat melihat wajah pucat dari adiknya.
"Astaga !! loe gila ya !!" seru Ken marah mencengkeram kerah baju Nevan.
"Kita kerumah sakit sekarang .." menarik tangan Nevan paksa namun dihempas begitu saja oleh Nevan.
"Gak ada waktu buat gue bermain-main sekarang Ken! gue harus cepat selesain masalah gue masa Sandra!! gue harua tau siapa dibalik dia biar gue bisa segera bertemu istri gue!!" kembali berkutat dengan laptopnya.
"Loe gila!! loe udah kayak mayat hidup gini masih aja mikirin kerjaan!! loe ikut gue!!" menyeret paksa tubuh Nevan hingga menjauhi meja kerjanya, namun segera ditepis oleh Nevan saat Ken mendekati pintu.
__ADS_1
"Loe nggak tau gimana rasanya jadi gue!! disaat loe sadar dengan cinta yang loe miliki buat istri loe tapi loe malah dipisahin begitu saja. Kalo gue hanya diam gue hanya akan teringat dengan Naya dan gue nggak .. nggak .." tak mampu melanjutkan ucapannya, tubuh kekarnya luruh kebawah namun segera ditangkap oleh Ken.
"Nevan bangun!! brengsek loe!!" kesalnya sambil menggendong tubuh Nevan dipunggungnya.