
Seakan terpaku pada pandangannya, baik Ken maupun Nevan tak memperhatikan tatapan bingung dari Joy client nya.
"Apa anda mengenal sekretaris saya tuan??" tanyanya penuh ragu.
"Dia teman lama kita tuan Joy." sahut Ken sembari tersenyum mencoba mencairkan suasana.
Meeting berjalan lancar, namun sedari tadi mata Nevan tak lepas memandangi Sandra didepannya begitu juga sebaliknya.
"Terima kasih atas waktunya tuan Nevan, saya sangat senang sekali dengan kerja sama kita. " saling berjabat tangan
"Begitu juga kami tuan, kami akan berusaha memberikan hasil terbaik." yakinnya penuh semangat.
Mereka pergi dengan jalan masing-masing meninggalkan restouran tempat mereka singgah makan.
"Loe kepikiran sama Sandra ?" tanya Ken yang terua saja melirik Nevan dibelakangnya
"Hm .. " singkatnya membuat Ken mendengus sebal
"Loe harus ingat Van, ada Naya sekarang yang harus loe jaga perasaannya."
"Emang gue ngapain sih ? gue juga gak ngapa-ngapain kan." sewotnya
_
_
_
Kini Naya tengah menikmati makan siangnya dikantin bersama Emma yang terus saja menggerutu.
"Gak capek tu mulut ngoceh mulu ??" ucapnya memasukan satu suapan kedalam mulutnya
"Gue tu kesel banget tau gak sama tu si assisten Ken , coba loe bayangin tiap kita ketemu pasti aja berantem. Heran deh gue .." melipat kedua tangannya diatas meja
"Tanda jodoh kali." asalnya tanpa memandang Emma
"Mulut loe belum pernah kemasukan sambel bawang ??" menunjukkan ekspresi kesalnya .
__ADS_1
Namun tiba-tiba saja tawa Naya hilang saat ia merasakan sakit dikepalanya, juga rasa mual yang menyergapnya.
"Loe kenapa Nay ?? loe sakit ya ??" paniknya segera memeriksa suhu tubuh Naya.
Tanpa basa basi, Naya berlari meninggalkan Emma sendiri menuju toilet. Disana ia memuntahkan semua isi perutnya tak terkecuali makanan yang baru saja ia telan.
"Loe gapapa ?? " memijat tengkuk Naya sambil terus memandang dari kaca didepannya
"Iya gue gapapa kok, tenang aja ya. Paling juga masuk angin ini. " mencuci mulutnya yang terasa asam sehabis memuntahkan makanannya.
"Loe yakin gak mau gue temenin aja." tanya Emma saat Naya memutuskan untuk pulang
"Gue bukan anak kecil, gue cuma minta tolong ntar kasih tau kak Nevan aja. " perlahan berjalan menjauhi Emma.
-
-
Ditengah perjalanannya, ponsel milik Nevan berdering tanda panggilan masuk.
📞 " Halo .. "
Sejenak Nevan berdiam diri menunggu lanjutannya.
📞" Apa kita bisa bertemu sebentar Nevan .. ada yang ingin aku sampaikan."
📞" Dimana ??" mencoba tenang
📞" Gimana kalo ke kafe langganan kita aja, aku tunggu kamu disana."
📞" Hm .. aku segera kesana."
Saking fokusnya pada ponsel, Nevan tak menyadari jika dirinya telah sampai dikantor.
"Siapa ?? Sandra ??" tanya Ken menyelidik
"Iya."
__ADS_1
"Ngapain nelpon loe .? ngajak ketemuan .? terus loe nya mau ?? ***** !!" umpatnya kesal keluar dari mobil.
Tanpa menunggu lama, Nevan bergegas menuju kemudi meninggalkan halaman kantornya.
"Woy, Nevan !! dasar sialan!!" makinya geram melihat kepergian Nevan
"Kalo sampai Naya sama papah tau bisa habis ini si Nevan. " gerutunya sambil melangkah menuju ruangannya.
Tak sampai ia masuk kedalam ruangannya tubuhnya kembali ditabrak seseorang hingga membuatnya naik pitam.
"Mata dipakai bisa gak sih !!" bentaknya
"Maaf gak sengaja pak." santai Emma tak merasakan takut.
"Astaga!! loe lagi, ngapain disini !!" menahan amukannya
"Itu mau nyampain ijin Naya aja, tadi keruangan pak Nevan tapi beliau nggak ada."
"Naya ijin ?? ijin kenapa ??" mulai memicingkan matanya
"Sakit dia, tadi tiba-tiba waktu makan dia muntah-muntah sampai pucat."
Ken membeku mendengar ucapan Emma barusan. Tubuhnya terasa kaku, bibirnya terasa keluh mengucap kata. Entah apa yang akan terjadi jika papahnya tau Nevan pergi menemui mantannya disaat istrinya sedang sakit.
,
,
,
,
,
,
Hai kakak semua, menuju part ending ya
__ADS_1
.. jangan lupa tinggalkan like komen dan vote mya..